Anak Indonesia Tercatat Paling Tinggi Konsumsi UPF di Dunia, Apa Dampaknya?

- Data UNICEF menunjukkan Indonesia memiliki tingkat konsumsi makanan ultra proses (UPF) tertinggi di dunia pada anak usia 0–5 tahun, menyumbang sekitar 38% dari total kalori harian.
- Konsumsi UPF berlebihan sejak bayi dapat memicu obesitas dini, gangguan pencernaan, serta menurunkan asupan nutrisi penting yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang optimal.
- Pengenalan rasa kuat dari UPF membuat bayi sulit menyukai makanan alami seperti sayur dan buah, sehingga membentuk kebiasaan makan tidak sehat hingga remaja.
Memasuki usia 7–12 bulan, bayi mulai aktif mengenal berbagai jenis makanan pendamping ASI (MPASI). Pada fase ini, orangtua tentu ingin memberikan makanan yang praktis sekaligus disukai si Kecil.
Namun, di tengah maraknya produk makanan kemasan untuk bayi dan anak, orangtua perlu lebih waspada terhadap kandungan makanan ultra proses atau ultra-processed food (UPF).
Bahkan, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan konsumsi UPF tertinggi pada anak di dunia. Kondisi ini menjadi perhatian karena paparan makanan ultra proses ternyata bisa dimulai sejak bayi berusia 7–12 bulan.
Padahal, masa ini merupakan periode penting untuk membentuk kebiasaan makan sehat sekaligus mendukung tumbuh kembang optimal. Lanta, apa risikonya jika bayi terlalu sering mengonsumsi makanan ultra proses?
Berikut Popmama.com rangkum lebih lanjut anak Indonesia tercatat tinggi konsumsi UPF di dunia, dilansir berbagai sumber.
Table of Content
UNICEF Ungkap Indonesia Jadi Negara dengan Konsumsi UPF Tertinggi di Dunia

Menurut data UNICEF, Indonesia tercatat sebagai negara dengan konsumsi UPF tertinggi di dunia pada anak usia 0–5 tahun. Bahkan, UPF mampu menyumbang sekitar 38% dari total kalori harian anak.
Temuan semakin diperkuat oleh paparan Dr. Neha Khandpur, MSc (Wageningen University, The Netherlands) dalam webinar internasional bertajuk ‘Eat Real Food and Minimally Processed Diets for Child and Youth Health’.
Data ini membandingkan pola konsumsi anak di 16 negara. Indonesia terlihat menonjol dengan kontribusi UPF yang tinggi di berbagai kelompok usia, mulai dari bayi hingga remaja.
Risiko Anak Terlalu Banyak Mengonsumsi UPF
1. Meningkatkan risiko obesitas sejak dini

Makanan ultra proses atau ultra-processed food (UPF) umumnya mengandung gula, garam, dan lemak dalam jumlah tinggi. Pada bayi usia 7–12 bulan, konsumsi berlebihan makanan seperti camilan kemasan, biskuit manis, atau minuman berpemanis bisa membuat asupan kalori menjadi tidak seimbang.
Padahal, di usia ini bayi masih membutuhkan nutrisi alami untuk mendukung pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak. Jika terlalu sering diberikan, bayi dapat terbiasa mengonsumsi makanan tinggi kalori tetapi rendah nutrisi.
Kebiasaan ini berisiko memicu kenaikan berat badan berlebih sejak dini dan meningkatkan kemungkinan obesitas saat anak tumbuh besar. Selain itu, pola makan kurang sehat pada masa MPASI juga dapat terbawa hingga usia anak-anak bahkan remaja.
2. Membuat bayi sulit mengenal rasa alami makanan

Usia 7–12 bulan merupakan masa penting bagi bayi untuk mengenal berbagai rasa dan tekstur makanan alami, seperti sayur, buah, ikan, dan sumber protein lainnya. Namun, UPF biasanya memiliki rasa yang lebih kuat karena tambahan gula, garam, atau perasa buatan sehingga terasa lebih ‘menarik’ bagi bayi.
Akibatnya, bayi bisa menjadi lebih pilih-pilih makanan atau menolak makanan rumahan yang rasanya lebih natural. Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat membuat anak sulit menyukai sayur dan makanan sehat lainnya di kemudian hari. Orangtua pun mungkin akan kesulitan membangun pola makan sehat karena bayi sudah terbiasa dengan rasa makanan yang terlalu kuat.
3. Berisiko mengganggu kesehatan pencernaan bayi

Sistem pencernaan bayi masih berkembang, sehingga belum sepenuhnya siap menerima terlalu banyak bahan tambahan makanan. Beberapa UPF mengandung pengawet, pemanis buatan, hingga zat aditif tertentu yang dapat memengaruhi kesehatan saluran cerna bayi apabila dikonsumsi terlalu sering.
Kondisi ini bisa meningkatkan risiko gangguan pencernaan, seperti sembelit, diare, atau perut kembung. Selain itu, UPF umumnya rendah serat dibandingkan makanan segar alami. Padahal, serat penting untuk membantu menjaga kesehatan usus dan mendukung proses pencernaan bayi agar tetap optimal.
4. Mengurangi asupan nutrisi penting untuk tumbuh kembang

Pada masa MPASI, bayi membutuhkan berbagai nutrisi penting seperti zat besi, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral untuk mendukung pertumbuhan tubuh serta perkembangan otak. Sayangnya, banyak makanan ultra proses justru tinggi kalori tetapi rendah kandungan gizi esensial yang dibutuhkan bayi.
Jika bayi terlalu sering kenyang dengan UPF, asupan makanan bergizi lain bisa berkurang. Hal ini berisiko menyebabkan kebutuhan nutrisi harian tidak tercukupi. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi daya tahan tubuh, perkembangan motorik, hingga kemampuan belajar anak saat tumbuh besar.
5. Meningkatkan risiko penyakit di masa depan

Paparan pola makan tidak sehat sejak bayi dapat memberikan dampak jangka panjang bagi kesehatan. Konsumsi UPF berlebihan sejak dini dikaitkan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit metabolik, seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi ketika anak bertambah usia.
Meski dampaknya mungkin tidak langsung terlihat saat bayi, kebiasaan makan yang terbentuk sejak awal kehidupan sangat berpengaruh terhadap kesehatan di masa depan.
Karena itu, penting bagi orangtua untuk mulai membiasakan bayi mengonsumsi makanan segar dan minim proses agar tumbuh kembangnya lebih optimal dan risiko penyakit kronis dapat ditekan sejak dini.
Demikian informasi mengenai anak Indonesia tercatat tinggi konsumsi UPF di dunia. Meski praktis dan mudah ditemukan, makanan ultra proses sebaiknya tidak menjadi menu utama bagi anak, ya, Mama!









-GVHBzOgPZzcve3DB8Mi0WUIZo2oFsyVy.jpg)







