Eksklusif: Sempat Alami Gangguan, Anak Ke-2 Artika Bicara Bahasa Alien

Artika ungkapkan bagaimana sabarnya Abbey membantu terapi kesembuhan Zoe

19 September 2019

Eksklusif Sempat Alami Gangguan, Anak Ke-2 Artika Bicara Bahasa Alien
Popmama.com/Michael Andrew

Menurut ilmu psikologi, anak yang mengalami gangguan bahasa memiliki kesulitan untuk mengekspresikan diri dan kesulitan untuk mengerti apa yang dibicarakan oleh orang lain.

Hal ini tidak berhubungan dengan masalah pendengaran. Kelainan berbahasa, yang lebih dikenal dengan gangguan berbahasa reseptif-ekspresif merupakan hal yang umum terjadi di kalangan anak-anak.

Gangguan ini timbul pada 10-15 persen anak yang berada di bawah usia 3 tahun. Pada usia 4 tahun, kemampuan berbahasa pada umumnya lebih stabil dan bisa dilihat dengan lebih akurat lagi untuk memastikan apakah masih ada kekurangannya ataukah tidak.

Anak-anak yang mengalami gangguan bahasa ekspresif akan mengalami kesulitan untuk mengekspresikan dirinya melalui pembicaraan, tulisan ataupun gestur.

Beberapa anak memang terlambat untuk mencapai titik perkembangan bahasa mereka dalam tiga tahun pertama, namun pada akhirnya mereka akan mengejar ketertinggalannya.

Hal tersebut juga ternyata dialami oleh anak dari pasangan selebriti, Artika Sari Devi dan Baim. Putri kedua mereka yang bernama Dayana Zoelie Ibrahim atau yang biasa dipanggil Zoe ini ternyata memiliki gangguan bahasa dan ekspresi sejak ia berusia 3 tahun.

Mengetahui hal tersebut, Artika, Baim, dan anak pertama mereka, Sarah Abiela Ibrahim atau Abbey pun bersama-sama membantu Zoe untuk melakukan terapi hingga akhirnya kini ia bisa mengejar ketertinggalannya.

Berkesempatan untuk mewawancarai Mama dari 2 orang anak sekaligus mantan Puteri Indonesia yang satu ini, berikut Popmama.com telah merangkum beberapa fakta menariknya.

1. Pertama kali mengetahui Zoe mengalami gangguan bahasa dan ekspresi

1. Pertama kali mengetahui Zoe mengalami gangguan bahasa ekspresi
Popmama.com/Michael Andrew

Sebagai seorang Mama yang saat itu juga bekerja hingga larut malam, Artika mengaku bahwa ia sempat tak menyadari bahwa putri keduanya tersebut mengalami gangguan bahasa dan ekspresi.

Artika menjelaskan bahwa pertama kali ia mengetahui bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan Zoe adalah ketika dirinya harus dipanggil oleh guru anak keduanya itu di sekolah.

"Awalnya tahu tuh gurunya di sekolah yang ngasih tahu kok kalau ditanya Zoe nggak jawab, terus nggak mau ngeliat mata. Tapi kalau sama kita di rumah nggak masalah ya paling cuma bahasanya nggak jelas saja," ungkap Artika.

Ia juga menambahkan bahwa saat mengalami gangguan bahasa dan ekspresi, Zoe masih berusia 3 tahun.

"Umur 3 tahun waktu dia mau masuk sekolah pre-school di saat anak-anak lain udah bisa ngomong panjang, tapi dia belum. Dia juga sebenarnya bisa ngomong panjang tapi cuma sama saya saja, kalau sama yang lainnya khususnya di sekolah tuh dia nggak mau," ungkap Artika.

Selain sulit berkomunikasi, guru Zoe juga mengatakan bahwa putri kecil Artika dan Baim tersebut mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan anak-anak lainnya di sekolah.

"Di sekolah dulu dia nggak bisa ngebaur sama temannya, jadi cuma diam aja nggak mau berinteraksi. Pertama kali dia bisa berbicara dengan kata-kata yang panjang itu adalah wasoweketeisawaluwa jadi kita bikinin itu jadi judul lagu gitu," ujar Artika lagi.

