Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Kebiasaan Bernapas Lewat Mulut Bisa Mengubah Bentuk Wajah Anak

4 min read
Kebiasaan Bernapas Lewat Mulut Bisa Mengubah Bentuk Wajah Anak
Popmama.com/Sofya Wardhani/AI
  • Bernapas lewat mulut dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan perubahan bentuk wajah, perubahan rahang atas, serta susunan gigi selama masa pertumbuhan anak.

  • Pembesaran adenoid dapat menghambat napas lewat hidung dan memicu kebiasaan bernapas melalui mulut, membentuk siklus yang berkaitan dengan perkembangan kraniofasial atipikal.

  • Tanda seperti mulut terbuka, bibir kering, lingkaran mata, rahang sempit, atau gigi berjejal perlu dikonsultasikan ke dokter THT dan dokter gigi anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jika mulut anak sering terbuka saat beristirahat atau melamun, kondisi ini bisa menjadi salah satu tanda bahwa anak bernapas melalui mulut, bukan hidung. Karena itu, Mama perlu memerhatikan pola pernapasan si Kecil, terutama jika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus.

Pasalnya, kebiasaan bernapas lewat mulut pada anak dapat berkaitan dengan perubahan bentuk wajah, perkembangan rahang, hingga postur tubuh. Hal ini dijelaskan oleh Dokter Spesialis Gigi Anak, drg. Joshua Calvin, Sp.KGA, QOM-D, melalui salah satu unggahan di Instagramnya, @uncle.ho_dentist.

Lantas, bagaimana kebiasaan bernapas lewat mulut bisamengubah bentuk wajah anak? Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasan medisnya.

  1. Kebiasaan Bernapas Lewat Mulut Bisa Mengubah Bentuk Wajah Anak

    Kebiasaan bernapas lewat mulut bisa mengubah bentuk wajah anak
    Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

    Kebiasaan bernapas lewat mulut dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan perubahan pola pertumbuhan rahang dan wajah anak. Salah satu perubahan yang mungkin terlihat adalah wajah yang tampak lebih panjang, disertai posisi dagu yang terlihat lebih mundur.

    Hal ini berkaitan dengan perubahan posisi rahang bawah dan aktivitas otot di sekitar mulut ketika anak terbiasa bernapas melalui mulut. Pola tersebut dapat memengaruhi keseimbangan fungsi otot dan perkembangan struktur wajah selama masa pertumbuhan.

    Selain itu, kebiasaan ini juga dapat berkaitan dengan perubahan bentuk rahang atas dan susunan gigi. Meski begitu, tidak semua anak yang bernapas lewat mulut akan mengalami perubahan wajah. Faktor penyebab, durasi kebiasaan, dan kondisi pertumbuhan setiap anak perlu diperhatikan.

  2. Mengenal Adenoid Facies

    Mengenal adenoid facies
    Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

    Adenoid facies merupakan istilah untuk menggambarkan pola perubahan wajah yang dapat berkaitan dengan kebiasaan bernapas lewat mulut dalam jangka panjang. Kondisi ini salah satunya dapat berhubungan dengan hipertrofi adenoid, yaitu pembesaran jaringan adenoid yang berada di belakang rongga hidung.

    Ketika adenoid membesar, aliran udara melalui hidung bisa terhambat. Akibatnya, anak mungkin lebih sering bernapas melalui mulut untuk mendapatkan udara. Jika kondisi tersebut berlangsung lama selama masa pertumbuhan, pola pernapasan dan posisi rahang dapat ikut memengaruhi perkembangan struktur wajah.

    Hubungan antara kebiasaan bernapas lewat mulut dan perubahan wajah ini juga dibahas dalam sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Public Health pada 12 Desember 2024, berjudul “Adenoid facies: a long-term vicious cycle of mouth breathing, adenoid hypertrophy, and atypical craniofacial development”.

