Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Perubahan Emosional Anak Usia 6-10 Tahun yang Jarang Disadari

Perubahan Emosional Anak Usia 6-10 Tahun yang Jarang Disadari
Freepik
Intinya Sih
  • Anak usia 6–10 tahun mengalami perubahan emosional besar, mulai sensitif terhadap pertemanan dan mencari penerimaan sosial yang memengaruhi rasa percaya diri mereka.

  • Fokus anak bergeser dari bermain ke dunia sosial, membuat mereka lebih cepat lelah secara emosional dan membutuhkan rumah sebagai tempat aman untuk menenangkan diri.

  • Meskipun tampak mandiri, anak tetap butuh dukungan emosional dan cinta tanpa syarat dari Mama agar mampu menghadapi tekanan sosial dengan percaya diri.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Memasuki rentang 6-10 tahun tahun, anak mengalami pergeseran emosional yang sangat signifikan namun sering kali luput dari perhatian Mama karena prosesnya yang terjadi secara perlahan. 

Perubahan ini menuntut Mama dan Papa untuk lebih peka dalam membaca sinyal-sinyal emosi yang mulai disembunyikan oleh anak di balik sikap mandiri mereka sehari-hari. 

Memahami gejolak batin di usia ini akan membantu Mama memberikan dukungan yang tepat agar rasa percaya diri anak tidak mudah goyah saat menghadapi dinamika dunia luar yang terkadang terasa sangat personal bagi mereka.

Berikut Popmama.com rangkum 7 poin penting mengenai pergeseran emosional anak usia 6-10 tahun!

Table of Content

1. Perasaan anak menjadi sensitif terhadap dinamika pertemanan

1. Perasaan anak menjadi sensitif terhadap dinamika pertemanan

Anak berinteraksi di kelas
Freepik

Pada rentang usia ini, anak secara tiba-tiba mulai memiliki kepedulian yang sangat mendalam terhadap hubungan pertemanan serta konsep keadilan di lingkungan sosial mereka. 

Interaksi dengan teman sebaya tidak lagi sekadar tentang siapa yang memiliki mainan paling banyak, melainkan sudah melibatkan perasaan yang intens mengenai keinginan untuk diterima dan dianggap setara. 

Perselisihan kecil yang terjadi di sekolah bisa terasa seperti luka yang sangat menyakitkan bagi mereka, bahkan perasaan ditinggalkan atau tidak diajak dalam ketika bermain akan terasa sangat personal dan mengguncang emosinya. 

Mama harus menyadari bahwa keluhan anak mengenai temannya adalah cerminan dari proses adaptasi sosial yang sedang mereka pelajari dengan penuh perjuangan di luar rumah setiap hari.

2. Dunia anak berubah dari bermain menjadi dunia sosial

Persahabatan anak perempuan
Freepik

Transisi terbesar yang dialami anak 6-10 tahun adalah pergeseran fokus hidup mereka yang semula hanya tentang dunia bermain yang sederhana menjadi dunia sosial yang jauh lebih menantang. 

Bermain kini bukan lagi aktivitas tanpa beban, melainkan sarana bagi mereka untuk menunjukkan kemampuan dan menjalin pertemanan dengan teman-teman pilihannya.

Setiap interaksi yang dilakukan anak di sekolah memiliki bobot emosional yang besar karena mereka mulai belajar mengenai kompetensi sosial serta bagaimana cara menempatkan diri dalam sebuah kelompok. 

Hal ini sering kali membuat anak merasa lebih cepat lelah secara emosional karena mereka harus terus-menerus memproses aturan yang baru dan berusaha memenuhi ekspektasi dari lingkungan pergaulannya. 

Mama perlu memberikan ruang yang aman bagi anak untuk melepas penat karena rumah harus tetap menjadi tempat di mana mereka bisa kembali menjadi diri sendiri tanpa harus memikirkan penilaian orang lain.

3. Munculnya pertanyaan dalam diri anak

Anak bercermin
Freepik/pvproductions

Pada fase ini, anak mulai mengembangkan kesadaran diri yang lebih dalam yang sering kali disertai dengan munculnya berbagai pertanyaan mengenai eksistensi diri mereka di mata orang lain. 

Pertanyaan-pertanyaan seperti "apakah aku cukup baik?" atau "apakah orang-orang menyukaiku?" mulai sering berputar di dalam pikiran mereka setiap kali mereka berinteraksi dengan lingkungan luar.

Rasa ingin tahu mengenai bagaimana persepsi orang lain terhadap dirinya membuat anak menjadi lebih waspada terhadap tindakan serta perkataan yang mereka sampaikan di depan publik. 

Hal ini merupakan bagian dari perkembangan kognitif di mana anak mulai mampu melihat dirinya dari sudut pandang orang lain, yang jika tidak diarahkan dengan baik dapat memicu rasa cemas yang berlebihan. 

Mama berperan penting untuk terus memberikan pujian yang tulus agar anak tidak merasa bahwa diri mereka hanya ditentukan oleh seberapa besar orang lain menyukai atau memuji kemampuan yang mereka miliki saat ini.

4. Sumber percayaan diri dari rumah menuju dunia luar

Anak bercermin
Freepik

Secara perlahan, kepercayaan diri anak usia mulai mengalami pergeseran sumber validasi yang semula berasal dari Mama dan Papa di rumah menjadi sangat bergantung pada penilaian dunia luar. 

