Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Waspada 17 Gangguan Mental pada Anak, Seringkali Orangtua Tidak Memahami Ini

11 min read
Waspada 17 Gangguan Mental pada Anak, Seringkali Orangtua Tidak Memahami Ini
Magnific.com
  • Anak dan balita juga rentan mengalami gangguan mental; perubahan drastis perilaku, belajar, emosi, atau aktivitas harian perlu dikenali agar penanganan tidak terlambat.

  • 17 kondisi kesehatan mental, mencakup kecemasan, gangguan makan, ADHD, autisme, depresi, trauma, gangguan belajar, hingga perilaku antisosial dan pelanggaran norma.

  • Orangtua dianjurkan memberi dukungan tanpa menghakimi, memantau gejala yang menghambat keseharian, serta berkonsultasi dengan tenaga medis atau profesional kesehatan mental bila diperlukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kesehatan mental sering kali dianggap hanya memengaruhi orang dewasa atau remaja. 

Padahal Ma, anak-anak dan balita juga rentan mengalaminya, lho.

Perubahan serius dalam perilaku, cara belajar, atau pengelolaan emosi bisa menjadi sinyal adanya masalah psikologis yang tersembunyi, Ma. 

Sebagai orangtua, Mama dan Papa perlu mengenali tanda-tanda awal ini agar tumbuh kembang si Anak tidak terganggu di kemudian hari.

Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), gangguan mental pada anak digambarkan sebagai perubahan drastis yang dapat memengaruhi aktivitas harian mereka. 

Misalnya seperti perilaku anak yang tampak tidak terduga, hal itu membuat orangtua terkecoh dan menganggapnya sebagai fase biasa. 

Padahal, pemahaman yang keliru ini bisa menunda penanganan yang tepat bagi kesehatan jiwa si Anak, Ma.

Oleh karena itu, penting bagi Mama dan Papa untuk mengetahui dan memahami berbagai jenis gangguan psikologis yang mungkin menyerang anak-anak. 

Mulai dari masalah adaptasi, pola makan, hingga gangguan perilaku yang ekstrem, yang semuanya memerlukan perhatian khusus. 

Yuk simak di Popmama.com waspada 17 gangguan mental pada anak yang perlu diketahui Mama dan Papa!

  1. 1. Selective Mutism

    Anak dengan kondisi selective mutism
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Selective mutism merupakan kondisi psikologis ketika anak memilih untuk diam di situasi atau tempat tertentu, tetapi bisa aktif berbicara di lingkungan lainnya.

    Menurut psikolog, anak mungkin tampak sangat pendiam saat berada di sekolah, namun menjadi sangat cerewet ketika berada di rumah.

    Gangguan adaptasi ini seringkali membuat Mama atau Papa kebingungan karena perbedaan perilaku anak yang drastis di tempat yang berbeda.

    Kondisi ini bukan sekadar anak yang pemalu, melainkan hambatan kecemasan sosial spesifik yang membatasi kemampuan komunikasinya.

    Melansir dari jurnal UST menyebutkan, “Gangguan tersebut bukan disebabkan karena kurangnya pengetahuan ataupun adanya keterbatasan penguasaan bahasa.”

    Jika dibiarkan tanpa pendekatan yang suportif, anak bisa semakin terisolasi dan mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya, Ma.

    Mama dan Papa disarankan untuk berkonsultasi dengan profesional jika anak menunjukkan gejala diam total yang konsisten di luar rumah.

    Kriteria selective mutism meliputi kegagalan berbicara dalam situasi sosial tertentu yang menghambat prestasi dan komunikasi, serta berlangsung minimal satu bulan.

    Perlu diingat Ma, kondisi ini bukan disebabkan oleh masalah bahasa, gangguan komunikasi, maupun gangguan psikotik lainnya, ya.

  2. 2. Gangguan makan

    Anak dengan kondisi gangguan makan
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Masalah sulit makan yang sering dikeluhkan orangtua ternyata bisa berkembang menjadi gangguan makan yang serius jika diabaikan, lho.

    Berbagai jenis gangguan ini meliputi anoreksia, bulimia, binge-eating, hingga avoidant/restrictive food intake disorder (ARFID).

