Bahaya Abu Vulkanik pada Ibu Menyusui dan Cara Mencegahnya

Dampak Pernapasan & Fisik: Menghirup abu vulkanik berisiko memicu ISPA, iritasi mata, dan kulit gatal pada busui, yang berujung pada penurunan stamina untuk menyusui.
Risiko Produksi ASI & Kontaminasi: Stres serta dehidrasi akibat situasi darurat dapat menghambat produksi ASI, ditambah risiko pencemaran air, makanan, hingga kontaminasi abu ke bayi.
Langkah Pencegahan Utama: Mama perlu memakai masker N95, menjaga kebersihan diri serta suplai air/makanan, dan tetap tenang agar proses mengASIhi berjalan aman.
Bencana letusan gunung berapi yang mengeluarkan abu vulkanik sering kali menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi busui. Debu tajam berpartikel mikroskopis ini berdampak buruk pada kondisi fisik dan kesehatan tubuh.
Paparan partikel dan gas berbahaya abu vulkanik bisa memicu masalah kesehatan pada Mama. Jika fisik terganggu, proses mengASIhi si Kecil pun bisa terhambat akibat penurunan stamina.
Memahami risikonya membantu Mama mengambil langkah pencegahan yang tepat. Berikut Popmama.com bagikan bahaya abu vulkanik pada ibu menyusui dan cara mencegahnya!
Table of Content
1. Risiko infeksi saluran pernapasan akut yang mengganggu stamina

Popmama.com/Erica Santoso/AI Menghirup abu vulkanik dapat mengirritasi hidung, tenggorokan, hingga paru-paru. Kondisi ini meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) seperti batuk, pilek, hingga sesak napas pada busui.
Gangguan pernapasan ini membuat tubuh Mama terasa lemas dan cepat lelah. Akibatnya, stamina Mama untuk mendampingi serta menyusui si Kecil menjadi berkurang drastis.
Untuk mencegahnya, Mama wajib mengenakan masker medis atau N95 saat situasi darurat. Pastikan ventilasi rumah tertutup rapat agar abu tidak masuk ke dalam ruangan.
2. Penurunan produksi ASI akibat kondisi stres dan cemas berlebih

Popmama.com/Erica Santoso/AI Situasi darurat akibat erupsi rentan memicu stres psikologis pada ibu menyusui. Rasa cemas terhadap keselamatan keluarga bisa mengganggu hormon oksitosin yang berperan penting dalam proses keluarnya ASI.
Ketika hormon oksitosin terhambat, refleks let-down (LDR) menjadi tidak lancar sehingga ASI sulit keluar. Kondisi ini sering kali membuat Mama semakin panik dan tertekan.
Mama disarankan untuk tetap tenang dan mencari dukungan dari keluarga terdekat. Menciptakan suasana aman di dalam rumah akan membantu menjaga produksi ASI tetap stabil.
3. Bahaya dehidrasi yang berpotensi memicu penurunan volume ASI

Popmama.com/Erica Santoso/AI Berada di area terdampak abu vulkanik sering kali membuat udara terasa lebih kering dan panas. Kondisi ini membuat tubuh Mama kehilangan cairan lebih cepat melalui keringat dan pernapasan.
Jika busui mengalami dehidrasi, tubuh akan kesulitan memproduksi volume ASI yang cukup bagi si Kecil. Dehidrasi juga memperburuk kondisi fisik Mama saat beradaptasi di situasi darurat.
Pastikan Mama selalu mengonsumsi air putih secara teratur dalam jumlah cukup. Simpan persediaan air bersih di wadah tertutup rapat agar terhindar dari kontaminasi abu.
4. Risiko kontaminasi sumber air dan makanan harian busui

Popmama.com/Erica Santoso/AI Abu vulkanik mengandung mineral dan bahan kimia yang dapat mencemari sumber air minum serta makanan. Mengonsumsi air atau makanan tercemar bisa memicu masalah pencernaan seperti diare.
Gangguan pencernaan pada ibu menyusui akan menyerap banyak nutrisi dan energi tubuh. Hal ini berdampak langsung pada kualitas asupan yang dibutuhkan Mama untuk menjaga kesehatan.
Tutup rapat semua tandon air minum, wadah makanan, serta bahan dapur di rumah. Selalu cuci bersih bahan makanan dengan air mengalir sebelum diolah dan dikonsumsi.
5. Iritasi kulit dan gatal akibat paparan partikel abu tajam

Popmama.com/Erica Santoso/AI Sifat abrasif dan kimiawi pada partikel abu vulkanik dapat memicu iritasi pada kulit Mama. Paparan langsung sering kali menimbulkan gejala kulit kemerahan, terasa perih, gatal, hingga ruam.
Gatal dan perih di area kulit tentu sangat mengganggu kenyamanan Mama saat memeluk atau menyusui si Kecil. Gesekan abu juga berpotensi berpindah ke kulit bayi yang masih sensitif.
Gunakan pakaian berlengan panjang dan celana panjang saat harus beraktivitas. Segera mandi serta ganti pakaian yang bersih setelah kontak dengan udara luar.
6. Iritasi mata yang menghambat kenyamanan saat mengurus si Kecil

Popmama.com/Erica Santoso/AI Butiran abu vulkanik yang tajam sangat mudah masuk ke mata dan menyebabkan peradangan. Mata Mama bisa menjadi merah, berair, terasa ganjal, hingga nyeri mendalam.
Mata yang iritasi akan membatasi penglihatan dan membuat Mama merasa tidak nyaman. Aktivitas mengasuh serta menyusui si Kecil pun menjadi terhambat.
Gunakan kacamata pelindung jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan. Hindari mengucek mata dan segera bilas dengan air bersih mengalir jika terasa mengganjal.
7. Risiko kontaminasi silang partikel abu pada tubuh bayi

Popmama.com/Erica Santoso/AI Partikel abu yang menempel di baju, kulit, atau rambut Mama bisa secara tidak sengaja terhirup oleh bayi saat menyusu. Saluran pernapasan bayi yang sensitif sangat rentan terhadap paparan debu tajam.
Bayi yang terpapar abu vulkanik berisiko mengalami batuk, sesak napas, hingga gangguan kesehatan lainnya. Oleh sebab itu, kebersihan diri Mama sangat krusial sebelum kontak fisik dengan si Kecil.
Selalu bersihkan area dada, tangan, dan wajah Mama sebelum proses menyusui dimulai. Pastikan area tempat menyusui di dalam rumah benar-benar bebas dari debu.
Tetap waspada, jaga kebersihan lingkungan rumah, dan jangan ragu berkonsultasi ke tenaga medis jika mengalami gangguan kesehatan ya, Ma!




















