“Jangka pendek dia bisa hilang fokus, lemas atau gampang marah,” jelas dr. Nany.
3 Dampak Anak Tidak Dapat Gizi Seimbang, Berisiko Gagal Tumbuh Kembang

- Dampak jangka pendek: Fokus, energi, dan kesehatan terpengaruh.
- Dampak jangka panjang: Risiko gagal tumbuh dan kognitif terhambat.
- Peran makanan ultra-processed dan pentingnya pencegahan dini.
Pola makan anak bukan hanya soal mengenyangkan perut, tetapi menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembangnya hingga masa remaja. Kekurangan gizi yang terjadi secara terus-menerus, terutama di masa emas pertumbuhan, dapat berdampak serius dan berujung pada kegagalan tumbuh kembang.
Kondisi ini sering kali tidak disadari sejak awal karena gejalanya muncul perlahan, mulai dari penurunan fokus hingga perubahan fisik. Hal itu dijelaskan oleh dr. Nany Leksokumoro, Sp. GK., Spesialis Gizi Klinik dari Eka Hospital Pluit pada Popmama Talk Januari 2026.
Jika dibiarkan, pola makan tidak sehat dapat memengaruhi tinggi badan, berat badan, perkembangan otak, hingga kondisi emosional anak dalam jangka panjang.
Berikut Popmama.com rangkum deretan dampak anak tidak dapat gizi seimbang, berisiko gagal tumbuh kembang lho.
1. Dampak jangka pendek: Fokus, energi, dan kesehatan terpengaruh

dr. Nany Leksokumoro, Sp. GK., menyebutkan bahwa anak yang kekurangan gizi seimbang seringkali mengalami perubahan fungsi tubuh dalam waktu relatif cepat. Nutrisi yang kurang dapat membuat anak mudah lemas, kehilangan fokus, dan cepat marah.
Hal yang biasa dialami ketika tubuh kekurangan vitamin, mineral, atau energi yang cukup untuk menjalankan aktivitas hariannya. Kondisi seperti ini menunjukkan fungsi tubuh dan otak belum bekerja optimal tanpa asupan nutrisi yang tepat.
Selain itu, kurangnya nutrisi memperlemah sistem imun anak membuatnya lebih rentan terhadap penyakit seperti infeksi pernapasan atau gangguan pencernaan. Ini juga berdampak pada frekuensi sakitnya anak, sehingga bisa mengganggu rutinitas sekolah dan proses belajarnya.
2. Dampak jangka panjang: Risiko gagal tumbuh dan kognitif terhambat

Jika kondisi pola makan tidak sehat dan kekurangan gizi berlangsung terus menerus, anak berisiko mengalami gagal tumbuh kembang (stunting) kondisi di mana tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya.
Stunting tidak hanya memengaruhi tinggi badan saja, tetapi juga perkembangan otak dan fungsi kognitif. Anak stunting cenderung memiliki kemampuan belajar dan konsentrasi yang rendah dibanding teman seusianya.
“Tingginya kurang, beratnya kurang, lalu kita lihat lho kok rambutnya pirang, sudah kurus, pirang, kulitnya tidak cerah, tampak kering, matanya sayu ini kita perhatikan dampak dari makanan yang kurang bergizi seimbang mulai ke arah gagal tumbuh kembang,” pungkas dr. Nany.
Stunting juga terkait dengan keterlambatan perkembangan kognitif, motorik, serta gangguan emosional pada masa remaja dan dewasa. Perkembangan otak yang terganggu akibat kekurangan nutrisi penting sejak dini dapat berdampak pada prestasi akademik dan kemampuan beradaptasi di kemudian hari.
3. Peran makanan ultra-processed dan pentingnya pencegahan dini

Konsumsi makanan ultra-processed yang tinggi gula, lemak jenuh, dan rendah nutrisi sebenarnya memberi kalori tetapi tidak cukup memberikan zat gizi penting untuk tumbuh kembang optimal.
Anak yang sering mengonsumsi jenis makanan seperti ini bisa terlihat “cukup kenyang”, namun sebenarnya tubuhnya kekurangan vitamin dan mineral yang diperlukan untuk fungsi otak, imunitas, dan pertumbuhan tulang.
“Kalau jangka panjang itu misalnya berdiri di kelas tapi paling kecil, ternyata dampak daripada makanan yang UPF atau disertai dengan makanan yang tidak seimbang adalah gagal tumbuh kembang tadi,” jelas dr. Nany.
Menurutnya, pencegahan dini melalui pola makan sehat sejak kecil sangat penting untuk menghindari dampak jangka panjang. Orangtua perlu memperhatikan keseimbangan karbohidrat, protein, lemak, serta mikronutrien seperti zat besi, vitamin, dan mineral untuk mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
POPMAMA TALK Januari 2026 - dr. Nany Leksokumoro, Sp. GK
Spesialis Gizi Klinik dari Eka Hospital Pluit
Senior Editor - Novy Agrina
Editor - Onic Metheany & Denisa Permataningtias
Content Writer - Putri Syifa Nurfadilah & Sania Chandra Nurfitriana
Script - Sania Chandra Nurfitriana
Social Media - Irma Erdiyanti
Photographer - Hari Firmanto
Videographer - Hari Firmanto
Video Editor - Hari Firmanto
Design - Aristika Medinasari
















-M4H7b1ZhTVkhBHuYLMD96ShifBhBZlhx.jpg)

