Risiko Ruptur Uteri pada VBAC, Kenali Bahayanya bagi Mama dan Janin

VBAC memiliki risiko ruptur uteri, yakni robekan dinding rahim di area bekas operasi caesar; kasusnya kurang dari 1%, tetapi dapat menjadi komplikasi serius.
Ruptur uteri dapat memicu perdarahan hebat, syok, hingga kebutuhan histerektomi pada kasus berat, serta berpotensi mencederai organ sekitar seperti kandung kemih dan ureter.
Robekan rahim dapat mengganggu aliran oksigen ke janin dan meningkatkan risiko kematian janin; pemantauan bayi serta kesiapan operasi caesar darurat diperlukan.
Melahirkan normal setelah operasi caesar atau Vaginal Birth After Cesarean (VBAC) bisa dijadikan pertimbangan. Namun, perlu diketahui kalau ada risikonya. Salah satunya yaitu ruptur uteri atau robekan di dinding rahim, terutama area bekas sayatan operasi caesar sebelumnya.
Kondisi ini memang jarang terjadi, yaitu kurang dari 1% perempuan yang mencoba proses VBAC, menurut Mayo Clinic. Tetapi, hal ini bisa menjadi komplikasi serius yang membahayakan Mama dan si Kecil jika tidak segera ditangani.Â
Nah, apa saja, sih, bahaya ruptur uteri dan mengapa kondisi ini perlu diwaspadai saat persalinan normal setelah caesar? Berikut Popmama.com sudah rangkum penjelasannya. Yuk, simak selengkapnya!
Table of Content
Perdarahan Hebat pada Mama

Magnific.com Ruptur uteri bisa menyebabkan pendarahan hebat karena dinding rahim mengalami robekan saat persalinan. Jika tidak segera ditangani, kehilangan darah dalam jumlah yang tidak sedikit bisa menyebabkan syok dan membahayakan nyawa.Â
Dilansir dari Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG), pendarahan akibat ruptur uteri bisa mengancam nyawa, sehingga saat kondisi ini terjadi, pasien membutuhkan penanganan medis segera.
Kehilangan Fungsi Rahim (Histerektomi)

magnific.com/DC Studio Pada kasus ruptur uteri yang parah, bisa saja dianjurkan untuk menjalani histerektomi atau operasi pengangkatan rahim untuk mengendalikan pendarahan dan menyelamatkan nyawa.Â
Dilansir dari penelitian yang dipublikasikan di Science Direct, ditemukan bahwa 55,4% pasien yang mengalami ruptur uteri membutuhkan histerektomi, sedangkan 44,6% lainnya bisa menjalani operasi perbaikan rahim.Â
Namun, angka tersebut merujuk pada pasien dalam penelitian tersebut dan tidak menggambarkan risiko pada semua perempuan yang menjalani VBAC secara luas.
Kerusakan Organ Sekitar

magnific.com/pch.vector Ruptur uteri tidak hanya menyebabkan kerusakan pada rahim, lho, tetapi juga bisa memengaruhi organ di sekitar. Maka dari itu, perlu sekali penanganan segera.
Cleveland Clinic dan jurnal Medula sama-sama menyebutkan kalau robekan rahim yang meluas atau tindakan operasi darurat untuk menanganinya bisa menyebabkan cedera pada jaringan di sekitarnya. Organ yang bisa saja terdampak antara lain kandung kemih, ureter atau saluran yang membawa urine dari ginjal ke kandung kemih.
Kematian Janin

Magnific.com Ruptur uteri bisa mengganggu aliran oksigen menuju bayi sehingga meningkatkan risiko komplikasi yang bisa menyebabkan kematian janin. Kondisi ini tentunya membutuhkan penanganan segera.
Dilansir dari Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG), risiko kematian bayi pada VBAC terencana tergolong rendah, yaitu sekitar 4 dari 10.000 kelahiran. Karena itu, pemantauan kondisi bayi dan kesiapan melakukan operasi caesar darurat sangatlah penting.
Nah, jadi ruptur uteri merupakan komplikasi serius yang perlu diwaspadai saat merencanakan persalinan normal setelah caesar, ya, Ma.Â
Meski risikonya tergolong rendah, kondisi ini bisa membahayakan Mama dan bayi, sehingga membutuhkan penanganan segera dan rekomendasi terbaik dari dokter.






















