Tanpa Emosi, Inilah 10 Cara yang Tepat untuk Mendisiplinkan Anak

Bagaimana cara mendisiplinkan anak yang baik?

20 Mei 2021

Tanpa Emosi, Inilah 10 Cara Tepat Mendisiplinkan Anak
parents.com

Sebagai orangtua, Mama dan Papa memiliki tugas untuk mengajarkan anak berperilaku baik. Salah satunya yaitu sikap disiplin, di mana anak-anak harus mematuhi dan menghargai segala peraturan yang berlaku. 

Pekerjaan ini bisa jadi membutuhan banyak kesabaran dan waktu yang lama. Namun, dengan menggunakan strategi disiplin yang efektif dan sehat akan sangat membantu Mama dan Papa dalam mendidik anak menjadi sosok yang disiplin. 

Berikut ini, Popmama.com telah merangkum 10 cara yang tepat untuk mendisiplinkan anak tanpa emosi. Simak yuk, Ma! 

1. Selalu tunjukkan perilaku baik pada anak

1. Selalu tunjukkan perilaku baik anak
Freepik

Di usia yang masih muda, anak-anak masih memerlukan contoh untuk berperilaku dan mengambil keputusan. Anak-anak juga masih belum paham mana yang baik dan salah untuk dilakukan. 

Maka, edukasi dari orangtua sangat dibutuhkan oleh anak-anak. Hal tersebut dapat diajarkan melalui teori maupun praktik. 

Misal, Mama ingin anak-anak merapikan mainannya setelah digunakan, mintalah dengan nada yang tenang dan usahakan jangan berkesan memerintah. 

"Nak, setelah bermain harus dirapikan ya. Kembalikan mainan ke tempat semula. Supaya rumah terlihat rapi dan bersih. Itu juga pertanda bahwa anak mama tanggung jawab terhadap apa yang ia lakukan. Jadi, jangan lupa rapikan ya sayang."

Lalu, Mama juga harus melakukan hal yang sama. Rapikan segala peralatan yang telah Mama gunakan. Contohnya, Mama habis memasak, kembalikan pisau, talenan dan wadah-wadah bumbu masakan keempat semula. Jangan sampai bertebaran dan berantakan di dapur. 

Kedua hal tersebut teori dan praktik, sangat penting dan berkesinambungan karena anak-anak biasanya akan mengikuti apa yang ia dengar dan ia lihat. 

2. Tetapkan batasan 

2. Tetapkan batasan 
cdn2.momjunction.com

Mama dapat membuat aturan yang jelas dan konsisten agar dapat diikuti oleh anak-anak. 

Misalnya, boleh bermain handphone selama 2 jam per hari. 

Jika sudah ada batasan, Mama tidak perlu lagi memarahi anak-anak untuk mendisiplinkannya. Sebab, mereka akan berhenti saat sudah mencapai batasnya. 

Pastikan juga Mama menjelaskan tentang aturan tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak supaya mereka paham dan mematuhi batasan. 

3. Berikan konsekuensi

3. Berikan konsekuensi
freepik.com/peoplecreations

Jika anak melanggar batasan yang telah dibuat, Mama berhak memberikan konsekuensi. Jelaskan konsekuensi yang harus anak terima dengan tenang dan tegas.

Misal, anak mama tidak membereskan mainananya setelah bermain. Konsekuensinya mainan tersebut di sita  dalam waktu yang Mama tentukan, misalnya satu hari atau satu minggu. 

9. Arahkan kembali perilaku buruk   

9. Arahkan kembali perilaku buruk   
Freepik/yanalya

Terkadang anak-anak berperilaku tidak baik atau melanggar aturan karena mereka bosan atau tidak tahu harus melakukan apa. Maka, Mama harus menemukan aktivitas menarik lainnya untuk mengalihkan anak dari perilaku buruk. Contohnya, mengajak anak-anak untuk bermain game board, melakukan yoga, memasak, dan aktivitas positif lainnya. 

Editors' Picks

4. Dengarkan apa yang anak ceritakan

4. Dengarkan apa anak ceritakan
Freepik/Olganosova

Mendengarkan itu penting. Biarkan anak mama menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu sebelum Mama membantu memecahkan masalahnya. 

Jika mama mendengarkan mereka dengan baik saat bercerita, maka mereka pun akan melakukan hal yang sama jika Mama atau orang lain sedang berbicara. Dengan ini, Mama membantu menumbuhkan jiwa saling menghargai dalam diri anak.

5. Curahkan perhatian kepada anak

5. Curahkan perhatian kepada anak
Freepik/Tirachardz

Hal paling ampuh untuk mendisiplinkan anak adalah memberinya perhatian. 

Saat Mama dan Papa mencurahkan perhatian kepada anak, mereka akan merasa dipedulikan. Hal tersebut akan membuat anak menaati segala aturan yang berlaku. 