Jika saat kecil pujian dari Mama sudah cukup membuat mereka merasa hebat, kini pengakuan dari teman sebaya atau apresiasi dari guru di sekolah memiliki bobot yang jauh lebih berat bagi mental mereka. 

Anak mulai membandingkan pencapaian serta keterampilan mereka dengan teman-temannya, yang secara langsung akan memengaruhi cara mereka memandang harga diri mereka sendiri. 

Pergeseran ini merupakan tahap perkembangan yang wajar menuju kemandirian, namun tetap menyimpan risiko jika anak merasa gagal mendapatkan pengakuan dari lingkungan sosialnya tersebut. 

Mama harus tetap menjadi pendukung utama yang memberikan perspektif bahwa keberhasilan bukanlah tentang menjadi lebih baik dari orang lain, melainkan tentang pertumbuhan karakter dan usaha maksimal yang telah mereka lakukan dengan penuh kejujuran.

5. Anak terlihat mandiri namun tidak secara emosional

Mama menguncir rambut anak
Freepik/pch.vector

Meskipun anak usia 6-10 tahun mulai menunjukkan tanda-tanda kemandirian seperti ingin pergi ke sekolah sendiri atau mulai enggan untuk dipeluk di depan teman-temannya, kebutuhan emosional mereka terhadap Mama tetaplah sangat tinggi. 

Di balik sikap dan keinginan untuk tidak lagi dianggap seperti bayi, anak sebenarnya masih sangat membutuhkan rasa aman yang hanya bisa diberikan oleh pelukan serta kehadiran Mama yang tulus di rumah. 

Mereka sering kali mengalami konflik internal antara keinginan untuk mengeksplorasi dunia luar dengan rasa takut kehilangan dukungan emosional yang selama ini menjadi zona nyaman mereka. 

Mama harus tetap peka untuk memberikan perhatian yang proporsional tanpa membuat anak merasa dikekang, agar mereka tahu bahwa kemandirian yang mereka bangun selalu memiliki dukungan yang kokoh di belakangnya. 

6. Anak jarang mengeluh tapi tetap rindu perhatian

Mama memberi anak makan
Freepik

Salah satu tantangan dalam mengasuh anak di usia transisi ini adalah mereka mungkin tidak akan lagi meminta dukungan emosional seperti dipeluk secara eksplisit seperti saat mereka masih kecil dulu. 

Namun, di balik diamnya anak, mereka sebenarnya merasakan kesedihan yang sangat mendalam ketika merasa bahwa perhatian Mama mulai berkurang atau dialihkan kepada hal-hal lain di luar diri mereka. 

Ketidakhadiran dukungan emosional yang biasanya mereka dapatkan akan meninggalkan kekosongan yang membuat mereka merasa tidak aman saat harus menghadapi tekanan sosial di luar rumah. 

Mama perlu lebih jeli dalam membaca perubahan suasana hati anak melalui bahasa tubuh atau perubahan perilaku kecil lainnya karena sering kali mereka mengharapkan Mama mengerti tanpa mereka harus mengucapkannya secara langsung. 

Meluangkan waktu dengan anak tanpa gangguan gadget atau aktivitas lain merupakan cara terbaik bagi Mama untuk menunjukkan bahwa perhatian Mama tetap utuh dan selalu ada bagi mereka kapan pun dibutuhkan.

7. Bilang "tidak apa-apa" padahal sedang tidak baik-baik saja

Anak dan Mama
Freepik

Sering kali anak usia sekolah akan mengatakan kalimat seperti "aku nggak peduli" atau "biarkan saja" saat mereka mengalami kegagalan atau konflik sosial, namun sebenarnya hal tersebut akan terus mereka pikirkan sepanjang malam dengan penuh kegelisahan. 

Sikap acuh tak acuh tersebut hanyalah sebuah mekanisme pertahanan diri untuk menutupi rasa malu atau rasa takut yang mereka rasakan agar tidak terlihat lemah di mata orang lain maupun orangtua mereka sendiri. 

Apa yang paling anak butuhkan saat mereka sedang berjuang dengan perasaan tersebut adalah pemahaman yang mendalam, jaminan keamanan emosional, serta cinta yang tulus dari Mama tanpa adanya dihakimi sedikit pun. 

Mama harus belajar untuk menembus benteng pertahanan tersebut dengan pendekatan yang lembut dan meyakinkan bahwa setiap tantangan yang mereka hadapi adalah bagian dari proses pertumbuhan yang wajar. 

Memberikan cinta dan dukungan yang tidak bersyarat akan membantu anak melepaskan beban pikirannya sehingga mereka dapat tidur dengan tenang dan siap menghadapi hari esok dengan semangat yang baru.

Intinya, Ma, menghadapi perubahan emosional di usia 6-10 tahun ini memang membutuhkan kesabaran yang luar biasa agar Mama tetap bisa menjadi tempat berlindung yang paling nyaman bagi anak.

Memberikan rasa aman dan cinta tanpa syarat adalah kunci utama agar anak tetap memiliki kekuatan untuk membangun rasa percaya diri yang sehat di tengah dunia luar yang semakin kompleks.

Jadi, sudahkah Mama memberikan pelukan hangat pada anak Mama? 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More