Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Sleep Training pada Bayi? Ini Penjelasannya
Pexels/CAMERA TREASURE
  • Sleep training membantu bayi belajar tertidur dan kembali tidur sendiri melalui rutinitas konsisten serta kemampuan menenangkan diri, tanpa berarti dibiarkan menangis tanpa pengawasan.
  • Umumnya sleep training mulai dipertimbangkan saat bayi berusia 4–6 bulan setelah ritme biologis berkembang; kesiapan tiap bayi berbeda sehingga konsultasi dokter anak dianjurkan.
  • Metodenya meliputi extinction, Ferber, kursi, dan fading, dengan durasi bervariasi; orangtua perlu konsisten, mengenali sinyal bayi, serta menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan dan kenyamanan bayi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sleep training itu cara mengajari bayi tidur sendiri. Mama dan Papa membuat kebiasaan sebelum tidur. Bayi belajar tenang tanpa selalu digendong atau disusui. Ini biasanya bisa dimulai saat bayi umur 4 sampai 6 bulan. Ada banyak cara, dan orangtua tetap harus melihat kebutuhan bayi. Kalau ragu, bisa tanya dokter anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tiap malam Mama sering terbangun karena bayi mama rewel dan susah tidur sendiri? Situasi ini pasti bikin lelah, apalagi kalau berlangsung lama. Banyak orangtua akhirnya mencoba metode bernama sleep training untuk membantu si Kecil tidur lebih nyenyak dan mandiri.

Istilah ini mungkin sudah sering Mama dengar dari obrolan sesama orangtua atau media sosial. Tapi, sebenarnya apa itu sleep training dan amankah dilakukan pada si Kecil? 

Untuk menjawab rasa penasaran Mama tentang sleep training, berikut Popmama.com mengulas apa itu sleep training? Yuk, simak sampai habis!

Apa Itu Sleep Training?

Pexels/Nothing Ahead

Sleep training pada dasarnya adalah proses membantu si Kecil belajar tidur dan kembali tidur sendiri tanpa bantuan orang lain. 

Menurut laman kesehatan Sleep Foundation, sleep training biasanya melibatkan rutinitas menjelang tidur yang konsisten, lalu secara bertahap mengajarkan bayi menenangkan diri sendiri tanpa perlu digendong, disusui, atau ditimang hingga terlelap.

Mengutip Cleveland Clinic, tujuan utama sleep training adalah membuat si Kecil percaya bahwa dirinya mampu tertidur sendiri. 

Jadi, bukan berarti Mama membiarkan bayi menangis tanpa pengawasan sama sekali, melainkan melatih kemampuannya untuk self-soothing atau menenangkan diri sendiri.

Sederhananya, sleep training adalah "sekolah tidur" mini untuk bayi mama agar ia bisa lebih mandiri saat waktunya beristirahat, sekaligus membantu Mama dan Papa mendapatkan waktu tidur yang lebih berkualitas di malam hari.

Kapan Waktu Tepat Memulai Sleep Training?

Pexels/the Amritdev

Pertanyaan ini paling sering muncul di benak para orangtua baru. Menurut Sleep Foundation, bayi umumnya belum siap menjalani sleep training sebelum usia 4-6 bulan karena ritme sirkadian atau jam biologis tubuhnya belum terbentuk sempurna.

Melansir The Mother Baby Center, waktu ideal untuk memulai sleep training biasanya setelah trimester keempat, yaitu di rentang usia 4-6 bulan.

Pada usia 4 bulan, kebanyakan bayi sudah bisa tidur selama 6 jam di antara waktu menyusu, dan menjelang usia 6 bulan, banyak di antaranya yang sudah bisa tidur sepanjang malam.

Meski begitu, setiap bayi memiliki perkembangan yang berbeda-beda, Ma. Jadi, tidak ada salahnya berkonsultasi dulu dengan dokter anak untuk memastikan si Kecil benar-benar siap sebelum Mama mulai menerapkan sleep training.

Apa Saja Metode yang Bisa Dilakukan untuk Sleep Training?

Pexels/upender photography

Ada beberapa metode sleep training yang populer digunakan, mulai dari yang paling lembut hingga yang lebih terstruktur. Mama bisa memilih salah satu atau mengombinasikannya sesuai karakter si Kecil.

  1. Metode Extinction (Cry It Out)
    Metode ini dilakukan dengan cara meletakkan bayi di tempat tidur dalam keadaan mengantuk, lalu membiarkannya menangis hingga tertidur sendiri. Menurut Newton Baby, metode ini dianggap cepat hasilnya, tetapi juga paling menantang secara emosional bagi orangtua.

  2. Metode Ferber (Graduated Extinction)
    Dikembangkan oleh dr. Richard Ferber, metode ini membiarkan si Kecil menangis dalam interval waktu tertentu sebelum Mama menghampiri untuk menenangkannya tanpa menggendong. Melansir Cleveland Clinic, Waktunya akan semakin panjang setiap harinya hingga bayi terbiasa menenangkan diri sendiri.

  3. Metode Kursi (Chair Method)
    Mama duduk di kursi dekat tempat tidur si Kecil sampai ia tertidur, lalu setiap malam kursi digeser sedikit demi sedikit menjauhi tempat tidur. Mengutip The Mother Baby Center, metode ini cocok untuk Mama yang ingin tetap berada di dekat bayi selama proses sleep training berlangsung.

