Saat Anak Tantrum, 5 Perilaku Ini Menandakan Adanya Gangguan Mental

Beberapa anak mungkin sering mengamuk secara berlebihan

1 Maret 2020

Saat Anak Tantrum, 5 Perilaku Ini Menandakan Ada Gangguan Mental
Freepik/yupachingping

Tantrum adalah keadaan di mana seorang anak meluapkan emosinya dengan cara menangis yang berlebihan, berguling-guling di lantai, hingga melempar barang.

Namun perlu diketahui, amukannya itu bagian dari normal atau tidaknya dari perkembangan anak.

Dilansir dari Kids Health.org, tantrum berkisar pada anak laki-laki dan perempuan yang biasa terjadi antara usia 1-3 tahun. Begitulah cara anak kecil menunjukkan bahwa mereka kesal atau frustrasi saat ia lelah, lapar dan merasa tidak nyaman.

Sayangnya ada beberapa kebiasaan tantrum yang harus diwaspadai sebagai gangguan kejiwaan seperti disruptive mood dysregulation disorder (DMDD), attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), bipolar maupun depresi.

Saat anak tantrum, 5 perilaku ini menandakan adanya gangguan mental. Berikut rangkumannya dari Popmama.com:

1. Durasi tantrum yang dialami anak dari batas normal

1. Durasi tantrum dialami anak dari batas normal
Pixabay/Free-Photos

Pasti ketika anak tantrum selama lima menit saja, bisa terasa seperti sejuta tahun bagi orangtua.

Raising Children.net.au menjelaskan, kemarahan anak yang parah akan menyulitkan keluarga untuk menikmati hidup. Sebaiknya pikirkan cara pendekatan dan berbicara dengan profesional kesehatan anak jika menemukan kemarahannya sulit untuk dikelola.

Orangtua bisa menemui dokter saat mereka sering kali tantrum dengan durasi lebih dari 25 menit. Sementara durasi rata-rata tantrum anak balita normalnya adalah 11 menit.

Tetapi anak-anak yang secara konsisten mengamuk yang bertahan lebih dari 25 menit dan 90% berulah dari waktu, mungkin memiliki masalah mendasar pada kesehatan mentalnya.

2. Frekuensi tantrum terjadi lebih dari sekali dalam satu bulan

2. Frekuensi tantrum terjadi lebih dari sekali dalam satu bulan
Pixabay/webandi

Saat mood anak balita sedang tidak baik, tantrum sebanyak 1 kali dalam sehari saat sedang di rumah masih bisa dianggap wajar.

Tapi jika frekuensi tantrum tersebut terjadi lebih dari itu dalam periode satu bulan, maka kemungkinan mereka memiliki risiko lebih besar mengalami ADHD atau gangguan kesehatan mental lainnya.

Huffpost.com mengungkapkan, dapat dikatakan bahwa perilaku tantrum anak dari batas normal ialah apabila terjadi cukup sering selama 4-6 hari per minggu atau lebih.

Ya, anak-anak pra-sekolah yang memiliki 10 hingga 20 kali tantrum sebulan di rumah bisa berisiko mengalami masalah kejiwaan yang serius.

Jadi pastikan kondisi kesehatan mentalnya, cobalah meminta psikolog anak untuk melakukan evaluasi lebih mendalam.

Editors' Picks

3. Anak tidak bisa menenangkan diri sendiri

3. Anak tidak bisa menenangkan diri sendiri
Pixabay/PublicDomainPictures

Ada lima tanda bahwa anak balita mengamuk mungkin menandakan gangguan kejiwaan yang mendasarinya. Salah satunya ialah saat ia mengalami tantrum yang tidak kunjung reda.

Ketidakmampuan untuk menenangkan diri sendiri inilah yang membutuhkan semacam kekuatan eksternal untuk meredakannya.

Drgreene.com mengidentifikasi, gaya tantrum anak usia di atas 3 tahun memiliki risiko tinggi dan layak dievaluasi lebih lanjut oleh spesialis kesehatan mental. Di mana jika anak tidak bisa menenangkan diri dan orangtua pun tidak bisa menghentikan amukannya.

Padahal secara umum, anak balita seharusnya sudah mampu menenangkan diri sendiri.

Namun apabila ia tidak bisa menenangkan dirinya sendiri, kemungkinan dapat memiliki risiko ADHD yang lebih tinggi.

4. Bersikap agresif saat tantrum

4. Bersikap agresif saat tantrum
Pixabay/Bob_Dmyt

Waspadailah ketika seorang anak balita menunjukkan perilaku yang agresif dan dari 90% kejadian tantrum menunjukkan kebiasaan melempar barang, merusak mainan atau menyakiti orang di sekitarnya.

Belden, seorang psikolog perkembangan mengatakan kepada WebMD bahwa ada gaya mengamuk yang mengindikasikan seorang anak mungkin memiliki masalah kesehatan mental seperti agresif terhadap orang, benda atau keduanya.

Jika ini terjadi lebih dari separuh waktu dalam 10 hingga 20 kemarahan terakhir, itu mungkin menandakan gangguan yang mengganggu sang anak.

5. Menyakiti diri sendiri di kala sedang tantrum

5. Menyakiti diri sendiri kala sedang tantrum
Pixabay/aebopleidingen

Apakah kemarahan anak berada di luar batas normal?

Jika di luar durasi dan frekuensinya, kebiasaan menyakiti diri sendiri saat sedang tantrum bisa menjadi tanda bahwa mereka mengalami depresi atau gangguan perilaku.

Cbs News.com mengatakan, cobalah melihat ulahnya untuk mendapatkan diagnosis kesehatan mental anak dari dokter. Sebab anak-anak dengan depresi berat akan menggigit diri sendiri, membenturkan kepala ke dinding atau menendang benda-benda dalam upaya untuk melukai kaki mereka.

Segera bawa sang buah hati ke psikiater jika ia menunjukkan kebiasaan seperti melukai diri sendiri saat mengalami tantrum.

Waspadai 5 situasi yang sudah disebutkan tadi. Jadikan tidur siang sebagai prioritas dan segera berkonsultasi dengan psikolog anak agar bisa dilakukan evaluasi lebih lanjut. 

Baca juga: 

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.