    Studi tersebut menjelaskan adanya hubungan yang dapat membentuk siklus berulang. Pembesaran adenoid dapat menghambat pernapasan melalui hidung sehingga anak lebih sering bernapas lewat mulut. Sementara itu, kebiasaan bernapas lewat mulut dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan perubahan perkembangan rahang dan wajah.

  3. Postur Tubuh Anak juga Bisa Ikut Terpengaruh

    Postur tubuh anak juga bisa ikut terpengaruh
    Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

    Dampak kebiasaan bernapas lewat mulut tidak hanya berkaitan dengan bentuk wajah dan rahang, tetapi juga dapat berhubungan dengan posisi kepala dan leher anak. Ketika hidung tersumbat atau aliran udara melalui hidung terhambat, anak mungkin secara tidak sadar memajukan kepala dan mencondongkan leher ke depan. 

    Posisi ini dikenal sebagai forward head posture. Dalam kondisi tertentu, perubahan posisi kepala tersebut dapat membantu anak mempertahankan jalan napas agar terasa lebih lega. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan mempertahankan posisi tersebut dapat memengaruhi postur kepala dan leher. 

  4. Tanda Fisik yang Dapat Terlihat pada Anak

    Tanda fisik yang dapat terlihat pada anak
    Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

    Ada beberapa tanda fisik yang dapat berkaitan dengan kebiasaan bernapas lewat mulut atau gangguan pada saluran napas anak. Berikut beberapa hal yang dapat Mama perhatikan:

    1. Lingkaran hitam di bawah mata: dikenal sebagai allergic shiners, kondisi yang dapat terlihat pada anak dengan alergi hidung atau gangguan hidung tertentu.
    2. Bibir atas tampak pendek dan sering kering: bibir yang sering terbuka dapat membuat permukaannya lebih mudah kering. Penampilan bibir juga perlu dinilai bersama tanda lainnya.
    3. Langit-langit mulut tinggi dan rahang atas sempit: perubahan struktur ini berkaitan dengan pola pertumbuhan rahang dan perkembangan kraniofasial (tulang tengkorak dan wajah).
    4. Gigitan silang posterior dan gigi berjejal: gigitan silang posterior (posterior crossbite) merupakan kondisi ketika hubungan gigi belakang atas dan bawah tidak berada pada posisi yang semestinya. Sementara itu, gigi berjejal terjadi ketika ruang rahang tidak cukup untuk menampung susunan gigi dengan baik.
    5. Mulut sering terbuka saat beristirahat atau melamun: kebiasaan ini dapat menjadi petunjuk bahwa anak lebih sering bernapas melalui mulut, termasuk kemungkinan adanya hambatan pernapasan melalui hidung.

    Jika Mama menemukan tanda-tanda tersebut, konsultasikan kondisi si Kecil kepada dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan pertumbuhannya bisa dipantau dengan tepat.

  5. Penanganan Membutuhkan Kolaborasi Dokter THT dan Dokter Gigi Anak

    Penanganan membutuhkan kolaborasi dokter THT dan dokter gigi anak
    Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

    Penanganan kebiasaan bernapas lewat mulut perlu disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Karena masalah ini dapat melibatkan saluran napas sekaligus perkembangan rahang dan gigi, pemeriksaan oleh dokter spesialis THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan) dan dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak (Sp.KGA) dapat saling melengkapi.

    Dokter THT membantu mencari penyebab terhambatnya aliran udara melalui hidung. Pemeriksaan dapat mencakup kemungkinan pembesaran adenoid, alergi, atau kelainan pada saluran napas. Penanganan kemudian disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan kondisi anak.

    Sementara itu, dokter gigi anak membantu memantau perkembangan rahang, susunan gigi, hubungan gigitan, dan fungsi orofasial selama masa pertumbuhan. Jika ditemukan perubahan pada struktur rahang atau susunan gigi, dokter dapat menentukan apakah anak memerlukan pemeriksaan lanjutan atau perawatan tertentu.

    Itulah penjelasan mengenai kebiasaan napas lewat mulut yang dapat mengubah bentuk wajah anak. Semoga informasi ini bermanfaat, ya, Ma.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More