    Anak yang memiliki kebiasaan pilih-pilih makanan (picky eater) juga memiliki kecenderungan lebih tinggi memicu masalah mental dibandingkan anak dengan pola makan normal, Ma.

    Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat bahwa keluhan seputar makan adalah hal yang paling sering ditemui di klinik anak.

    Dampak dari gangguan makan ini dapat menghambat penyerapan nutrisi penting yang sangat dibutuhkan untuk masa pertumbuhan fisik anak.

    Mama dan Papa perlu memantau pola makan harian anak dan menciptakan suasana yang menyenangkan saat jam makan berlangsung.

  3. 3. Gangguan kecemasan

    Anak dengan kondisi gangguan kecemasan
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Anak yang sering marah, mengamuk, atau tantrum memiliki kemungkinan mengalami gangguan kecemasan, Ma.

    Ciri utamanya adalah anak berusaha keras menghindari sumber atau hal-hal yang memicu rasa cemas, seperti orang atau tempat tertentu.

    Reaksi fisik dari kondisi ini bisa berupa tangisan histeris, muntah, keringat dingin, hingga kemarahan yang meluap-luap.

    Rasa takut berlebihan yang dirasakan dapat membuat anak merasa tidak aman bahkan di lingkungan yang seharusnya ramah bagi seusianya, Ma.

    Dukungan emosional yang hangat dari Mama dan Papa sangat diperlukan untuk membantu anak meredakan ketegangan psikologis yang dirasakannya.

    Melansir dari Journal of Basic Educational Studies  menyebutkan, “Penangan multisektor merupakan pendekatan yang esensial dalam penanganan kesehatan mental remaja, karena mampu menjawab kompleksitas faktor penyebab dan dampak gangguan mental secara menyeluruh.”

    Jika terjadi dalam waktu yang lama, segera konsultasi ke psikologis ya Ma, terlebih ketika kondisi ini menghambat aktivitas belajar dan bermain anak sehari-hari.

  4. 4. ADHD

    Anak dengan kondisi ADHD
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    ADHD adalah gangguan perilaku yang ditandai dengan tingkat keaktifan anak yang sangat tinggi Ma!

    Gangguan perilaku ini juga menyebabkan anak kesulitan dalam berkonsentrasi.

    Anak dengan kondisi ini biasanya sangat sulit diam, mudah teralihkan perhatiannya, dan sering kali berbicara tanpa henti.

    Tugas-tugas sekolah atau instruksi sederhana kerap diabaikan karena mereka kesulitan menyelesaikannya sampai tuntas.

    Emosi anak penderita ADHD juga cenderung lebih mudah meledak-ledak akibat dorongan impulsif yang sulit dikendalikan.

    Untuk melakukan penanganan dini, Mama dan Papa dapat memberikan terapi perilaku untuk membantu anak mengelola energi berlebihnya secara lebih terarah.

    Guru di sekolah dan orangtua di rumah harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak.

  5. 5. Autisme

    Anak dengan kondisi autisme
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Autisme merupakan gangguan perkembangan fungsi otak yang biasanya mulai tampak jelas saat anak menginjak usia 3 tahun, Ma.

    Gejala umumnya meliputi keterlambatan berbicara yang signifikan dibandingkan anak-anak seusianya.

    Anak autis sering kali menunjukkan perilaku acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar atau memperlihatkan kecemasan yang tidak biasa.

    Tanpa penanganan terapi yang tepat, proses perkembangan fungsi kognitif anak bisa berhenti atau mengalami kemunduran.

    Jika anak terlihat mengalami gejala tersebut, segera deteksi dini oleh tenaga medis profesional.

    Kesabaran ekstra dari orangtua juga menjadi fondasi terpenting dalam mendampingi keseharian anak dengan spektrum autisme.

  6. 6. Depresi

    Anak dengan gangguan depresi
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Ma, depresi tidak hanya dialami oleh orang dewasa, lho. 

    Melainkan juga dapat dialami oleh anak-anak dengan gejala yang khas.

    Anak yang mengalami depresi biasanya menunjukkan kesedihan mendalam dan kehilangan minat pada hal-hal yang tadinya ia sukai. 