"Setelah saya lihat itu apa maknyanya, ternyata intinya dia suka banget kalau lagi hujan lihat jendela terus lihat air hujan turun sampai berhenti sambil cerita-cerita," tambahnya.

Kalimat unik tersebut juga diketahui sebagai bahasa 'alien' yang seringkali diucapkan oleh Zoe hingga akhirnya dibuat sebagai closing lagu Pelangi Usai Hujan.

"Dari kecil itu dia suka banget sama alien, dari umur dia 2 tahunan. Awalnya mungkin tau dari kakaknya karena mereka suka saling cerita dan dia dengerin. Dia percaya juga kalau ada pelangi itu bakal ada alien turun," ungkapnya sambil tertawa.

Meski dulu sempat mengalami gangguan bahasa dan ekspresi hingga membuat Artika merasa bersalah pada dirinya sendiri, namun kini Zoe sudah jauh berkembang.

"Ketika dia marah tuh sebenarnya sayang senang banget, karena dia sudah bisa nunjukin ekspresi dan perasaannya dia," ujar Artika.

"Dulu psikolognya bilang dia ada hambatan di ekpresi dan bahasanya, jadi kalau sedih tuh dia nggak tahu ngungkapin sedihnya karena apa, lagi happy tuh happy-nya karena apa. Sampai sekarang tuh kita masih harus jelasin ke dia, kalau marah kita harus bantu jelasin kenapa, marahnya sama siapa, penyebabnya apa, apa yang dirasain. Jadi memang penting bagi kita untuk bicara dari hati ke hati dan membiarkan dia untuk berusaha mengutarakan apapun isi hatinya," jelasnya.

Berbanding terbalik dengan saat ini, dulu Artika mengaku bahwa dirinya sangat kesulitan menanggapi apa yang Zoe rasakan saat itu.

"Dia dulu tuh sensitif tapi nggak bisa jelasin alasannya kenapa. Pernah waktu itu dia nangis saat dengar lagu-lagu yang sedih, baik bahasa Inggris atau bahasa apapun yang bahkan dia nggak tahu artinya. Jadi waktu itu kita lagi ke sebuah toko di Hongkong, terus di dalam toko itu nyetel lagu-lagu sedih bahasa Hongkong. Terus dia nangis nggak berhenti-berhenti," kenang Artika.

Editors' Picks

2. Cara ajaib Abbey yang ternyata ampuh optimalkan terapi Zoe

2. Cara ajaib Abbey ternyata ampuh optimalkan terapi Zoe
Popmama.com/Michael Andrew

Saat mengetahui Zoe mengalami gangguan bahasa dan ekspresi, Artika pun langsung membawanya ke psikolog untuk melakukan terapi selama 1 tahun.

Tak hanya itu, sebelum akhirnya Zoe bisa berbicara dengan lancar, Artika juga mengungkapkan bahwa ternyata ada peran besar dari anak pertamanya, Abbey.

"Dia akhirnya bisa lancar berkata-kata itu saat kita putuskan untuk stop terapinya dan banyakin waktu untuk bicara sama dia sampai saya berhenti syuting untuk membantu dia lancar berbicara, " jelas Artika.

"Abbey itu sangat luar biasa, dia sampai bilang 'Mama kalau nggak sempat nganterin aku kesana kemari, yaudah aku stop dulu deh jadi kita urusin adek dulu deh' gitu. Jadi terapi tuh dibantuin sama Abbey juga," kenangnya.

Istri dari Baim tersebut juga mengatakan bahwa terkadang Abbey memiliki cara unik sendiri dalam membujuk adik kesayangannya.

"Abbey tuh bersemangat banget, kadang-kadang caranya memang ajaib. Waktu itu saya minta tolong Abbey buat ajak Zoe masuk ke kamar untuk belajar karena saya ajak Zoe dia nggak mau, terus akhirnya dipancing sama Abbey tuh biskuit dipotek satu-satu sampai menuju kamarnya. Sampai dalem kamar dia juga nurut sama Abbey, diajarinnya juga sama Abbey," katanya. 

