Apa Itu Parental Burnout dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Berdampak pada kesehatan mental orangtua dan anak

5 Agustus 2020

Apa Itu Parental Burnout Bagaimana Cara Mengatasinya
Freepik/Bearfotos

Hal yang perlu dihadapi sebagai orangtua adalah mengetahui bahwa pengasuhan anak merupakan hal sulit. Bahkan jika dalam keadaan terbaik, seperti Mama dan Papa bekerja sama dengan baik, diberikan dukungan, dan anak-anak yang bahagia dan sehat.

Namun sebenarnya, tanggung jawab membesarkan dan mendidik anak adalah tugas yang menakutkan. Tanggung jawab yang dipikul oleh orangtua ini bukanlah hal yang mudah dan bisa menyebabkan tekanan.

Kondisi tertekan yang dialami oleh orangtua ini telah diidentifikasi sebagai suatu sindrom yang dikenal dengan Parental Burnout.

Kondisi ini berdampak pada kesehatan fisik dan mental orangtua yang membuatnya sering menyalahkan diri sendiri dan merasa malu karena tidak pantas dianggap sebagai orangtua.

Untuk lebih jelasnya tentang Parental Burnout, kali ini Popmama.com telah merangkumnya di bawah ini:

1. Apa itu Parental Burnout?

1. Apa itu Parental Burnout
Pexels/Andrea Piacquadio

Parental Burnout adalah kondisi yang menyerang orangtua bisa mengalami kelelahan secara fisik, mental dan emosional. Kondisi ini kemudian memengaruhi cara parenting yang diterapkan pada anak.

Kondisi ini juga membuat orangtua mengalami kelelahan kronis, seperti sering mengalami masalah tidur dan konsentrasi. Jika kondisinya semakin parah, bisa menyebabkan depresi, kecemasan kronis, dan penyakit.

Ada stigma yang terkait dengan Parental Burnout ini, akibatnya orangtua seringkali menyembunyikan apa yang mereka alami, dan tidak menjangkau dukungan praktis dan emosional.

Editors' Picks

2. Tanda-tanda parental burnout yang harus diwaspadai

2. Tanda-tanda parental burnout harus diwaspadai
Freepik

Parental Burnout disertai dengan serangkaian gejala tertentu. Salah satu tanda awalnya adalah kelelahan fisik dan mental yang ekstrem. Selain itu, tanda-tanda parental burnout lainnya meliputi:

  • Pikiran untuk bunuh diri dan melarikan diri karena merasa terjebak
  • Peningkatan perilaku adiktif
  • Masalah kesehatan
  • Risiko kecemasan dan depresi lebih tinggi
  • Lebih sensitif atau emosional
  • Mudah marah dan frustrasi
  • Gangguan tidur
  • Lebih sering bertengkar dengan pasangan
  • Perasaan tidak mampu, seperti kehilangan rasa percaya diri yang terkait dengan pengasuhan anak
  • Lalai dalam merawat anak
  • Muncul perilaku kekerasan verbal dan fisik terhadap anak

3. Faktor-faktor yang meningkatkan dan mengurangi stres saat mengasuh anak

3. Faktor-faktor meningkatkan mengurangi stres saat mengasuh anak
Freepik/yanalya

Pengasuhan anak dapat menghabiskan energi dan meningkatkan energi. Untuk menghindari kondisi parental burnout ini, kuncinya adalah mengetahui aspek-aspek pengasuhan apa yang bisa meningkatkan stres agar bisa dikurangi, serta faktor dalam mengurangi stress agar lebih ditingkatkan.

Misalnya, faktor-faktor yang meningkatkan stres meliputi:

  • Memiliki anak dengan tantangan kesehatan fisik atau mental
  • Perfeksionisme, merasa Mama harus menjadi orangtua yang "sempurna" setiap saat
  • Kurangnya dukungan dari pasangan
  • Kedua orangtua bekerja di luar rumah
  • Kekhawatiran finansial
  • Tidak cukup dukungan dari pihak keluarga besar ataupun sahabat
  • Sulit untuk meminta bantuan

Faktor-faktor yang mengurangi stres termasuk:

  • Kasih sayang orangtua
  • Kecerdasan emosional yang tinggi
  • Memprioritaskan waktu istirahat 
  • Pengalaman pengasuhan bersama pasangan yang positif
  • Mendapatkan dukungan eksternal dari keluarga, teman, dll.

4. Lima cara untuk mengatasi Parental Burnout

4. Lima cara mengatasi Parental Burnout
Freepik/pressfoto

Meminta bantuan.

Tak perlu malu untuk mengakui kekurangan dalam diri pada pasangan, keluarga, dan sahabat. Mengutarakan keluh kesah dapat mengurangi sedikit beban yang dimiliki, bahkan dengan ini Mama juga bisa mendapatkan dukungan dan bantuan dari mereka.

Namun, jika kondisi ini masih dialami, jangan ragu untuk bertemu dengan ahli kesehatan yang dapat mengatasi depresi, kecemasan, atau tantangan kesehatan mental lainnya.

Ketahuilah bahwa Mama tidak sendirian.

Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian, kondisi ini wajar dan sering terjadi. Buang rasa malu dan bersalah yang tidak membantu. Berhenti menyalahkan diri sendiri akan meningkatkan energi emosional yang bisa digunakan untuk membuang pemikiran yang tidak berguna.

Berlatih belas kasih diri.

Belas kasih diri melibatkan sikap penerimaan dan kebaikan yang konsisten terhadap diri sendiri. Mengambil pendekatan ini dapat membantu orangtua menghindari jebakan perfeksionisme.

Bergabunglah dengan grup pendukung.

Dalam kelompok pendukung, orangtua dapat berbicara dengan orangtua lainnya yang memahami tantangan, emosi, dan permasalahan yang mereka hadapi setiap hari.

Membangun struktur.

Mama dan Papa dapat mengurangi kelelahan dengan menetapkan batasan yang jelas dan aturan rumah. Struktur ini berfungsi paling baik ketika dibuat secara kolaboratif bersama anak, dan didasarkan pada komunikasi terbuka, kepercayaan, dan penuh rasa cinta

Jika Mama mulai merasakan gejala dari Parental Burnout, mulai tangani sejak dini agar kondisi tidak semakin meningkat dan menyebabkan permasalahan pada kesehatan fisik dan mental lainnya. Serta mulai peka pada kondisi diri sendiri dan jangan ragu untuk terbuka satu sama lain. 
Berikut tadi informasi mengenai parental burnout dan cara mengatasi parental burnout.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.