Sering kehilangan jati diri setelah punya bayi menjadi hal yang kerap dirasakan Mama saat mulai menjalani peran sebagai orangtua. Kehadiran bayi membawa banyak perubahan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rutinitas, prioritas, hingga waktu yang sebelumnya digunakan untuk diri sendiri.
Kenapa Ibu Baru Sering Kehilangan Jati Diri setelah Punya Bayi?

Menjadi ibu baru bisa membuat Mama merasa kehilangan jati diri karena perubahan rutinitas, prioritas, dan waktu untuk diri sendiri.
Matrescence adalah masa transisi besar yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan identitas dan peran baru sebagai Mama.
Dukungan orang terdekat, melakukan hobi, afirmasi, atau bantuan profesional dapat membantu Mama menjalani proses tersebut.
Perubahan tersebut dapat membuat Mama merasa lebih banyak berfokus pada kebutuhan si Kecil dan perlahan mengesampingkan keinginan pribadi. Kondisi ini bukan berarti Mama tidak bahagia menjadi seorang ibu, melainkan bagian dari proses penyesuaian terhadap identitas dan tanggung jawab baru.
Lantas, apa saja alasan yang membuat ibu baru sering kehilangan jati diri setelah punya bayi? Berikut Popmama.com telah merangkum informasinya.
Yuk, disimak!
1. Menjadi ibu membawa perubahan besar pada identitas diri

Magnific/jcomp Salah satu alasan ibu baru sering kehilangan jati diri adalah adanya perubahan identitas setelah punya bayi. Kondisi ini dikenal sebagai matrescence, yaitu proses perkembangan ketika seorang perempuan mengalami perubahan besar setelah menjadi ibu.
Dalam literatur ilmiah yang diterbitkan di PubMed pada 2024, matrescence dijelaskan sebagai periode ketika perempuan mengalami perubahan dalam cara memandang diri sendiri, hubungan, prioritas hidup, hingga fungsi otak. Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan peran sebagai pengasuh, tetapi juga memengaruhi berbagai aspek kehidupan mama.
Karena itu, wajar jika ibu baru membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan identitas barunya. Mama mungkin masih mencoba memahami bagaimana menjalankan peran sebagai ibu sambil tetap mempertahankan sisi diri yang sudah dimiliki sebelum punya bayi.
2. Waktu dan energi lebih banyak tercurah untuk si Kecil

Magnific Setelah punya bayi, sebagian besar waktu mama tentu digunakan untuk memenuhi kebutuhan si Kecil. Mulai dari menyusui, mengganti popok, menidurkan bayi, hingga mengurus berbagai kebutuhan rumah tangga. Kondisi ini membuat waktu untuk pekerjaan, kehidupan sosial, maupun kegiatan pribadi menjadi lebih terbatas.
Perubahan rutinitas tersebut dapat membuat Mama merasa identitas profesional, sosial, atau personal mulai terabaikan. Apalagi jika hobi atau aktivitas yang sebelumnya memberikan rasa senang dan kepuasan harus ditunda karena Mama belum memiliki cukup waktu dan energi untuk melakukannya.
Penelitian mengenai parental identity yang dipublikasikan di ResearchGate pada 2025 juga menunjukkan bahwa proses memasukkan peran sebagai orangtua ke dalam identitas diri merupakan hal yang kompleks. Kesulitan beradaptasi dengan peran tersebut dapat berkaitan dengan munculnya kecemasan dan depresi.
Apa yang Bisa Mama Lakukan agar Tidak Kehilangan Jati Diri?

Magnific Mama tetap bisa menyayangi si Kecil sekaligus membutuhkan waktu untuk terhubung kembali dengan diri sendiri. Ada beberapa cara sederhana yang dapat dicoba untuk membantu Mama menjalani proses tersebut.
1. Berikan afirmasi positif kepada diri sendiri
Ketika merasa kewalahan, hindari terus menyalahkan diri sendiri. Mama tidak harus langsung merasa baik-baik saja karena proses beradaptasi memang membutuhkan waktu.
2. Ingat bahwa setiap fase akan berlalu
Masa-masa penuh kurang tidur dan rutinitas mengurus bayi dapat terasa melelahkan. Namun, seiring pertumbuhan si Kecil, kebutuhannya juga akan berubah. Mama perlahan akan memiliki lebih banyak ruang untuk diri sendiri.
3. Ceritakan perasaan kepada orang terdekat
Jangan memendam kesulitan yang Mama alami sendirian. Cobalah berbicara dengan pasangan, keluarga, atau sahabat mengenai perubahan yang sedang dirasakan. Berbagi pengalaman dapat membantu Mama merasa lebih dipahami dan tidak menjalani masa transisi ini seorang diri.
4. Luangkan waktu untuk melakukan hobi
Mama tidak harus menyediakan waktu berjam-jam. Mulailah dari aktivitas sederhana yang membuat Mama merasa kembali menjadi diri sendiri, seperti membaca, menonton film, memasak, atau melakukan kegiatan yang disukai sebelum memiliki bayi.
5. Pertimbangkan untuk menjalani terapi jika diperlukan
Jika perasaan negatif semakin kuat, Mama bisa mempertimbangkan untuk mengobrol dengan terapis atau psikolog. Mendapatkan dukungan profesional bukan berarti Mama gagal menjalani peran sebagai ibu, tetapi dapat menjadi salah satu cara untuk mendapatkan bantuan yang sesuai.
Jadi, itulah beberapa alasan kenapa ibu baru sering kehilangan jati diri setelah punya bayi. Semoga informasi ini dapat membantu Mama.



















