Setiap bayi terlahir dengan sifat dan kebiasaan yang berbeda-beda. Perbedaan inilah yang sering membuat orangtua mulai penasaran dengan kepribadian si Kecil sejak usia dini. Namun, saat baru lahir, bayi biasanya belum menunjukkan kepribadian yang benar-benar jelas karena mereka masih berada dalam tahap awal mengenal dunia di sekitarnya.
Kapan Kepribadian Bayi Mulai Terlihat? Ini Penjelasannya

Kepribadian bayi mulai terlihat sejak lahir dan semakin jelas seiring pertumbuhan, terutama saat anak mulai aktif.
Temperamen adalah sifat bawaan sejak lahir yang memengaruhi reaksi anak terhadap situasi.
Pola pengasuhan responsif berperan penting dalam membentuk emosi dan kepribadian anak melalui interaksi timbal balik.
Seiring bertambah usia dan perkembangan otaknya, bayi akan mulai menunjukkan cara khas dalam bereaksi, mengekspresikan emosi, hingga berinteraksi dengan orang lain. Sedikit demi sedikit, orangtua biasanya mulai bisa melihat sifat alami anaknya. Meski setiap bayi berkembang dengan cara yang berbeda, tanda-tanda kepribadian umumnya sudah mulai terlihat.
Lantas, kapan sebenarnya kepribadian bayi mulai terlihat? Ini penjelasannya yang telah Popmama.com siapkan untuk Mama.
Table of Content
Kapan Kepribadian Bayi Mulai Terlihat?

Melansir The Bump, Psikolog Anak sekaligus Penulis Buku Parenting Right from the Start: Laying a Healthy Foundation in the Baby and Toddler Years, Vanessa Lapointe, menjelaskan bahwa orangtua biasanya sudah bisa melihat gambaran sifat alami anak sejak lahir.
“Sebagian besar orangtua akan dapat mengatakan, ‘mereka memang terlahir seperti itu,” jelas Lapointe.
Misalnya, ada bayi yang lebih mudah menangis, sering terkejut, atau mengalami kesulitan tidur karena lebih peka terhadap lingkungan di sekitarnya. Namun, ada juga bayi yang lebih mudah menyesuaikan diri, memiliki pola tidur dan makan yang baik, serta terlihat lebih tenang saat menghadapi situasi baru.
Seiring bertambah usia, kepribadian bayi akan semakin terlihat, terutama saat mereka mulai aktif merangkak, berjalan, dan menunjukkan keinginan sendiri. Anak mulai memiliki preferensi terhadap orang, suasana, atau aktivitas tertentu. Saat memasuki usia sekitar 2 tahun, rasa mandiri anak biasanya juga semakin kuat.
Pada fase ini, sebagian anak bisa terlihat lebih sensitif terhadap lingkungan baru atau merasa tidak nyaman ketika ruang pribadinya terganggu.
Apa Bedanya Kepribadian dan Temperamen pada Bayi?

Banyak orang menganggap kepribadian dan temperamen adalah hal yang sama. Padahal, keduanya memiliki arti yang berbeda. Temperamen merupakan sifat bawaan sejak lahir, sedangkan kepribadian berkembang seiring waktu melalui pengalaman dan lingkungan di sekitar anak.
Psikolog Klinis Natasha Beck menjelaskan bahwa temperamen berkaitan dengan cara anak bereaksi terhadap berbagai situasi. Misalnya, ada bayi yang mudah tenang, ada yang gampang frustrasi, atau ada juga yang lebih sensitif terhadap perubahan di sekitarnya. Cara anak mengelola emosi dan menenangkan diri juga termasuk bagian dari temperamen.
Sementara itu, kepribadian terbentuk dari kombinasi temperamen dan lingkungan tempat anak tumbuh. Pola asuh orangtua, hubungan dengan saudara dan teman, budaya, hingga pengalaman sehari-hari ikut memengaruhi perkembangan kepribadian anak seiring bertambah usia.
“Temperamen dan lingkungan mereka membantu membentuk kepribadian seorang anak, yang meliputi tetapi tidak terbatas pada keterlibatan orangtua, saudara kandung, teman sebaya, budaya, pengayaan, dan bahkan pola makan,” ujar Beck.
Lima Kepribadian pada Anak

