Vaksinasi masih menjadi salah satu upaya penting untuk membantu tubuh membangun perlindungan terhadap infeksi yang lebih berat.
Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan secara rutin dan menerapkan etika batuk tetap perlu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Penggunaan masker medis berkualitas tinggi seperti N95 atau KN95 juga disarankan terutama saat berada di ruang tertutup atau tempat ramai.
Memantau kondisi kesehatan anak secara berkala, termasuk memeriksa saturasi oksigen jika diperlukan, meskipun gejala yang muncul tergolong ringan. Hal ini penting untuk mendeteksi kemungkinan penurunan kondisi sejak dini.
Mengingat penyebaran varian ini juga berkaitan dengan mobilitas internasional, kewaspadaan perlu ditingkatkan bagi keluarga yang berencana bepergian ke luar negeri. Memastikan kondisi kesehatan sebelum dan setelah perjalanan menjadi langkah penting untuk mencegah penularan.
Kewaspadaan terhadap gejala sekecil apa pun menjadi langkah awal yang penting dalam menghadapi perkembangan varian baru, terutama untuk melindungi anak dan keluarga.
Waspada Penularan Covid Varian Cicada pada Anak yang Menyebar di 25 Negara

- Varian COVID-19 BA.3.2 atau Cicada telah terdeteksi di lebih dari 25 negara sejak pertama kali muncul di Afrika Selatan, menunjukkan penyebaran global yang cukup luas sepanjang tahun 2025.
- Varian Cicada memiliki sekitar 70–75 mutasi pada spike protein, membuatnya berpotensi menghindari antibodi meski belum terbukti menyebabkan peningkatan kasus berat atau rawat inap secara signifikan.
- Gejala varian ini mirip flu biasa seperti demam, batuk, dan kelelahan, namun sering disertai sakit tenggorokan tajam serta gangguan pencernaan; kewaspadaan dan pemeriksaan dini tetap dianjurkan.
Anak tiba-tiba sakit tanpa sebab yang jelas sering membuat Mama dan Papa khawatir. Apalagi jika gejalanya mirip flu biasa, seperti demam, batuk, atau kelelahan, banyak yang menganggapnya ringan.
Namun, kondisi ini tetap perlu diwaspadai. Munculnya varian baru COVID-19 kembali menjadi perhatian karena bisa memengaruhi pola penyebaran dan gejala pada anak maupun orang dewasa.
Salah satu varian yang mulai disorot adalah BA.3.2 yang dijuluki Cicada. Meski belum dikategorikan sebagai ancaman besar, penyebarannya yang luas membuat Mama perlu lebih waspada terhadap perubahan kondisi kesehatan anak.
Berikut Popmama.com rangkum informasi tentang varian Cicada yang perlu Mama ketahui!
Table of Content
1. Varian Cicada sudah menyebar ke banyak negara

Varian COVID-19 BA.3.2 yang dikenal dengan sebutan Cicada kini telah terdeteksi di sedikitnya 25 negara di berbagai belahan dunia. Varian ini pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan pada November 2024. Setelah sempat tidak terpantau dalam periode tertentu, varian ini kembali muncul dan mulai menyebar lebih luas sepanjang tahun 2025 sehingga menarik perhatian global.
Penyebarannya mencakup berbagai wilayah. Di Afrika, varian ini ditemukan di Afrika Selatan sebagai asal temuan, serta Botswana dan Kenya. Di kawasan Eropa, kasus terdeteksi di Inggris, Jerman, Prancis, Denmark, Belanda, Italia, Spanyol, Swedia, hingga Swiss.
Sementara itu, di wilayah Amerika, varian ini muncul di Amerika Serikat, Kanada, Brasil, dan Chili. Di Asia dan Timur Tengah, penyebaran terpantau di Israel, India, Singapura, Jepang, Korea Selatan, Thailand, hingga Uni Emirat Arab. Tidak hanya itu, wilayah Oseania seperti Australia dan Selandia Baru juga melaporkan keberadaan varian ini.
Cakupan penyebaran yang luas ini menunjukkan bahwa mobilitas global masih menjadi faktor utama dalam penyebaran varian baru COVID-19.
2. Asal usul dan mutasi tinggi varian Cicada

Secara ilmiah, BA.3.2 merupakan turunan dari varian Omicron. Namun, yang membuatnya berbeda adalah jumlah mutasinya yang jauh lebih tinggi, yaitu sekitar 70 hingga 75 mutasi pada bagian spike protein. Bagian ini berperan penting dalam proses virus masuk ke dalam sel tubuh manusia.
Julukan Cicada diberikan karena pola kemunculan varian ini yang menyerupai serangga yang muncul kembali setelah lama “bersembunyi”. Setelah sempat tidak terdeteksi, varian ini kembali muncul dan menyebar dalam waktu relatif singkat, sehingga menarik perhatian para peneliti.
Deteksi varian ini dilakukan melalui berbagai metode. Selain dari sampel klinis pasien, pelacakan perjalanan internasional juga menjadi sumber penting dalam mengidentifikasi penyebarannya. Bahkan, pemantauan lingkungan seperti air limbah turut digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus di suatu wilayah.
Banyaknya mutasi tersebut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kemampuan virus dalam menginfeksi sel sekaligus menghindari respons sistem imun tubuh.
3. Potensi penularan dan tingkat keparahan

