“Sistem pendengaran bayi masing berkembang, saluran telinga lebih kecil, sehingga frekuensi tinggi terasa lebih keras dan bayi tidak bisa menjauh sendiri dari sumber bising,” kata Dokter Denta.
Bahaya Suara Bising Bagi Bayi di Bawah 12 Bulan, Ini Desibel yang Aman

- Sistem pendengaran bayi di bawah 12 bulan masih berkembang; kebisingan dapat merusak sel rambut telinga, memicu gangguan pendengaran permanen, tinnitus, tidur terganggu, dan stres fisiologis.
- Paparan aman bagi bayi disarankan sekitar 45 desibel dan di bawah 50 desibel. Suara di atas 70 desibel perlu dihindari, sedangkan lebih dari 120 desibel berisiko menyebabkan cedera langsung.
- Orangtua perlu membatasi sumber bising seperti konser, lalu lintas, mainan keras, ponsel, dan white noise. Waspadai bayi yang tidak terkejut oleh suara keras atau tidak merespons interaksi.
Suara bising memang dapat berakibat fatal untuk pendengaran, terlebih pada bayi yang sistem pendengarannya belum sempurna karena masih dalam tahap perkembangan.
Efek paparan suara bising pada bayi bisa berlangsung dalam jangka panjang, bahkan menyebabkan kerusakan permanen, Ma. Selain berakibat fatal bagi pendengaran, suara keras yang mendadak juga dapat meningkatkan risiko SIDS (sindrom kematian mendadak) akibat terkejut.
Untuk itu, orangtua perlu bijak dalam menjaga bayi dari paparan suara bising. Para ahli juga menghimbau orangtua untuk menghindari paparan suara bising pada bayi dan mengetahui bagaimana tingkat paparan suaran yang aman pada bayi.
Simak penjelasan selengkapnya mengenai bahaya suara bising bagi bayi di bawah 12 bulan yang telah Popmama.com rangkum berikut ini. Disimak, yuk, Ma!
Table of Content
Suara Bising Merusak Pendengaran Bayi

Ilustrasi speaker dan sound system. https://unsplash.com/@afriendstudio Sistem pendengaran bayi masih dalam tahap perkembangan, sehingga paparan suara bising dapat berakibat fatal bahkan berisiko kematian. Menurut penjelasan dr. Kurniawan Satria Denta, M.Sc, Sp.A saat dihubungi Popmama.com, sistem pendengaran yang masih berkembang membuat frekuensi suara bisa terdengar lebih jelas pada bayi.
Mengutip dari Johns Hopkins Medicine, suara bising dapat merusak sel-sel rambut di telinga bagian dalam saraf pendengaran. Gangguan pendengaran akibat suara bising ini dapat terjadi secara perlahan dan berisiko permanen, Ma.
Dampak Suara Bising pada Bayi

Bayi bersuara gejala laringomalasia (Unsplash/Igordoon Primus) Kondisi bayi yang masih rentan membuat pendengarannya juga bisa terdampak akibat suara bising yang ada di sekitar bayi. Suara bising bukan hanya dari sound horeg yang belakangan viral, Ma.
Ada banyak suara di sekitar kita yang cukup bising di telinga bayi, mulai dari suara musik dari speaker, blender, hairdryer, lalu lintas, konser, bioskop, hingga acara olahraga. Sebuah studi bahkan menemukan bahwa suara mainan anak bisa mencapai 79 desibel, bahkan ada yang mencapai 90 desibel.
Dokter yang berpraktik di Mayapada Hospital Kuningan tersebut juga menambahkan bahwa suara bising dapat menyebabkan berbagai risiko kesehatan pada bayi, mulai dari:
- Gangguan pendengaran (bisa bersifat permanen)
- Tinnitus yang membuat telinga lebih sensitif
- Kualitas istirahat kurang akibat tidur terpecah
- Gangguan fisiologis (denyut nadi tidak stabil)
- Pada bayi prematur atau NICU, bising berlebih juga dikaitkan dengan gangguan tidur dan stres.
Melansir dari American Academy of Pediatrics (AAP), semakin lama paparan akan semakin berisiko bayi kehilangan pendengaran, terutama jika bayi tidak menggunakan pelindung telinga atau tidak cukup waktu bagi telinga untuk beristirahat di tengah paparan.
Batas Aman Paparan Suara untuk Bayi

ilustrasi bayi tidur di dalam stroller (pexels.com/yankrukov) Gangguan pendengaran umum terjadi pada anak-anak, remaja, dan dewasa muda menurut laporan AAP. Hal ini yang akhirnya membuat paparan suara bising dibatasi, terutama pada bayi.
Desibel suara yang aman didengarkan oleh bayi berada di bawah toleransi orang dewasa. Para ahli menyarankan bayi sebaiknya tidak mendengar suara bising lebih dari 50 desibel, AAP menyarankan paparan suara yang aman untuk bayi kurang lebih 45 desibel.
Suara di bawah 50 desibel merupakan suara yang terdengar menenangkan, sehingga lingkungan sekitar harus mengelola suara seperti televisi, peralatan rumah tangga, dan musik yang didengar masih aman jika terpapar pada bayi.
Paparan suara bising di atas 70 desibel seperti suara lalu lintas hingga suara di atas 100 desibel seperti konser musik perlu dihindari paparannya pada bayi. Sementara suara di atas 120 desibel dapat menyebabkan cedera langsung pada bayi.
Hindari Suara Bising di Sekitar Bayi

ilustrasi gendong bayi (freepik.com/Drazen Zigic) Paparan suara yang ada di rumah mungkin lebih bisa dikontrol oleh orangtua agar tidak terlalu keras untuk bayi. Tantangan untuk menjaga paparan suara pada bayi biasanya berasal dari luar rumah atau lingkungan sekitar.
Oleh karena itu, orangtua harus bijak untuk menghindari paparan suara yang berada di atas desibel yang aman untuk bayi.
Menutup penjelasannya, Dokter Denta juga memberikan beberapa tips untuk Mama dan Papa untuk menghindari paparan suara bising pada bayi, di antaranya:
- Jangan mengeraskan suara saat berbicara dengan bayi
- Jangan ajak si Kecil ke konser musik, stadion, atau area kembang api tanpa pelindung telinga khusus bayi
- Mesin white noise harus volume rendah, jarak jauh dari telinga, dan tidak semalaman
- Hindari bermain ponsel dengan suara keras
- Jangan berteriak di dekat telinga bayi
- Hindari mainan dengan suara keras atau berbunyi mendadak.
Itu dia penjelasan mengenai bahaya suara bising bagi bayi di bawah 12 bulan.
Penting untuk mengatur paparan suara yang ada di sekitar bayi, sebab dapat berakibat fatal bagi tumbuh kembang bayi, Ma.



















