Kemampuan berbicara menjadi salah satu tonggak penting dalam tumbuh kembang anak. Umumnya, si Kecil mulai mengucapkan kata-kata sederhana di usia 12 bulan dan terus menambah kosakata seiring bertambahnya usia. Jika memasuki usia 2 tahun anak belum mampu mengucapkan sekitar 25–50 kata atau belum bisa merangkai dua kata menjadi kalimat sederhana, kondisi tersebut bisa menjadi tanda keterlambatan bicara atau speech delay.
Tanpa Disadari, Ini Kebiasaan yang Bisa Membuat Anak Terlambat Bicara

Keterlambatan bicara pada anak bisa disebabkan oleh kebiasaan sehari-hari seperti terlalu banyak screen time dan orangtua yang langsung memahami bahasa tubuh.
Selain faktor kebiasaan, penyebab medis seperti gangguan pendengaran, autisme, trauma kepala, hingga faktor genetik juga dapat memengaruhi.
Stimulasi rutin seperti membatasi screen time, sering mengajak anak berbicara, membaca buku cerita, dan bernyanyi bersama terbukti membantu mempercepat perkembangan kemampuan bahasa.
Selain faktor medis, ternyata ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari dapat menghambat perkembangan kemampuan berbicara anak. Dokter Spesialis Anak sekaligus Konselor Laktasi, dr. Aisya Fikritama, Sp.A, melalui akun Instagram @dr.aisyafik menjelaskan bahwa ada dua kebiasaan yang sering dilakukan orangtua dan dapat memengaruhi perkembangan bahasa si Kecil.
Berikut Popmama.com telah kebiasaan yang membuat anak terlambat bicara.
Table of Content
1. Terlalu banyak screen time

Memberikan tontonan pada anak memang bukan sesuatu yang sepenuhnya dilarang. Namun, durasi dan cara pemberiannya perlu diperhatikan. Menurut dr. Aisya, masalah utama bukan hanya karena anak menonton layar, tetapi karena waktu tersebut menggantikan kesempatan anak untuk berkomunikasi secara langsung dengan orang di sekitarnya.
"Kalau anak terlalu lama menonton layar, dia kehilangan kesempatan untuk berbicara atau melakukan komunikasi dua arah," jelasnya.
Screen time tetap boleh diberikan sesuai rekomendasi usia, dengan durasi yang terbatas dan selalu didampingi orang tua. Pilih tayangan yang bersifat interaktif sehingga mengajak anak merespons, bukan sekadar menonton secara pasif. Misalnya, tayangan yang memberikan pertanyaan sederhana atau mengajak anak menyebutkan nama benda dapat membantu merangsang perkembangan bahasanya.
2. Mama dan Papan terlalu memahami bahasa tubuh anak

Tanpa disadari, banyak orangtua langsung memenuhi keinginan anak hanya dengan melihat gestur atau bahasa tubuhnya. Padahal, kebiasaan ini bisa mengurangi kesempatan anak untuk belajar mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata. Sebagai contoh, saat anak berjalan menuju gelas, orangtua sering kali langsung mengambilkan gelas tersebut tanpa mengajak anak berkomunikasi.
Cobalah bertanya terlebih dahulu seperti, "Kamu mau apa?" atau "Mau minum, ya?" Berikan waktu agar anak mencoba mengucapkan apa yang diinginkannya. Percakapan sederhana seperti ini bisa menjadi stimulasi agar anak belajar memahami hubungan antara kata dan kebutuhannya sehingga kemampuan berbicaranya akan terus berkembang.
Penyebab Medis yang Bisa Membuat Anak Terlambat Bicara