Selain itu, perhatian dari kedua orangtua akan membuat anak merasa diawasi sehingga kemungkinan untuk melanggar peraturan pun jadi lebih kecil. 

6. Apresiasi segala perbuatan anak

6. Apresiasi segala perbuatan anak
Freepik/romanticstudio

Perhatikan perilaku anak-anak mama, beri ia pujian setiap melakukan perbuatan baik.

Misalnya, 

"Wow, anak mama hebat sekali setelah bermain langsung dirapikan."

"Terima kasih ya sayang kamu selalu merapikan tempat tidur setiap bangun tidur. Anak mama terbaik!" 

Anak mama pasti akan senang mendengar pujian tersebut. Selain itu, ia pun pasti akan meningkatkan perbuatan baiknya agar dipuji kembali oleh Mama. 

7. Ketahui kapan harus bersikap pura-pura tidak tahu dan tidak menanggapi perbuatan buruk anak

7. Ketahui kapan harus bersikap pura-pura tidak tahu tidak menanggapi perbuatan buruk anak
Freepik/Marinesea

Tak semua perbuatan buruk anak harus Mama tanggapi. Mama harus tahu kapan harus mengambil tindakan atas perbutan buruk anak, kapan harus mengabaikan dan hanya memperhatikan dari kejauhan. 

Mengabaikan perilaku buruk bisa menjadi cara yang efektif untuk menghentikan anak-anak dalam melakukan hal tersebut. Selain itu, mengabaikan perilaku buruk dapat mendidik anak tentang konsekuensi alami dari tindakan mereka. 

Misalnya, jika anak mama terus menjatuhkan kuenya dengan sengaja, ia tidak akan lagi memiliki kuenya lagi untuk dimakan. Bisa juga jika dia melempar dan menghancurkan mainannya, dia tidak akan bisa memainkannya. Tidak lama kemudian anak mama akan belajar untuk tidak menjatuhkan kuenya dan bermain dengan hati-hati dengan mainannya.

Kekacauan-kekacauan yang diperbuat tersebut pada akhirnya akan menjadi pelajaran untuknya. 

8. Persiapkan suatu masalah dan biarkan anak menyelesaikannya

8. Persiapkan suatu masalah biarkan anak menyelesaikannya
Freepik/Asier-relampagoestudio

Buatlah suatu kasus atau masalah di rumah untuk diatasi oleh anak mama. Mungkin mereka akan mengalami kesulitan namun hal tersebut dapat menjadi pelajaran untuknya. 

Hal tersebut berguna sebagai persiapan anak-anak mama menghadapi suatu masalah. Selain itu, aktivitas ini dapat membantu mama membentuk perilaku anak sesuai dengan apa yang ingin Mama lihat.

10. Perlukah melakukan time-out jika anak melakukan pelanggaran?

10. Perlukah melakukan time-out jika anak melakukan pelanggaran
happyfamilies.com.au

Time-out bisa jadi salah satu cara mendisiplinkan anak ketika mereka melanggar aturan yang berlaku. Cara mendisiplinkan ini bekerja dengan baik pada sebagian orangtua.

Sebab, saat melakukan time-out anak-anak akan merenungi kesalahan yang ia perbuat. Dengan demikian, anak tidak akan mengulang kesalahan yang sama di kemudian hari. 

Selain itu, time-out pun bisa menjadi alarm untuk anak-anak sebelum mereka melanggar peraturan yang telah diterapkan lainnya.  

Setiap set waktu time-out berbeda-beda. Biasanya anak akan mendapatkan waktu time-out satu menit per tahunnya. Contohnya, anak mama berumur 5 tahun, maka ia akan mendapat waktu time-out selama 5 menit. 

Mama juga dapat meminta anak-anak berhitung sambil melakukan time-out. Namun, bisa juga dengan memasang timer di dekatnya. 

Saat Mama ingin menghukum anak dengan time-out, mintalah dengan cara setenang mungkin namun tetap tegas. Ingat ya Ma, jangan sampai berteriak atau membentaknya. Ini malah akan merusak momen time-out bagi anak.

Jika ada yang ingin disampaikan, pegang bahu anak. Bicarakan secara berhadapan dengan suara pelan. Biaca saling menatap akan lebih efektif agar anak bisa memahaminya. Jelaskan apa yang Mama inginkan sebelum anak memulai fase time-out.

Mama dapat memintanya dengan cara, "Kamu lakukan time-out dulu sekarang dan kembali saat waktu sudah selesai. Kita bicarakan kembali pelanggaran yang telah kamu buat setelah kamu merenunginya." 

Tak hanya untuk anak-anak, time-out pun merupakan cara mendisiplinkan yang baik untuk para remaja.

Itulah cara mendisiplikan anak tanpa orangtua merasa emosi. Usahakan untuk tidak menyisakan kenangan buruk pada anak ya, Ma. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.