- Gerakan kepala semakin sering, tampak tidak terkendali, atau membuat bayi terlihat kesakitan.
- Bayi tampak kesulitan menggerakkan mata secara normal atau menunjukkan gerakan tubuh lain yang tidak biasa.
- Tidak merespons suara atau panggilan seperti biasanya.
- Terlihat kurang berinteraksi dengan orangtua atau orang di sekitarnya.
- Gerakan kepala disertai demam, gejala pilek, atau tanda lain yang mengarah pada rasa sakit.
- Bayi tidak mencapai tahapan perkembangan sesuai usianya atau kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai.
- Gerakan berulang menyebabkan rambut rontok atau muncul benjolan akibat kepala terbentur.
- Kebiasaan tersebut terus berlanjut setelah usia 2 tahun atau semakin mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kenapa Bayi 11 Bulan Menggelengkan Kepala Terus? Ini Alasannya

Bayi 11 bulan menggelengkan kepala bisa menjadi cara berkomunikasi, menenangkan diri, atau merespons rasa tidak nyaman.
Gerakan kepala berulang juga dapat berkaitan dengan infeksi telinga, kejang, perbedaan perkembangan, atau gangguan neurologis.
Mama perlu berkonsultasi dengan dokter jika gerakan tampak tidak terkendali, disertai gejala lain, atau si Kecil mengalami keterlambatan maupun kehilangan kemampuan perkembangan.
Bayi mulai belajar menggerakkan kepalanya secara sengaja sejak beberapa bulan pertama kehidupannya. Gerakan menggelengkan kepala dari satu sisi ke sisi lain umumnya mulai sering terlihat saat bayi berusia 4–9 bulan.
Namun, Mama mungkin merasa khawatir ketika si Kecil yang sudah berusia 11 bulan terus menggelengkan kepala. Sebenarnya, kebiasaan ini bisa menjadi bagian dari perkembangan normal, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat berkaitan dengan masalah kesehatan yang perlu diperhatikan.
Berikut Popmama.com telah merangkum alasan kenapa bayi 11 bulan menggelengkan kepala terus. Yuk, simak penjelasannya, Ma!
Table of Content
1. Cara bayi berkomunikasi

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Bayi dapat memahami kata-kata sederhana jauh sebelum mampu mengucapkannya. Memasuki usia sekitar 6 bulan, si Kecil mulai memahami sebagian ucapan orangtua atau pengasuhnya. Karena kemampuan berbicaranya masih terbatas, bayi dapat menggunakan gerakan tubuh, termasuk menggelengkan kepala, untuk menyampaikan sesuatu.
Menjelang usia 12 bulan, sebagian bayi mulai menggelengkan kepala untuk menunjukkan penolakan, seperti ketika tidak menginginkan makanan atau merasa frustrasi. Gerakan ini bisa menjadi salah satu cara si Kecil mengekspresikan keinginan dan perasaannya sebelum mampu menyampaikannya dengan kata-kata.
2. Berusaha menenangkan diri

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Menggelengkan kepala juga bisa menjadi cara bayi menenangkan dirinya sendiri atau self-soothing. Sebagian bayi melakukan gerakan ini ketika merasa cemas, terlalu banyak menerima rangsangan dari lingkungan, atau sedang berusaha tertidur. Gerakannya dapat terlihat berulang, terutama ketika si Kecil mulai mengantuk.
Perilaku self-soothing umumnya tidak berbahaya dan dapat membantu bayi merasa lebih nyaman. Mama bisa memperhatikan kapan kebiasaan ini muncul, misalnya menjelang tidur atau ketika suasana di sekitarnya terlalu ramai.Â
3. Mengalami nyeri atau infeksi telinga

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Bayi yang sedang merasakan nyeri terkadang menggelengkan kepala sebagai respons terhadap rasa tidak nyaman. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah infeksi telinga, terutama jika kebiasaan tersebut muncul secara tiba-tiba.Â
Namun, menggelengkan kepala saja tidak cukup untuk memastikan bahwa si Kecil mengalami infeksi telinga. Mama perlu memperhatikan apakah gerakan tersebut disertai gejala lain, seperti demam, gejala pilek, rewel yang tidak biasa, atau kesulitan tidur.
4. Mengalami kejang mioklonik

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Dalam beberapa kasus, gerakan kepala yang terlihat berulang dapat berkaitan dengan kejang, termasuk kejang mioklonik. Kondisi ini ditandai dengan kontraksi otot yang sangat singkat dan terjadi secara tiba-tiba. Pada bayi, kontraksi tersebut dapat memengaruhi bagian tubuh tertentu, termasuk leher dan kepala, sehingga terlihat seperti gerakan menggeleng.
Berbeda dengan gerakan yang dilakukan secara sadar, kejang mioklonik biasanya muncul mendadak dan tidak tampak seperti gerakan yang sengaja dilakukan bayi. Karena durasinya sangat singkat, orangtua mungkin sulit mengenalinya pada awalnya.
5. Berkaitan dengan autisme

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Sebagian anak dengan autisme melakukan gerakan tubuh berulang, termasuk menggelengkan kepala secara berirama. Gerakan tersebut dapat menjadi cara untuk menenangkan diri atau mencari rangsangan sensorik. Meski demikian, kebiasaan menggelengkan kepala saja tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa bayi mengalami autisme.
Mama juga perlu memperhatikan perkembangan si Kecil secara keseluruhan, seperti kemampuannya merespons orang lain, melakukan kontak mata, berkomunikasi melalui suara atau gerakan, dan mencapai tahapan perkembangan sesuai usianya.Â
6. Mengalami gangguan neurologis

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Menggelengkan kepala secara berulang terkadang dapat berkaitan dengan gangguan neurologis. Salah satu kondisi langka yang pernah dikaitkan dengan gerakan kepala berulang adalah rhombencephalosynapsis, yaitu kelainan pada pembentukan bagian otak yang disebut serebelum.
Dalam sebuah penelitian tahun 2013, 50 dari 59 anak dengan kondisi tersebut dilaporkan mengalami gerakan kepala yang menetap. Meski demikian, temuan ini tidak berarti bahwa bayi yang sering menggelengkan kepala kemungkinan besar mengalami kelainan tersebut.Â
Kondisi neurologis dapat memiliki tanda yang beragam, termasuk keterlambatan perkembangan gerak, bicara, atau kemampuan lain sesuai usia. Karena itu, pemeriksaan dokter diperlukan jika gerakan kepala disertai gejala perkembangan atau gerakan yang tidak biasa.
Kapan Bayi Perlu Dibawa ke Dokter?

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Menggelengkan kepala bisa menjadi bagian dari perkembangan bayi. Namun, Mama sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika si Kecil menunjukkan tanda-tanda berikut:
Nah, itulah beberapa kemungkinan penyebab bayi berusia 11 bulan menggelengkan kepala terus. Semoga informasi ini membantu, ya, Ma.





















