“Tenang ya Mom. Kabar baiknya, paparan debu singkat tidak secara langsung menyebabkan gangguan kesejahteraan janin atau keguguran,” tulis dr. Eko dalam unggahan di Instagram pribadinya @dr.ekosetiawan.spog.
Apakah Abu Vulkanik Berdampak pada Janin? Ini Kata Dokter

- Paparan abu vulkanik singkat tidak langsung menyebabkan gangguan janin atau keguguran, tetapi partikel dan gas yang terhirup dapat memicu peradangan serta stres oksidatif.
- Risiko kehamilan meningkat secara tidak langsung bila paparan mengganggu kesehatan ibu; dampaknya dapat berupa kelahiran prematur, berat lahir rendah, atau ukuran bayi kecil sesuai usia kehamilan.
- Ibu hamil disarankan membatasi aktivitas luar ruangan, memakai masker N95/KN95, menjaga rumah dan makanan dari abu, serta segera memeriksakan gejala berat atau tanda bahaya kehamilan.
Abu vulkanik yang menyebar setelah aktivitas gunung berapi dapat membuat kualitas udara di sekitar Mama berubah. Kondisi ini tentu perlu diperhatikan, terutama bagi ibu hamil yang berada di wilayah terdampak.
Berbeda dari debu yang biasa ditemukan sehari-hari, abu vulkanik dapat membawa partikel halus dan berbagai gas, seperti sulfur dioksida. Saat berada di udara, partikel tersebut bisa terhirup dan masuk melalui saluran pernapasan.
Paparan abu vulkanik juga dapat membuat Mama mengalami beberapa keluhan, mulai dari gangguan pernapasan hingga iritasi pada mata dan kulit. Oleh karena itu, penting untuk membatasi paparan dan memperhatikan kondisi tubuh selama berada di wilayah yang terdampak.
Lalu, apakah abu vulkanik berdampak pada janin? Berikut Popmama.com sudah merangkum penjelasannya untuk Mama.
Table of Content
Apakah Abu Vulkanik Berdampak pada Janin?

Pexels/Diego Girón Menurut dr. Eko Setiawan, Sp.OG, paparan debu dalam waktu singkat tidak secara langsung menyebabkan gangguan kesejahteraan janin atau keguguran.
Meski begitu, efek tidak langsung dari paparan abu vulkanik tetap perlu diwaspadai. Partikel yang terhirup dapat berkaitan dengan meningkatnya respons peradangan dan stres oksidatif. Kondisi tersebut dapat memengaruhi fungsi paru-paru, pembuluh darah, dan plasenta.
Gangguan pada kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi aliran darah dan oksigen menuju janin.
Risiko Abu Vulkanik pada Kehamilan

Magnific Jika paparan memengaruhi kondisi kesehatan Mama, kehamilan juga dapat terdampak secara tidak langsung. dr. Eko menyebutkan beberapa risiko pada bayi, yaitu:
- Bayi lahir prematur
- Berat lahir rendah
- Small for gestational age
Namun, terkena abu vulkanik dalam waktu singkat bukan berarti langsung membahayakan janin. Tingkat risiko dipengaruhi oleh konsentrasi abu, lama paparan, dan kondisi kesehatan Mama.
“Bukan berarti kena abu ‘sebentar’ langsung membahayakan janin. Risikonya dipengaruhi: seberapa tinggi konsentrasinya, seberapa lama terpapar, dan kondisi kesehatan Mom-nya,” tulis dr. Eko.
Bagi Mama yang memiliki asma atau penyakit pernapasan juga perlu lebih berhati-hati.
Gangguan Kesehatan yang Bisa Muncul

Magnific Selama berada di wilayah yang terdampak, Mama juga perlu memperhatikan kondisi tubuh. dr. Hendra Tandra, Sp.OG, lewat Instagram-nya @hendratandra.spog juga menjelaskan beberapa gangguan yang dapat muncul meliputi:
- Gangguan napas, seperti batuk, sesak, mengi, atau asma yang memberat.
- Iritasi mata, seperti mata merah, perih, dan berair.
- Iritasi kulit, seperti gatal dan kemerahan.
- Kontaminasi air dan makanan.
“Terpapar sebentar ≠ langsung bahaya untuk janin,” tulis dr. Hendra.
Menurutnya, yang menentukan risiko adalah seberapa banyak dan berapa lama Mama terpapar, serta kondisi kesehatan Mama. Namun, gangguan napas yang berat, dehidrasi, atau kondisi yang semakin memburuk dapat berdampak pada kehamilan secara tidak langsung.
Hal yang Perlu Dilakukan saat Terpapar Abu Vulkanik

Magnific Untuk mengurangi paparan, Mama dapat melakukan beberapa langkah sederhana yang disarankan oleh dr. Eko dan dr. Hendra, antara lain:
- Tetap berada di dalam rumah sebisanya dan kurangi aktivitas di luar.
- Tutup pintu dan jendela untuk membatasi abu masuk ke dalam rumah.
- Gunakan air purifier bila ada.
- Pakai masker N95 atau KN95 yang terpasang rapat di wajah jika harus keluar rumah.
- Hindari aktivitas fisik berat di luar rumah.
- Jangan menyapu abu dalam kondisi kering karena partikelnya dapat kembali beterbangan.
- Bersihkan mata dan wajah dengan air bersih tanpa menggosoknya.
- Simpan makanan dalam keadaan tertutup dan cuci bahan makanan sebelum diolah.
- Lanjutkan obat rutin sesuai anjuran dokter.
- Cukupi cairan dan istirahat.
Jika muncul sesak napas berat hingga sulit berbicara, nyeri dada, pusing berat, pingsan, penurunan kesadaran, atau demam, segera periksa ke dokter. Mama juga perlu segera mendapat pemeriksaan jika mengalami perdarahan, kontraksi teratur, atau gerak janin berkurang.
Nah, itulah penjelasan terkait apakah abu vulkanik berdampak pada janin. Pastikan Mama tetap mengurangi paparan dan memperhatikan kondisi kesehatan selama kehamilan, ya, Ma!


















