Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Tangan Anak Usia 10 Tahun Bengkak dan Cacat Setelah Dipijat Dukun

Tangan Anak Usia 10 Tahun Bengkak dan Cacat Setelah Dipijat Dukun
Freepik/wirestock
Intinya Sih
  • Seorang anak berusia 10 tahun jatuh dan tidak bisa menggerakkan tangan, tetapi malah dibawa ke dukun pijat, bukan ke tenaga medis.

  • Pijatan keras tanpa pemeriksaan membuat kondisi tangan semakin parah hingga harus menjalani operasi darurat.

  • Meski selamat, anak mengalami cacat. Dokter mengingatkan para orangtua untuk selalu memilih penanganan medis yang tepat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Mama pasti sangat khawatir ketika anak terjatuh dan mengeluh kesakitan pada bagian tubuh tertentu. Dalam kondisi panik, terkadang ada Mama yang langsung membawa anak ke dukun pijat atau tukang urut dengan harapan cepat sembuh tanpa harus ke rumah sakit.

Namun keputusan tersebut ternyata bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecacatan pada anak. Dua orang dokter orthopaedi bernama dr Fahmi Ansori dan dr Robby Triangga baru-baru ini membagikan cerita mengejutkan di akun Instagram @fhmanshori dan @dr.robby_triangga tentang anak laki-laki yang mengalami kecacatan seumur hidup akibat dipijat dukun.

Berikut Popmama.com rangkum tangan anak yang cacat setelah dipijat dukun, ini peringatan dokter yang perlu Mama ketahui agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Table of Content

1. Jatuh saat bermain dan mengeluh nyeri

1. Jatuh saat bermain dan mengeluh nyeri

Tangan cedera
Freepik/stockking

Kasus ini berawal dari seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang mengalami kecelakaan jatuh saat sedang bermain.

Setelah jatuh, anak tersebut langsung mengeluh kesakitan yang sangat hebat pada bagian tangannya dan tidak bisa menggerakkan tangannya sama sekali.

Kondisi ini sebenarnya merupakan tanda yang jelas bahwa ada cedera serius yang memerlukan pemeriksaan medis profesional sesegera mungkin.

Alih-alih membawa anak ke fasilitas kesehatan yang tepat, orangtua memutuskan untuk membawa sang anak ke dukun pijat atau tukang urut.

Keputusan ini kemungkinan diambil karena berbagai alasan seperti kepercayaan turun temurun terhadap pengobatan alternatif, biaya yang dianggap lebih murah, atau jarak yang lebih dekat dibanding rumah sakit.

2. Dukun memijat dengan keras hingga tangan bengkak

Tangan berdarah
Freepik

Dukun pijat yang didatangi kemudian melakukan pijatan dengan tekanan yang sangat keras pada tangan anak yang cedera, seperti sedang memeras handuk dengan kuat. Teknik pijatan ini dilakukan tanpa pemeriksaan terlebih dahulu untuk mengetahui jenis cedera yang sebenarnya terjadi.

Hasilnya sangat mengerikan, tangan anak tersebut membengkak dengan ukuran yang sangat besar hingga menyerupai balon yang ditiup penuh. Warna kulit tangan berubah menjadi merah kehitaman yang menandakan adanya kerusakan pembuluh darah dan jaringan yang sangat parah. Yang lebih mengerikan lagi, kondisi tangan anak tersebut juga terlihat seperti melepuh layaknya luka bakar yang sangat parah.

Menurut informasi dari ibu sang anak, dukun tersebut menggunakan minyak urut biasa dalam prosesnya, namun kemungkinan besar kerusakan masif pada tangan terjadi akibat tekanan pijatan dukun tulang yang terlalu keras dan tidak terkontrol sehingga merusak jaringan lunak, pembuluh darah, otot, dan saraf di dalam tangan.

3. Dibawa ke rumah sakit dan menjalani operasi darurat

Ruang operasi
Freepik/peoplecreations

Melihat kondisi tangan anaknya yang semakin parah, orangtua akhirnya sadar dan langsung membawa anak ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis yang sesungguhnya.

Di rumah sakit, dr Fahmi Ansori dan dr Robby Triangga sebagai dokter orthopaedi yang menangani kasus ini langsung melakukan tindakan operasi darurat untuk menyelamatkan tangan anak tersebut.

"Kami lakukan fasciotomy cito untuk menyelamatkan tangan dan mencegah komplikasi lebih parah, pasca operasi kondisi pasien stabil. Tangan dan lengannya bisa diselamatkan dan tidak ada tanda sindrom rabdomiolisi," jelas dr Fahmi.

Setelah operasi darurat tersebut, anak harus dirawat dengan sangat telaten di rumah sakit selama kurang lebih 6 bulan untuk pemulihan dan penanganan lanjutan agar kondisinya bisa membaik secara bertahap.

4. Alami kecacatan claw hand

Tangan cedera
Freepik/stockking

Meskipun tangan anak tersebut berhasil diselamatkan dan tidak harus diamputasi berkat penanganan cepat dan tepat dari tim medis, namun kerusakan jaringan yang terjadi sudah terlalu masif dan parah. Akibatnya, tangan anak mengalami kecacatan permanen dengan posisi yang disebut claw hand atau tangan cakar yang akan bertahan seumur hidup.

"Jaringan lunak dan tulangnya sudah sembuh, akan tetapi kerusakan otot dan sarafnya sulit untuk kembali pulih sehingga tampak claw hand," ungkap dr Fahmi.

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti apakah tangan anak laki-laki tersebut bisa diluruskan kembali atau tidak karena masih memerlukan penanganan sub spesialistik yang lebih lanjut dan kompleks.

5. Peringatan tegas untuk semua orangtua

Dokter membalut tangan dengan perban
Freepik/jcomp

Melalui kasus yang sangat memprihatinkan ini, dr Fahmi dan dr Robby memberikan peringatan tegas kepada semua orangtua di Indonesia agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

"Jangan takut ke dokter orthopaedi. Carilah informasi medis yang tepat," tegas dr Fahmi.

Ketakutan untuk pergi ke dokter karena biaya yang mahal sebenarnya tidak beralasan karena Indonesia memiliki sistem BPJS yang menanggung berbagai jenis pengobatan termasuk penanganan patah tulang.

Dokter orthopaedi adalah spesialis yang terlatih secara khusus untuk menangani masalah tulang, sendi, otot, ligamen, dan tendon dengan pengetahuan medis yang sangat mendalam dan alat diagnostik yang canggih seperti rontgen, CT scan, atau MRI.

Dukun pijat atau tukang urut tidak memiliki kemampuan untuk membedakan apakah cedera yang terjadi adalah patah tulang, retak, keseleo, atau robekan ligamen sehingga pijatan yang mereka lakukan justru bisa memperparah kondisi dan menyebabkan kecacatan permanen seperti kasus di atas.

Orangtua harus bijak dalam mengambil keputusan terkait kesehatan anak dan tidak terpengaruh mitos atau kepercayaan yang tidak berdasar ilmu medis.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More