Dalam teori kepribadian yang dikenal sebagai Big Five Personality, terdapat lima aspek utama yang dapat menggambarkan sifat dan perilaku anak. Meski kepribadian anak masih berkembang seiring pertumbuhan, beberapa cirinya biasanya mulai terlihat sejak usia dini.
Berikut lima kepribadian pada anak:
Ekstroversi, yaitu menggambarkan apakah anak cenderung aktif, mudah bersosialisasi, dan senang berinteraksi dengan orang lain, atau justru lebih pendiam dan nyaman dengan dirinya sendiri.
Neurotisisme, berkaitan dengan bagaimana anak mengelola emosinya. Anak dengan aspek ini biasanya lebih mudah sensitif, mudah kesal, atau suasana hatinya lebih cepat berubah.
Keterbukaan, menunjukkan rasa ingin tahu anak terhadap hal-hal baru. Anak yang memiliki keterbukaan tinggi biasanya senang mencoba pengalaman baru dan mudah tertarik pada banyak hal.
Mudah bergaul, menggambarkan sikap anak terhadap orang lain, seperti empati, keramahan, serta kemampuan bekerja sama.
Ketelitian, berkaitan dengan sikap tanggung jawab dan kemampuan anak dalam mengatur diri serta menyelesaikan sesuatu dengan baik.
Kenali juga Tipe Temperamen pada Anak

Sebelum menilai kepribadian anak, Mama perlu mengenali temperamen si Kecil. Hal ini penting karena setiap bayi memiliki sifat bawaan yang berbeda dalam merespons lingkungan di sekitarnya. Peneliti Alexander Thomas dan Stella Chess membagi temperamen anak menjadi tiga tipe utama, yaitu:
Mudah beradaptasi
Bayi dengan tipe ini biasanya lebih tenang, mudah menyesuaikan diri, dan memiliki suasana hati yang cenderung positif. Mereka umumnya lebih mudah tidur, makan, dan mengikuti rutinitas sehari-hari.Sulit beradaptasi
Bayi dengan tipe ini cenderung lebih sensitif dan mudah rewel ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya. Mereka juga bisa lebih sulit ditenangkan atau lebih mudah frustrasi.Lambat beradaptasi
Bayi tipe ini biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dengan situasi baru. Mereka cenderung lebih berhati-hati, pemalu, atau takut saat bertemu orang dan lingkungan yang belum familiar.
Bagaimana Membantu Perkembangan Kepribadian Anak?

Perkembangan kepribadian anak dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari sifat bawaan hingga lingkungan tempat mereka tumbuh. Karena itu, cara orangtua merespons kebutuhan anak memiliki peran penting dalam membentuk cara anak berpikir.
Psikolog anak Vanessa Lapointe menjelaskan bahwa otak anak sangat terbuka terhadap pengaruh dari lingkungan sekitar, terutama dari pola pengasuhan orangtua. Menurutnya, respons orangtua dapat membantu membentuk perkembangan emosi anak dan cara mereka menghadapi berbagai situasi.
Orangtua perlu memahami isyarat yang ditunjukkan si Kecil dan meresponsnya dengan tepat. Misalnya, ketika anak mulai merasa kewalahan, terlalu terstimulasi, atau tidak nyaman, orangtua bisa membantu menenangkan dan membuatnya merasa aman. Lapointe menyebut hubungan timbal balik ini sebagai serve and return, yaitu saat anak memberi respons atau “isyarat”, lalu orangtua membalasnya dengan perhatian, empati, dan dukungan yang sesuai.
“Inilah timbal balik dari hubungan orangtua dan anak, yang memberikan setiap anak kesempatan terbaik untuk tumbuh menjadi versi diri mereka yang paling spektakuler,” ujar Vanessa.
Nah, itu dia penjelasan tentang kapan kepribadian bayi mulai terlihat. Si Kecil di rumah, kepribadiannya seperti apa nih, Ma?


