Selain kebiasaan sehari-hari, keterlambatan bicara juga dapat dipengaruhi oleh berbagai kondisi medis maupun faktor bawaan.
Berikut beberapa penyebab yang perlu Mama ketahui.
Kondisi medis sejak dalam kandungan atau saat lahir
Beberapa kondisi sejak bayi masih dalam kandungan atau baru lahir dapat meningkatkan risiko speech delay. Misalnya bayi lahir prematur, memiliki berat badan lahir rendah (BBLR), mengalami bayi kuning, infeksi TORCH, kekurangan oksigen saat lahir (asfiksia), atau hipotiroid kongenital yang tidak terdeteksi sejak dini.Riwayat kejang, trauma kepala, atau radang otak
Anak yang pernah mengalami kejang berkepanjangan, trauma kepala, atau radang otak berisiko mengalami gangguan pada perkembangan otak yang berperan dalam kemampuan berbicara.Gangguan pendengaran
Gangguan pendengaran menjadi salah satu penyebab utama speech delay. Anak yang tidak dapat mendengar suara dengan baik akan kesulitan meniru kata-kata, sehingga perkembangan bicaranya bisa menjadi lebih lambat.Gangguan fungsi oromotor dan struktur mulut
Masalah pada otot bibir, lidah, dan rahang dapat membuat anak kesulitan mengucapkan kata dengan jelas. Selain itu, kelainan seperti bibir sumbing juga dapat menghambat produksi suara dan memengaruhi kemampuan berbicara.Autisme
Sebagian anak dengan autisme mengalami keterlambatan bicara karena adanya gangguan pada perkembangan bahasa dan komunikasi. Meski begitu, perkembangan motoriknya bisa tetap normal sehingga kondisi ini terkadang tidak langsung disadari.Riwayat keluarga
Faktor keturunan juga dapat meningkatkan risiko speech delay. Anak yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat terlambat bicara, gagap, atau gangguan bahasa lainnya cenderung memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami kondisi serupa.
Tahapan Perkembangan Berbicara Anak Sesuai Usia

Setiap anak memiliki tahapan perkembangan bicara yang berbeda. Namun, ada patokan umum yang bisa Mama gunakan untuk memantau kemampuan bahasa si Kecil sesuai usianya.
Usia 3 bulan: Mulai mengoceh, tersenyum saat diajak bicara, dan merespons suara di sekitarnya.
Usia 6 bulan: Mengucapkan suku kata seperti "ba-ba" atau "da-da", menoleh saat namanya dipanggil, dan mencari sumber suara.
Usia 12 bulan: Mulai mengucapkan kata sederhana seperti "mama" atau "ayah", meniru kata, serta memahami perintah sederhana.
Usia 18 bulan: Memiliki sekitar 10–20 kosakata, mengenali nama orang dan benda, serta dapat mengikuti instruksi sederhana.
Usia 24 bulan: Memiliki sekitar 50 kosakata atau lebih, mulai menggabungkan dua kata menjadi kalimat sederhana, dan memahami pertanyaan sederhana.
Usia 3–5 tahun: Kosakata bertambah pesat, mampu berbicara dalam kalimat yang lebih panjang, menceritakan pengalaman, dan mengobrol dengan orang lain.
Kebiasaan yang Dapat Menstimulasi Kemampuan Bicara Anak

Kemampuan berbicara anak dapat berkembang lebih optimal jika Mama membiasakan stimulasi sejak dini. Berikut beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan setiap hari.
Batasi screen time sesuai usia anak dan dampingi si Kecil saat menonton agar tetap terjadi interaksi dua arah.
Sering mengajak anak mengobrol saat beraktivitas, seperti ketika makan, mandi, bermain, atau sebelum tidur.
Gunakan kalimat yang singkat dan mudah dipahami agar anak lebih mudah menangkap serta meniru kata-kata yang didengar.
Respons setiap ocehan anak untuk mendorongnya terus mencoba berkomunikasi.
Biasakan berbicara dengan pelafalan yang jelas dan hindari penggunaan bahasa cadel atau baby talk.
Luangkan waktu membacakan buku cerita agar kosakata anak bertambah sejak dini.
Ajak anak bernyanyi bersama untuk melatih pengenalan kata dan pengucapan dengan cara yang menyenangkan.
Biasakan menyebut nama benda di sekitar anak agar ia dapat menghubungkan kata dengan objek yang dilihatnya.
Berikan instruksi sederhana seperti "ambil bola" atau "dadah ke Papa" untuk melatih pemahaman bahasa.
Gunakan bahasa isyarat sederhana saat mengenalkan kata-kata tertentu agar anak lebih mudah memahami maknanya.
Nah, itu tadi berbagai kebiasaan yang membuat anak terlambat bicara. Yuk, bangun kebiasaan yang baik untuk si Kecil, Ma!


















