Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

80 Ribu Anak di Bawah 10 Tahun Sudah Terjerat Judol, Ini Alasan Anak Mudah Terpengaruh

80 Ribu Anak di Bawah 10 Tahun Sudah Terjerat Judol, Ini Alasan Anak Mudah Terpengaruh
Pexels/Tima Miroshnichenko
Intinya Sih
  • PPATK mencatat sekitar 80 ribu anak di bawah 10 tahun sudah terekspos judi online, menunjukkan meningkatnya kerentanan generasi muda terhadap fenomena ini.
  • KemenPPPA menilai anak mudah terjebak karena iming-iming hadiah, iklan di game online, dan konten media sosial, sehingga perlu pendekatan edukatif dari keluarga, sekolah, dan komunitas.
  • Pencegahan efektif dilakukan lewat komunikasi hangat orangtua-anak serta penanaman nilai kontrol diri, tanggung jawab, dan pemahaman uang sejak dini agar anak tak tergoda judi online.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Judol atau judi online menjadi fenomena yang meresahkan di Indonesia. PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) menyebut dampak dari judol mencakup kerusakan ekonomi rumah tangga, peningkatan kejahatan turunan, dan kerentanan generasi muda. 

Data PPATK menemukan sekitar 2% pemain judi online berusia di bawah 10 tahun, atau sekitar 80.000 anak-anak yang sudah terekspos. Angka ini sangat mengejutkan, mengingat judol saat ini tidak hanya menyasar orang dewasa saja melainkan sampai ke anak-anak yang akan berdampak ke masa depan mereka.

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya!

1. Kenapa anak jadi sasaran mudah untuk judi online?

ilustrasi anak-anak Indonesia
Unsplash.com/Paul Grainn

Tahun 2023 lalu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebut Indonesia menjadi punya penetrasi internet yang besar. Karena penetrasi ini, anak-anak hendaknya diawasi agar tak terjerumus dalam judi online. Hal tersebut telah dicantumkan dalam Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. 

Orangtua memegang peranan penting dalam upaya perlindungan anak termasuk dari judi online. Di tahun 2023, Komdigi mengungkap data miris bahwa terdapat hampir 500.000 anak-anak Indonesia berstatus pelajar dan mahasiswa terseret di dalamnya. 

Sementara itu, data terbaru dari PPATK menyebut sekitar 2% pemain judi online berusia di bawah 10 tahun, atau sekitar 80.000 anak-anak yang sudah terekspos. Angka ini sangat mengejutkan, mengingat judol saat ini tidak hanya menyasar orang dewasa saja melainkan sampai ke anak-anak yang akan berdampak ke masa depan mereka.

“Judi online kini menyasar kelompok rentan yaitu remaja, pelajar, ibu rumah tangga, hingga pekerja formal. Fenomena ini bergerak senyap, tapi menghantam keras kehidupan keluarga dan nilai-nilai sosial kita,” ujar Kepala PPATK Ivan Yustiavandana, dikutip dari website PPATK, diunggah tanggal 5 November 2025.

2. Alasan anak bisa terjebak juduol

ilustrasi anak-anak Indonesia
Pexels.com/Nasirun Khan

Salah satu langkah pencegahan paling efektif adalah memberikan pemahaman sejak dini kepada anak mengenai risiko judol. Anak perlu tahu bahwa judi bukan sekadar permainan, tetapi aktivitas yang bisa menyebabkan kerugian finansial, kecanduan, hingga masalah psikologis.

Disini peran orangtua dan lingkungan anak kompak untuk membimbing anak. Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, di keterangan resminya.

"Pencegahan keterlibatan anak dalam judi online harus dilakukan secara komprehensif melalui tiga lingkungan utama, yaitu keluarga, satuan pendidikan, dan komunitas sosial. Anak-anak belum memiliki kemampuan untuk memahami risiko dan konsekuensi dari aktivitas seperti judi online," jelas Arifah Fauzi, dikutip dari rilis resmi KemenPPPA.

Arifah menyebut alasan banyak anak-anak terjerat judi online bisa disebabkan beberapa hal, yaitu:

  • iming-iming hadiah,
  • iklan di situs game online anak-anak,
  • hingga konten media sosial.

“Oleh karena itu, pendekatan pencegahan harus lebih mengedepankan edukasi, bukan sekadar hukuman. Selain itu, orangtua, guru, dan masyarakat juga harus menjadi teladan, memberikan contoh nyata, serta melindungi anak-anak dari paparan perilaku berisiko," lanjutnya.

3. Nila-nilai yang penting ditanamkan pada anak untuk mencegah terjebak judol

ilustrasi anak-anak Indonesia
Unsplash.com/Yishen Ji

Dari sisi orangtua, bisa menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa judi membuat orang terus ingin menang, padahal justru lebih sering kalah. Dengan edukasi yang konsisten, anak akan memiliki “alarm” dalam dirinya saat menemukan konten mencurigakan di internet.

Pendekatan ini juga membantu anak belajar mengambil keputusan yang lebih bijak di dunia digital.

Inilah pentingnya ada komunikasi yang hangat antara orangtua dan anak. Anak yang merasa didengar cenderung lebih terbuka untuk bercerita, termasuk jika menemukan hal yang tidak wajar seperti ajakan bermain judi online dari teman atau media sosial.

Di sisi lain, orangtua juga perlu menanamkan hal-hal ini agar anak tidak terjerat judi online:

  • Nilai kontrol diri
  • tanggung jawab
  • pemahaman tentang uang sejak dini. 
  • Ajarkan anak bahwa mendapatkan uang membutuhkan usaha, bukan keberuntungan instan. 
  • Dengan fondasi nilai yang kuat, anak tidak mudah tergoda iming-iming “cepat kaya” yang sering digunakan dalam promosi judi online.

Itulah tadi informasi mengenai 80 ribu anak di bawah 10 tahun sudah terjerat judol. Kita harus waspadai 80 ribu anak terjerat Judol! Itulah alasan anak-anak Indonesia mudah terjebak judol. Fenomena yang harus ditangani serius dan diwaspadai!

Share
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More