Saat ditanya bagaimana cara Artika membuat Abbey sedewasa ini dalam menghadapi apa yang dialami sang Adik, beginilah jawaban Artika.

"Cara bikin Abbey dewasa dan bisa ngemong adeknya ya dengan cara ngomong dari hati ke hati. Saya pernah ajak Abbey curhat saat saya dipanggil sama gurunya Zoe, terus dia bilang 'i think she is perfect, kita udah bantu Zoe untuk bikin Zoe jadi anak yang hebat jadi Mama nggak perlu khawatir. Nanti dia belajar sama aku aja' terus akhirnya memang dia yang rajin ngajarin adeknya," jelas Artika.

Meski kini perkembangan Zoe sudah jauh lebih baik, namun saat itu Artika sempat mengaku menyesal atas kelalaiannya selama ini hingga membuat putri keduanya tersebut mengalami gangguan bahasa dan ekspresi.

"Ya mungkin ini bagian dari kelalaian saya yang waktu itu lagi sibuk-sibuknya syuting dari pagi sampai sore, ketemu dia tuh cuma sore sampai malam. Ada sekitar 1 tahunan lah, tapi ternyata 1 tahun itu sangat berpengaruh untuk stimulasi dia," sesalnya.

"Ditambah lagi menurut psikolog dia juga ada bingung bahasa, di rumah tuh ada bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Akhirnya kita sepakat kalau ada Zoe kita pakai bahasa Indonesia dulu aja deh," jelas Artika.

Saat mulai menjalankan terapi, Artika merasa seminggu sekali merupakan waktu yang amat sedikit untuk bisa menstimulasi anaknya tersebut. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk break syuting guna mengurus Zoe sepenuhnya.

"Meskipun terapi itu cuma seminggu sekali, tapi di rumah itu saya terapi terus jadi bantuan terapi untuk socio integracy itu saya lakuin terus. Terus kita bikin report ke psikolognya untuk update perkembangannya dibantu sama Abbey juga. Kita juga banyakin kegiatan di luar ruangan dan yang paling membawa pengaruh besar adalah waktu kita bawa dia liburan ke Jepang. Di situ dia mulai banyak berkata-kata, mulai kebuka aja gitu yang selama ini kesumbat. Tiba-tiba dia lebih lepas, bisa kasih tahu, pokoknya progress yang luar biasa," jelas Artika.

3. Penyebab gangguan bahasa dan ekspresi yang Zoe alami

3. Penyebab gangguan bahasa ekspresi Zoe alami
Popmama.com/Michael Andrew

Menurut psikolog yang menangani Zoe, penyebab gangguan bahasa dan ekspresi yang dialaminya ternyata karena Zoe pernah meloncati tahapan tumbuh kembangnya saat masih bayi.

"Ternyata setelah di lihat-lihat gerak anak itu juga berpengaruh, pas Zoe bayi itu dia sempat skip merangkak. Jadi merangkak itu juga berhubungan sama kordinasi otak kanan dan kirinya. Kemudian merangkak itu juga kan sebenarnya dia pertama kali mengkoordinasikan gerakan tubuhnya dan itu bagus banget buat perkembangan otak anak," ungkap Artika.

"Jadi waktu itu Zoe dari telungkup, berdiri, terus jalan. Kita skip di merangkaknya. Makanya pas di sekolah juga dia nggak nyaman kalau lagi duduk bersila di bawah karena tulang belakangnya belum cukup kuat sebenarnya. Jadi pesan buat Mama-mama yang punya balita jangan skip dan jangan happy kalau anaknya langsung bisa jalan, tapi ngikutin aja fase pertumbuhannya," jelasnya lagi.

Selain distimulasi oleh psikolog dan melakukan stimulasi sendiri di rumah, Artika juga mengaku bahwa dirinya sempat membawa Zoe ke kelas gym untuk mengoptimalkan motorik dan fokusnya.

