Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kapan Harus Memilih Ibuprofen atau Paracetamol untuk Anak?
Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI
  • Paracetamol dan ibuprofen sama-sama meredakan demam serta nyeri, tetapi pemilihannya perlu disesuaikan dengan penyebab keluhan dan kondisi anak, bukan anggapan obat tertentu lebih ampuh.
  • Ibuprofen memiliki efek antiradang, sehingga lebih cocok untuk demam tinggi disertai nyeri peradangan, seperti nyeri otot, sendi, sakit gigi berat, atau radang tenggorokan.
  • Paracetamol lebih disarankan saat demam atau nyeri ringan, anak belum makan, mengalami gangguan pencernaan, atau dehidrasi; keduanya relatif aman bila dipakai jangka pendek sesuai dosis dan anjuran dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Demam atau nyeri pada anak sering kali membuat orangtua bingung harus memilih paracetamol atau ibuprofen. Keduanya sama-sama dikenal sebagai obat penurun panas sekaligus pereda nyeri. Namun, ternyata kedua obat ini tidak selalu digunakan untuk kondisi yang sama.

Menurut dr. Mas Nugroho Ardi Santoso, Sp.A, M.Kes, pemilihan obat sebaiknya disesuaikan dengan kondisi yang dialami anak, bukan karena salah satunya dianggap lebih ampuh dari yang lain.

Agar Mama tidak bingung saat si Kecil mengalami demam atau nyeri, berikut Popmama.com telah merangkum penjelasan mengenai kapan harus memilih ibuprofen atau paracetamol untuk anak, menurut dr. Ardi yang dikutip dari Instagram pribadinya @ardisantoso.


Kapan Harus Memilih Ibuprofen atau Paracetamol untuk Anak?

Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI

Menurut dr. Ardi, baik paracetamol maupun ibuprofen sama-sama berfungsi untuk meredakan demam dan nyeri. Meski begitu, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi anak.

"Paracetamol adalah obat yang digunakan untuk meredakan demam dan nyeri. Ibuprofen juga digunakan untuk demam dan nyeri, tetapi memiliki tambahan efek seperti anti-inflamasi atau anti-peradangan," ujar dr. Ardi.

Karena memiliki efek antiradang, ibuprofen umumnya lebih disarankan ketika anak mengalami demam yang sangat tinggi dan disertai nyeri akibat peradangan. Misalnya, nyeri otot, nyeri sendi, sakit gigi yang berat, atau setelah menjalani prosedur medis besar. Obat ini juga lebih sering digunakan pada anak yang usianya lebih besar.

Sementara itu, paracetamol lebih sering menjadi pilihan ketika anak mengalami demam ringan atau nyeri ringan. Dengan kata lain, pemilihan obat tidak hanya bergantung pada ada atau tidaknya demam, tetapi juga mempertimbangkan penyebab keluhan serta kondisi anak secara keseluruhan.


Paracetamol Dapat Menjadi Pilihan pada Kondisi Tertentu

Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI

Selain untuk demam atau nyeri ringan, dr. Ardi menjelaskan bahwa ada beberapa kondisi yang membuat dirinya lebih memilih memberikan paracetamol dibandingkan ibuprofen.

Salah satunya ketika anak sedang dalam keadaan perut kosong, misalnya terbangun di tengah malam karena demam. Pada kondisi tersebut, paracetamol dinilai lebih nyaman digunakan.

Paracetamol juga lebih dipilih ketika anak mengalami gangguan pencernaan atau gastroenteritis. Hal ini karena ibuprofen dapat memengaruhi saluran pencernaan, sehingga berpotensi menimbulkan rasa tidak nyaman pada lambung.

Perbedaan ini berkaitan dengan cara kerja kedua obat tersebut. Paracetamol bekerja melalui pusat pengatur suhu di otak untuk menurunkan demam sekaligus mengurangi rasa nyeri. Sementara itu, ibuprofen termasuk golongan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) yang bekerja dengan menghambat proses peradangan di dalam tubuh.

Itulah sebabnya ibuprofen dapat memberikan manfaat tambahan pada kondisi yang disertai peradangan.


Kondisi yang Membuat Ibuprofen Tidak Menjadi Pilihan

Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI

Kondisi lain yang membuat dr. Ardi lebih memilih paracetamol adalah ketika anak mengalami dehidrasi.

Menurut dr. Ardi, ibuprofen dapat memberikan beban tambahan pada ginjal karena organ tersebut berperan membuang sisa obat dari dalam tubuh. Padahal, ginjal membutuhkan cairan yang cukup agar dapat bekerja secara optimal.

"Jika anak sudah dehidrasi, penggunaan ibuprofen bisa meningkatkan risiko gangguan ginjal. Jadi, dalam kondisi ini, pilihan yang lebih aman adalah paracetamol," jelasnya.

Oleh karena itu, apabila anak mengalami dehidrasi, dr. Ardi lebih menyarankan penggunaan paracetamol dibandingkan ibuprofen karena dinilai lebih aman pada kondisi tersebut.


Mana yang Lebih Baik untuk Menurunkan Demam pada Anak?

Popmama.com/Titin Sahra Melani/AI

Tidak ada obat yang selalu lebih baik untuk semua kondisi. Pilihan antara ibuprofen dan paracetamol bergantung pada penyebab demam, kondisi kesehatan anak, serta gejala yang menyertainya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ibuprofen dapat menurunkan suhu tubuh lebih cepat dan efeknya bertahan lebih lama dibandingkan paracetamol. Namun, penelitian lain menemukan bahwa keduanya sama efektifnya dalam membantu meredakan demam pada anak.

Perbedaan hasil tersebut terjadi karena penyebab demam pada setiap anak tidak selalu sama. Oleh karena itu, tidak bisa disimpulkan bahwa ibuprofen selalu lebih unggul dibandingkan paracetamol atau sebaliknya.

Pada demam yang disertai nyeri akibat peradangan, seperti radang tenggorokan, radang telinga, atau infeksi saluran kemih, ibuprofen dapat menjadi pilihan karena memiliki efek antiradang. Sebaliknya, jika anak sedang dehidrasi, mengalami gangguan lambung, atau belum makan, paracetamol umumnya lebih disarankan.

Dari sisi keamanan, keduanya sama-sama relatif aman jika digunakan dalam jangka pendek, sesuai dosis, dan mengikuti anjuran dokter. Yang terpenting, tujuan pemberian obat saat anak demam bukan hanya menurunkan suhu tubuh, tetapi juga membantu anak merasa lebih nyaman selama masa pemulihan.

Nah, itu penjelasan mengenai kapan harus memilih ibuprofen atau paracetamol untuk anak. Semoga informasi ini membantu, ya, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article