Perhatian terhadap varian Cicada meningkat karena adanya fenomena yang disebut sebagai lonjakan mutasi dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat virus berpotensi lebih mudah menghindari antibodi, sehingga memungkinkan seseorang tetap terinfeksi meskipun sudah divaksin atau pernah terpapar COVID-19 sebelumnya.
Meski demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan varian ini dalam menginfeksi sel paru-paru cenderung lebih rendah dibandingkan beberapa varian sebelumnya. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa hingga saat ini belum terlihat peningkatan signifikan pada kasus berat maupun angka rawat inap.
Kasus varian Cicada telah dilaporkan di berbagai wilayah, termasuk Eropa dan Amerika. Dalam sejumlah temuan, varian ini terdeteksi melalui sistem surveillance tanpa diikuti lonjakan besar dalam tingkat keparahan penyakit.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun penyebarannya cukup luas, dampaknya masih dalam tahap pemantauan. Situasi tersebut belum dikategorikan sebagai ancaman besar, tetapi tetap perlu diwaspadai karena kombinasi antara penyebaran global dan kemampuannya dalam menghindari imunitas tubuh.
4. Gejala varian Cicada pada anak

Secara umum, gejala yang ditimbulkan oleh varian Cicada tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok dibandingkan varian Omicron lainnya. Gejala yang paling sering dilaporkan masih berkisar pada demam, batuk, sakit tenggorokan, kelelahan, serta nyeri tubuh.
Namun, ada beberapa keluhan yang terasa lebih dominan. Banyak pasien melaporkan sakit tenggorokan yang terasa lebih intens, seperti sensasi nyeri atau mengganjal yang cukup mengganggu. Selain itu, kelelahan ekstrem juga sering muncul secara tiba-tiba, bahkan tanpa aktivitas berat sebelumnya. Sakit kepala dan nyeri otot di seluruh tubuh juga menjadi tanda awal yang cukup umum.
Pada saluran pernapasan atas, gejala yang muncul bisa berupa hidung tersumbat atau meler, batuk kering, serta bersin yang menyerupai flu biasa. Demam yang terjadi umumnya tidak terlalu tinggi, tetapi bisa bertahan selama beberapa hari.
Dalam beberapa kasus, ditemukan pula gejala tambahan seperti gangguan pencernaan berupa diare, mual, hingga muntah. Selain itu, sebagian kecil pasien juga mengalami kehilangan indra penciuman atau perasa, serta kondisi brain fog yang ditandai dengan kesulitan berkonsentrasi atau merasa linglung selama masa infeksi.
5. Perbedaan Cicada dengan flu biasa

Karena gejalanya sangat mirip dengan infeksi saluran pernapasan lainnya, penting bagi Mama untuk memahami perbedaan antara varian Cicada dan flu musiman. Sekilas, keduanya memang sama-sama menyebabkan batuk dan demam, sehingga sering sulit dibedakan di awal.
Namun, infeksi varian ini cenderung ditandai dengan sakit tenggorokan yang terasa lebih tajam dan tidak nyaman dibandingkan flu biasa. Selain itu, rasa lemas yang dialami juga sering berlangsung lebih lama dan terasa lebih berat, meskipun aktivitas yang dilakukan tidak terlalu banyak.
Perbedaan lain dapat terlihat dari munculnya gejala tambahan yang jarang ditemukan pada flu biasa, seperti gangguan pencernaan atau perasaan linglung. Kondisi ini bisa menjadi petunjuk bahwa infeksi yang terjadi merupakan COVID-19, bukan sekadar flu ringan.
Memahami perbedaan ini penting karena penanganan dan kebutuhan isolasi pada COVID-19 berbeda dengan flu biasa, sehingga tidak boleh diabaikan.
6. Kapan anak perlu dibawa ke dokter

Mama dan Papa perlu lebih waspada ketika anak menunjukkan gejala yang tidak kunjung membaik atau justru semakin memburuk. Jika demam berlangsung lebih dari beberapa hari, disertai kelelahan ekstrem, atau anak terlihat sangat lemas, maka sebaiknya segera diperiksakan ke dokter.
Selain itu, gejala seperti kesulitan bernapas, nyeri dada, muntah terus-menerus, atau penurunan kesadaran menjadi tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan. Pada kondisi ini, penanganan medis harus segera dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Anak yang mengalami gejala tambahan seperti gangguan pencernaan, kehilangan nafsu makan, atau kesulitan berkonsentrasi juga perlu mendapatkan perhatian lebih. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu memastikan penyebab infeksi sekaligus menentukan langkah penanganan yang tepat.
Dengan begitu, Mama dan Papa tidak hanya mengandalkan asumsi bahwa gejala tersebut adalah flu biasa, tetapi benar-benar memastikan kondisi kesehatan anak secara menyeluruh.
7. Cara mencegah dan meningkatkan kewaspadaan

Dalam menghadapi perkembangan varian baru seperti Cicada, langkah pencegahan tetap menjadi kunci utama.
Intinya, Ma, Meski belum menunjukkan dampak berat, penyebaran varian Cicada tetap perlu diwaspadai, terutama ketika anak tiba-tiba sakit dengan gejala mirip flu.
Sudahkah Mama cukup peka membedakan gejala flu biasa dengan kemungkinan infeksi COVID-19 pada anak?


















