- expressive language disorder (kesulitan mengekspresikan bahasa),
- receptive language disorder (kesulitan memahami bahasa), dan
- mixed receptive-expressive language disorder (kesulitan memahami sekaligus mengekspresikan bahasa).
7 Ciri-Ciri Receptive Language Disorder pada Remaja

- Receptive language disorder adalah gangguan yang membuat remaja kesulitan memahami bahasa lisan, meski kemampuan berpikir dan pendengaran mereka normal.
- Tanda-tandanya meliputi kesulitan mengikuti percakapan, salah memahami konteks, sulit menangkap humor, hingga tampak pasif dalam interaksi sosial.
- Dukungan dan evaluasi profesional penting agar remaja dengan kondisi ini dapat mengembangkan kemampuan komunikasi serta kepercayaan diri secara optimal.
Kemampuan memahami bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari remaja. Melalui keterampilan ini, mereka dapat mengikuti pelajaran di kelas, memahami instruksi, serta menjalin komunikasi dengan teman sebaya. Ketika kemampuan memahami bahasa mengalami hambatan, remaja bisa terlihat kesulitan mengikuti percakapan atau menangkap maksud dari orang lain.
Dilansir dar laman understood.org Kondisi tersebut dikenal sebagai receptive language disorder, yaitu gangguan yang membuat seseorang kesulitan memahami bahasa lisan. Masalah ini bukan disebabkan oleh gangguan pendengaran maupun tingkat kecerdasan. Remaja dengan kondisi ini tetap memiliki kemampuan berpikir yang baik, tetapi mengalami tantangan dalam memahami makna dari kata, kalimat, atau percakapan. Secara umum, language disorder terbagi menjadi tiga jenis, yaitu
Tanda-tanda receptive language disorder sering kali baru terlihat lebih jelas saat anak memasuki usia sekolah hingga remaja. Mereka mungkin tidak merespons dengan tepat, memberikan jawaban di luar konteks, atau salah memahami maksud orang lain.
Berikut Popmama.com telah merangkum 7 ciri-ciri receptive language disorder pada remaja.
1. Kesulitan mengikuti percakapan kelompok

Remaja dengan receptive language disorder sering kesulitan mengikuti percakapan yang melibatkan banyak orang. Mereka mungkin kehilangan alur pembicaraan karena harus memproses terlalu banyak informasi sekaligus.
Akibatnya, mereka cenderung diam atau hanya mendengarkan tanpa benar-benar memahami topik yang dibicarakan. Kondisi ini juga dapat membuat remaja merasa tertinggal dalam interaksi sosial.
2. Jarang bertanya atau memberikan komentar saat diskusi

Dalam situasi diskusi kelas atau percakapan, remaja dengan kondisi ini biasanya lebih pasif. Mereka jarang mengajukan pertanyaan atau memberikan pendapat.
Hal ini bukan karena tidak tertarik, tetapi karena mereka kesulitan memahami konteks pembicaraan. Ketika tidak memahami topik, mereka menjadi ragu untuk ikut berpartisipasi.
3. Dapat mengingat detail, tetapi sulit memahami konteks besar

Beberapa remaja mungkin mampu mengingat informasi kecil secara spesifik. Namun, mereka kesulitan memahami gambaran besar dari informasi tersebut.
Misalnya, mereka mengingat kalimat tertentu, tetapi tidak memahami tujuan atau makna keseluruhan percakapan. Hal ini dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam memahami pelajaran di sekolah.
4. Sering salah memahami apa yang dikatakan orang lain

Remaja dengan receptive language disorder dapat menafsirkan perkataan orang lain secara keliru. Mereka mungkin memahami instruksi dengan cara berbeda dari yang dimaksudkan.
Kesalahpahaman ini bisa menyebabkan kebingungan, baik dalam situasi akademik maupun sosial. Bahkan, mereka dapat merespons dengan jawaban yang tidak sesuai konteks.
5. Sulit memahami humor atau makna kiasan

Remaja dengan kondisi ini biasanya memahami bahasa secara literal. Mereka kesulitan menangkap lelucon, sindiran, atau ungkapan kiasan.
Akibatnya, mereka bisa terlihat bingung saat orang lain tertawa atau bercanda. Hal ini juga dapat membuat mereka merasa kurang percaya diri dalam lingkungan sosial.
6. Terlihat kurang tertarik dalam percakapan

Karena kesulitan memahami pembicaraan, remaja mungkin tampak tidak tertarik saat diajak berbicara. Mereka cenderung memberikan respons singkat atau menghindari percakapan panjang.
Padahal, sikap tersebut bukan karena tidak peduli. Mereka hanya merasa kesulitan mengikuti alur komunikasi yang berlangsung.
7. Menghindari kegiatan sosial atau ekstrakurikuler

Remaja dengan receptive language disorder terkadang menghindari kegiatan kelompok seperti klub sekolah atau aktivitas setelah jam pelajaran. Situasi tersebut biasanya melibatkan banyak interaksi verbal.
Menghindari kegiatan sosial bisa menjadi cara mereka mengurangi rasa tidak nyaman. Namun, jika dibiarkan, hal ini dapat memengaruhi perkembangan sosial dan kepercayaan diri remaja.
Jika Mama melihat beberapa tanda di atas pada remaja, penting untuk tidak langsung menganggapnya sebagai sikap malas atau tidak fokus. Bisa jadi mereka sedang mengalami kesulitan dalam memahami bahasa. Dengan dukungan yang tepat, termasuk evaluasi dari tenaga profesional, remaja tetap dapat mengembangkan kemampuan komunikasi dengan lebih optimal.


