  4. Metode Fading
    Metode ini dilakukan dengan mengurangi bantuan secara bertahap, seperti memperpendek durasi menimang atau menyusui sebelum tidur setiap malam. Mengutip The Mother Baby Center, metode fading tergolong lebih lembut karena si Kecil dibiasakan sedikit demi sedikit.

Berapa Lama Sleep Training Berlangsung?

Pexels/upender photography

Durasi sleep training sebenarnya bervariasi tergantung pada metode dan karakter bayi mama. Menurut UChicago Medicine, metode cry it out biasanya menunjukkan hasil dalam waktu 3 hingga 4 hari, sementara metode Ferber membutuhkan waktu sekitar 7 hingga 10 hari.

Untuk metode yang lebih lembut seperti chair method, prosesnya bisa memakan waktu hingga 4 minggu. Melansir The Mother Baby Center, secara umum sleep training memerlukan waktu 3 hingga 7 malam sampai si Kecil terbiasa dengan rutinitas barunya.

Jadi, kalau prosesnya terasa lebih lama dari yang Mama harapkan, tidak perlu khawatir. Konsistensi jauh lebih penting daripada kecepatan hasil yang didapat.

Manfaat Sleep Training bagi si Kecil dan Mama

Pexels/Eric Moura

Selain membantu si Kecil tidur lebih nyenyak, sleep training juga membawa banyak manfaat lain. Mengutip Sleep Foundation, bayi yang tidur dengan kualitas baik cenderung memiliki lebih sedikit masalah perkembangan dan perilaku, serta tumbuh dengan temperamen yang lebih ceria.

American Academy of Pediatrics pernah melakukan studi yang membandingkan kelompok bayi yang menjalani sleep training dan yang tidak, dan hasilnya menunjukkan manfaat signifikan bagi kedua belah pihak, baik anak maupun orangtuanya.

Ketika si Kecil bisa tidur mandiri dan lebih lama di malam hari, Mama dan Papa pun mendapat kesempatan untuk beristirahat lebih cukup. Kondisi ini tentu berpengaruh baik pada suasana hati dan energi Mama untuk menjalani hari bersama buah hati.

Tips Melakukan Sleep Training

Pexels/Renjith Tomy Pkm

  • Kenali tanda-tanda si Kecil mulai mengantuk

Mengutip Cleveland Clinic, Mama perlu peka terhadap tanda-tanda kantuk yang ditunjukkan si Kecil, seperti menguap, mengucek mata, terlihat lebih diam, atau mulai kehilangan minat bermain. Ketika tanda-tanda tersebut mulai muncul, Mama bisa segera membantu si Kecil bersiap tidur.

Jangan menunggu sampai si Kecil terlalu lelah dan akhirnya rewel. Bayi yang sudah sangat mengantuk justru terkadang lebih sulit ditenangkan dan membutuhkan waktu lebih lama untuk terlelap.

  • Bangun rutinitas sebelum tidur

Mama bisa membuat rutinitas sederhana sebelum tidur agar si Kecil terbiasa mengenali bahwa aktivitas tersebut menjadi tanda waktunya beristirahat. Misalnya, rutinitas dapat dimulai dengan mandi, mengganti popok, dan mengenakan pakaian tidur,

Rutinitas tidak harus panjang atau rumit. Yang terpenting adalah melakukan beberapa aktivitas yang sama secara konsisten sehingga si Kecil perlahan memahami pola tersebut sebagai persiapan menuju waktu tidur.

  • Terapkan metode secara konsisten

Konsistensi menjadi salah satu hal penting ketika Mama sedang membangun kebiasaan tidur si Kecil. Jangan langsung mengganti metode hanya karena mengalami satu atau dua malam yang terasa sulit.

Si Kecil membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan pola baru. Jika Mama terlalu sering mengubah cara menidurkannya, si Kecil bisa kesulitan memahami rutinitas yang sedang dibangun. Karena itu, berikan waktu untuk melihat bagaimana responsnya.

  • Tetap perhatikan kebutuhan si Kecil

Melansir Australian Breastfeeding Association, Mama tetap perlu memperhatikan sinyal dan kebutuhan si Kecil, bukan hanya berpegang pada jadwal tidur secara kaku. Setiap bayi memiliki pola tidur dan kebutuhan yang dapat berbeda.

Mama juga tidak perlu merasa bersalah jika harus menyesuaikan rutinitas berdasarkan kondisi si Kecil. Memahami sinyal lapar, mengantuk, tidak nyaman, atau membutuhkan kedekatan dengan orangtua dapat membantu Mama menentukan respons yang sesuai.

  • Percaya pada insting sebagai orangtua

Mama juga perlu memperhatikan pengamatan terhadap si Kecil sehari-hari. Orangtua biasanya semakin mengenali kebiasaan dan sinyal bayinya setelah menghabiskan banyak waktu bersama.

Karena itu, metode tidur yang dipilih sebaiknya tetap disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan si Kecil. Tidak ada satu pendekatan yang otomatis cocok untuk semua bayi, sehingga Mama dapat melakukan penyesuaian selama tetap memperhatikan keamanan dan kenyamanan si Kecil.

  • Konsultasikan dengan dokter jika ada kekhawatiran

Jika Mama merasa ragu mengenai pola tidur si Kecil atau menemukan perilaku yang tidak biasa selama proses membangun kebiasaan tidur, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak. Terlebih jika perubahan tidur disertai tanda lain yang membuat Mama khawatir.

Nah, itulah pembahasan mengenai apa itu sleep training? Sebuah metode untuk membiasakan si Kecil tertidur yang Mama wajib ketahui dan dicoba. Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article