“Pernah keguguran, sebenarnya tidak ada indikasi atau kewajiban bahwa kehamilan berikutnya itu harus caesar. Ini sepertinya adalah mitos atau misinformasi di masyarakat,” kata dr. Kevin D Tjandraprawira, Sp.OG, M.Sc, MRCOG, melansir dari unggahannya di Instagram @kevintjandraprawira.
Pernah Keguguran, Benarkah Kehamilan Selanjutnya Harus Melahirkan secara Caesar?

- Riwayat keguguran tidak otomatis membuat ibu hamil harus melahirkan dengan operasi caesar, karena keputusan persalinan ditentukan berdasarkan kondisi medis saat kehamilan berlangsung.
- Kebanyakan perempuan yang pernah mengalami satu kali keguguran tetap memiliki peluang besar untuk menjalani kehamilan berikutnya secara normal dan sehat jika tidak ada komplikasi medis.
- Operasi caesar hanya disarankan bila terdapat indikasi medis seperti posisi bayi sungsang, plasenta previa, atau gawat janin; bukan semata karena riwayat keguguran sebelumnya.
Mengalami keguguran tentu menjadi pengalaman yang berat bagi banyak perempuan. Tak hanya meninggalkan kesedihan, kondisi ini juga sering memunculkan berbagai pertanyaan terkait kehamilan berikutnya.
Salah satu anggapan yang cukup sering terdengar di masyarakat adalah bahwa perempuan yang pernah mengalami keguguran harus melahirkan dengan operasi caesar pada kehamilan selanjutnya.
Simak pembahasan selengkapnya telah Popmama.com siapkan melansir dari berbagai sumber.
Table of Content
1. Riwayat keguguran tidak membuat ibu hamil wajib menjalani operasi caesar
Masih banyak orang yang beranggapan bahwa perempuan dengan riwayat keguguran tidak boleh menjalani persalinan normal pada kehamilan berikutnya. Faktanya, tidak ada aturan medis yang menyebutkan bahwa riwayat keguguran menjadi alasan wajib untuk melahirkan secara caesar.
Anggapan tersebut lebih tepat disebut sebagai mitos atau kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat. Penentuan metode persalinan tetap harus didasarkan pada kondisi kehamilan saat ini, bukan semata-mata karena pernah mengalami keguguran di masa lalu.
Dengan kata lain, apabila kondisi ibu hamil dan janin sehat sampai menjelang persalinan, peluang untuk melahirkan secara normal tetap bisa dilakukan. Biasanya, dokter akan mempertimbangkan berbagai faktor medis sebelum menentukan metode persalinan yang paling aman.
2. Sebagian besar kehamilan setelah satu kali keguguran dapat berjalan normal

Keguguran sekali yang pernah dialami Mama tidak selalu menjadi pertanda bahwa kehamilan berikutnya akan mengalami masalah yang sama. Kehamilan berikutnya ditentukan dengan kondisi tubuh dan bagaimana Mama menjalaninya pada saat itu.
Selama tidak ditemukan gangguan tertentu yang dapat memengaruhi perkembangan janin, maka kehamilan bisa tetap berjalan lancar dan sehat.
“Pada pasien-pasien yang usia 30-an, kalau sampai ada keguguran dengan catatan keguguran baru sekali, kehamilan selanjutnya 80% kemungkinan sebenarnya kehamilan akan baik-baik saja,” ujar dr. Kevin.
Keputusan ibu hamil untuk menjalani operasi caesar sebaiknya tidak didasarkan pada riwayat keguguran saja, melainkan pada evaluasi medis yang menyeluruh.
“Dengan catatan kehamilannya tidak ada masalah dari otak plasenta, dari ukuran bayinya. Harusnya akan bisa lahiran normal. Tidak ada kewajiban, jadi harus lahir caesar sebenarnya tidak sih,” lanjutnya.
3. Operasi caesar ditentukan oleh kondisi medis saat kehamilan dan persalinan

Keputusan untuk menjalani operasi caesar umumnya dibuat berdasarkan kondisi kesehatan Mama dan janin selama kehamilan maupun menjelang persalinan.
Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan metode persalinan yang paling aman bagi keduanya. Beberapa kondisi yang dapat menjadi indikasi operasi caesar antara lain:
- Posisi bayi sungsang
- Plasenta previa
- Gawat janin
- Ukuran bayi yang terlalu besar
- Adanya komplikasi tertentu pada ibu hamil
Karena itu, riwayat keguguran bukanlah satu-satunya faktor yang dipertimbangkan dalam menentukan metode persalinan.
4. Hal yang perlu dipersiapkan sebelum merencanakan kehamilan setelah keguguran

Mengalami keguguran tidak berarti Mama harus menunda impian untuk memiliki buah hati. Namun, sebelum kembali merencanakan kehamilan, penting untuk memastikan kondisi fisik dan emosional sudah pulih dengan baik.
Dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan rahim dan organ reproduksi berada dalam kondisi optimal.
Selain itu, menjaga pola makan bergizi, mengonsumsi asam folat, berolahraga secara teratur, serta mengelola stres juga dapat membantu mempersiapkan tubuh untuk kehamilan berikutnya.
Bagi sebagian perempuan, proses pemulihan emosional setelah keguguran membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Karena itu, tidak ada salahnya memberi ruang bagi diri sendiri untuk pulih sebelum kembali menjalani program kehamilan.
Dengan persiapan yang matang dan pendampingan dokter, peluang untuk menjalani kehamilan yang sehat tetap terbuka lebar. Langkah ini juga dapat membantu Mama merasa lebih tenang dan percaya diri saat menyambut kehamilan berikutnya.


















