Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

7 Cara Stimulasi Bayi Baru Lahir untuk Mencegah Speech Delay

Pexels/RDNE Stock project
Pexels/RDNE Stock project
Intinya sih...
  • Berbicara secara rutin kepada si Kecil, menceritakan kegiatan sehari-hari, membantu bayi mengenali ritme dan pola bahasa.
  • Membacakan buku membantu bayi mengenali nada, pola bahasa, dan kosa kata sebagai fondasi kemampuan bicara di kemudian hari.
  • Bernyanyi dan mendengarkan musik bersama bayi dapat membantu mengurangi risiko speech delay karena musik dan bahasa memiliki dasar yang saling terkait dalam perkembangan otak.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orangtua tidak sadar kalau perkembangan bicara dan bahasa dimulai sejak bayi lahir, lho. Meskipun belum bisa berbicara secara jelas, otak bayi sudah aktif memproses suara dan bahasa dari lingkungan sekitarnya.

Minimnya stimulasi, terutama interaksi verbal, dapat menjadi salah satu faktor risiko speech delay jika tidak ditangani sejak dini. Oleh karenanya, Mama dan Papa bisa memulai stimulasi tertentu sejak bayi baru lahir untuk bisa mencegah speech delay ke anak kelak.

Berikut Popmama.com rangkum cara stimulasi bayi baru lahir untuk mencegah speech delay.

1. Berbicara secara rutin kepada si Kecil

Pexels/William Fortunato
Pexels/William Fortunato

Berbicara secara rutin kepada bayi bicara setiap hari bisa sangat bermanfaat. Mama bisa memulai bicara kepada si Kecil tentang kegiatan yang sedang dilakukan.

Selain itu, Mama dan Papa juga bisa menceritakan apa yang bayi mungkin lihat atau dengar di sekitarnya meski belum jelas dan mengerti. Ini membantu bayi mengenali ritme dan pola bahasa sejak dini.

2. Membacakan buku

Pexels/Tima Miroshnichenko
Pexels/Tima Miroshnichenko

Walau masih kecil, suara orangtua saat membaca buku membantu bayi mengenali nada, pola bahasa, dan kosa kata. Meski mereka belum bisa bicara, tetapi otak bayi sudah aktif menyerap bunyi, intonasi, dan ritme bahasa. 

Oleh karenanya, saat dibacakan buku itu bayi terbiasa mendengar struktur bahasa yang jelas dan berulang. Ini menjadi fondasi kemampuan bicara di kemudian hari.

3. Bernyanyi dan mendengarkan musik bersama

Pexels/Chidi Young
Pexels/Chidi Young

Bernyanyi dan mendengarkan musik bersama bayi sejak dini dapat membantu mengurangi risiko speech delay karena musik dan bahasa memiliki dasar yang saling terkait dalam perkembangan otak. Pola ritmis pada lagu membantu bayi mengenali batas-batas kata serta struktur bunyi dalam bahasa sejak awal, yang menjadi dasar penting bagi kemampuan bicara nantinya. 

Lagu dengan irama dan repetisi juga memperkuat kemampuan phonological awareness, yakni kemampuan membedakan dan memanipulasi suara dalam bahasa yang merupakan komponen kunci dalam belajar berbicara dan membaca.  Musik bukan hanya sekadar hiburan tetapi juga mengaktifkan berbagai area otak yang terlibat dalam pemrosesan bahasa, pendengaran, dan koordinasi motorik.

4. Self-talk dengan bayi

Pexels/Sarah Chai
Pexels/Sarah Chai

Self-talk adalah kebiasaan orangtua menjelaskan apa yang sedang dilakukan saat bersama bayi, berperan penting dalam mencegah speech delay karena memberikan paparan bahasa secara konsisten sejak dini. 

Saat orangtua berbicara tentang aktivitas sederhana seperti mengganti popok, memandikan bayi, atau menyusui. Saat itu otak bayi belajar mengenali bunyi, intonasi, dan struktur bahasa, meski ia belum mampu merespons dengan kata-kata.

Paparan bahasa yang berulang lewat self-talk membantu bayi memahami bahwa suara memiliki makna dan berkaitan dengan aktivitas tertentu. Interaksi verbal ini juga membangun lingkungan kaya bahasa (language-rich environment), yang terbukti mendukung perkembangan komunikasi dan mempercepat kesiapan bayi untuk mengoceh, meniru bunyi, hingga akhirnya berbicara.

5. Menirukan gerakan dan bunyi lidah

Pexels/Lombe K
Pexels/Lombe K

Menirukan gerakan lidah, bibir, atau bunyi sederhana seperti “aa”, “oo”, dan “ma” membantu melatih otot mulut bayi sejak dini. Stimulasi ini penting untuk meningkatkan kontrol oromotor, yaitu kemampuan koordinasi otot yang kelak digunakan saat berbicara.

Selain itu, bayi belajar melalui imitasi. Saat orangtua mencontohkan dan menunggu respons bayi, otak bayi mulai memahami hubungan antara gerakan mulut dan suara, yang menjadi dasar munculnya ocehan dan kata pertama.

6. Ajak bermain secara interaktif 

Pexels/Febe Vanermen
Pexels/Febe Vanermen

Permainan sederhana seperti cilukba, tersenyum sambil berbicara, atau menunggu reaksi bayi setelah dia bersuara mendorong komunikasi dua arah. Interaksi ini mengajarkan bayi konsep bergantian (turn-taking), yang merupakan fondasi penting dalam percakapan.

Respons orangtua terhadap ekspresi atau suara bayi membuatnya merasa “didengar”, sehingga bayi lebih termotivasi untuk mengeluarkan suara. Hal ini membantu perkembangan komunikasi sosial dan kemampuan bicara secara alami.

7. Mendengarkan suara yang beragam

Pexels/RDNE Stock project
Pexels/RDNE Stock project

Memperkenalkan bayi pada berbagai suara yang aman seperti suara binatang, musik lembut, atau ritme percakapan akan membantu memperkaya pengalaman pendengarannya. Paparan ini melatih bayi membedakan variasi bunyi, nada, dan ritme suara.

Kemampuan membedakan suara menjadi dasar penting dalam perkembangan bahasa. Semakin kaya pengalaman auditori bayi, semakin baik kesiapan otaknya dalam memproses bunyi bahasa dan mendukung perkembangan bicara di tahap selanjutnya.

Itulah tadi berbagai cara stimulasi bayi baru lahir untuk mencegah speech delay. Semoga bisa membantu Mama dan Papa.

Share
Topics
Editorial Team
Wahyuni Sahara
EditorWahyuni Sahara
Follow Us

Latest in Baby

See More

Sedang Musim, Bolehkah Bayi Makan Durian?

12 Jan 2026, 15:20 WIBBaby