"Kita juga sempat masukin dia di kelas gym, dan itu dia sangat luar biasa progresnya. Anak ini kan memang adaptasi ke lingkungan baru agak susah, di ajak ke pesta anak-anak itu berapa kali nggak pernah mau masuk, suara yang terlalu kencang juga dia nggak mau masuk. Nah, tujuan saya bawa dia ke sekolah gym itu supaya dia bisa lebih fokus karena kan fokusnya dia pendek. Untuk membantu agar fokusnya lebih panjang ya harus diajak untuk bergerak, contohnya dengan berenang, terus kelas gym," jelas Artika.

"Awalnya itu saya nunggu dia sampai 7 hari. Pertama kali ikutan dia itu takut, denger musik juga takut tapi saya nggak pernah mau maksa meskipun hari pertama dia cuma mau duduk di depan office-nya. Terus pas pulangnya saya bilang besok kita ke sana lagi ya, tapi Mama minta besok Zoe masuk ke dalam, nggak apa-apa nggak mau ikutan kita nonton aja dari luar terus dia nggak jawab tapi saya tetap datang aja ke sana nggak boleh sampai skip biar dia disiplin," kenangnya.

"Besoknya saya ajak dia mau masuk lebih dalem lagi tapi nggak mau duduk. Terus saya joget-joget, dan memang dasarnya dia anak kinestetik suka goyang suka joget tapi karena rame dia jadi insecure. Terus saya bilang 'apa yang buat Zoe takut di sini?' terus dia jawab 'aku nggak suka musik' terus aku jawab 'kenapa? itukan lagunya Zoe' dia jawab lagi 'keras, kenceng' terus saya jawab 'berarti kalau lagunya dipelanin, Zoe mau?' dia nggak jawab," imbuhnya lagi.

"Besoknya lagi dia udah mulai mau lihat depan kaca, besoknya lagi udah mau masuk tapi cuma berdiri nggak mau joget, besoknya lagi mau masuk dan mau gerak sedikit tapi nggak join di kelas, sampai akhirnya dia mau ikut join dan dia dapet best performer untuk season summer," cerita Artika bangga.

Meski sempat mengalami kesulitan di minggu pertama, namun kini Artika mengaku puas karena ia telah berusaha melakukan yang terbaik untuk kesembuhan anak keduanya tersebut.

"Sabar itu memang nggak ada ujungnya. Waktu itu Papanya sempat bilang 'yaudahlah nggak usah di paksain' tapi aku tetap nggak bisa nyerah gitu aja karena itu sebenarnya potensi yang bagus mengingat bahwa Zoe suka musik. Sekarang kalau gabung di kelas maunya di depan, terus dia dapet 2 kali best performer padahal awalnya susah banget," tutupnya dengan bangga.

Nah, itulah ketiga informasi menarik seputar perjuangan Artika dan anak pertamanya, Abbey dalam membantu Zoe melakukan terapi.

Sangat menginspirasi, bukan?

Hebat dan patut dicontoh!

#MillennialMama of the Month Edisi September 2019 – Artika Sari Devi

Production - Popmama.com 
Editor in Chief - Sandra Ratnasari
Fashion & Beauty Editor - Onic Metheany  
Fashion Stylist – Onic Metheany, Sarrah Ulfah
Asst. Stylist - Jemima Karyssa Rompies
Reporter – Sarrah Ulfah,  FX Dimas Prasetyo
Social Media - Sekar Retno Ayu
Photographer - Michael Andrew
Videographer - Agustinus Amanda Susanto
Art Designer – Astika Alivia Pramesti
Makeup & Hair Do – Linda Kusumadewi
Artika's Wardrobe - KASYFU by Az Zahra Wa'ani, Eat Me Luck by Nandia Elizabeth Rumilda T, Sembuames by Prima Cipta Rizki, Flickryx by Lia Rizka Amalia
Abbey's Wardrobe - Justice Indonesia

Baca juga:

#MillennialMama of the Month

Artika Sari Devi
Millennial Mama

Artika Sari Devi

Komunitas buat hidup saya lebih produktif dan berwarna

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!