    Gejala fisik seperti keluhan sakit pada bagian tubuh tertentu, sering menangis, dan menarik diri sering kali muncul.

    Gangguan depresi ini juga berdampak pada kemampuan anak untuk belajar dan bersosialisasi dengan teman sebayanya, Ma.

    Perubahan suasana hati yang drastis juga sering kali terjadi pada anak yang depresi.

    Jadi, kepekaan tinggi dari Mama dan Papa sangat dibutuhkan agar anak tidak dianggap sekadar ngambek.

    Pendampingan psikologis profesional juga dibutuhkan Ma, dengan tujuan untuk mengembalikan keceriaan dan kesehatan mental anak.

  7. 7. Gangguan bipolar

    Anak dengan gangguan bipolar
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Gangguan bipolar ditandai oleh perubahan suasana hati atau mood yang ekstrem pada anak dalam siklus waktu tertentu.

    Anak dapat merasa sangat bersemangat di suatu waktu, namun tiba-tiba berubah menjadi sangat lemas dan terpuruk.

    Pola tidur, tingkat energi, serta kemampuan berpikir jernih anak penderita bipolar seringkali mengalami kekacauan, Ma.

    Kondisi ini membuat anak kesulitan mengembangkan prestasi akademis yang baik serta mempertahankan pertemanannya.

    Beberapa kasus berat pada remaja bahkan menunjukkan kecenderungan berbahaya seperti keinginan melukai diri sendiri.

    Jika anak Mama dan Papa mengalami gangguan bipolar, diperlukannya pengawasan ketat dan pengobatan medis dari psikiater.

    Hal itu bertujuan agar anak dapat menstabilkan kondisi emosionalnya, Ma.

  8. 8. Gangguan stress akibat trauma (PTSD)

    Anak dengan kondisi PTSD
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    PTSD atau stres pascatrauma terjadi ketika anak mengalami atau menyaksikan kejadian mengerikan yang mengguncang jiwanya.

    Penyebabnya bisa bermacam-macam Ma, mulai dari kecelakaan hebat, bencana alam, kekerasan fisik, hingga kehilangan orang terdekat.

    Gejala psikologis yang timbul meliputi kebiasaan sering berteriak, bersembunyi, atau menunjukkan sikap agresif, seperti berkelahi.

    Anak sering kali merasa ketakutan luar biasa untuk berinteraksi dengan orang lain dan menutup diri dari ekspresi emosi.

    Pemulihan kondisi trauma ini membutuhkan waktu panjang serta terapi khusus dari psikolog anak yang berpengalaman.

    Untuk mendukung kondisi anak, lingkungan rumah yang penuh kasih dan rasa aman mutlak diperlukan, Ma. 

  9. 9. Skizofrenia

    Anak dengan kondisi skizofrenia
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang meski lebih sering pada dewasa, namun bisa pula muncul pada anak di bawah usia 13 tahun, Ma.

    Penyakit ini membuat penderitanya kehilangan kemampuan untuk menilai mana realitas atau kenyataan yang sebenarnya.

    Gejala utamanya mencakup halusinasi, delusi, cara bicara yang kacau, serta ekspresi wajah yang tampak datar.

    Saat memasuki usia remaja, penderita biasanya semakin menarik diri dari keluarga dan lingkungan sekitarnya, Ma.

    Penanganan medis intensif wajib dilakukan segera agar dapat mengendalikan gejala psikotik yang mengancam keselamatan anak.

    Peran keluarga sangat krusial dalam mendampingi perawatan jangka panjang bagi penderita skizofrenia usia dini.

  10. 10. Disleksia

    Anak dengan kondisi disleksia
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Disleksia adalah gangguan belajar yang memengaruhi cara otak anak memproses tulisan serta bahasa lisan.

    Tanda-tandanya bisa diamati sejak usia dini Ma, seperti terlambat mengucapkan kata pertama hingga usia balita.

    Seiring bertambahnya usia, anak akan kesulitan dalam mengenali abjad, menghafal bunyi huruf, dan merangkai kata.

    Hambatan ini seringkali membuat anak merasa frustasi saat harus berhadapan dengan tulisan.

    Untuk mengatasinya, memerlukan metode pembelajaran khusus yang ramah disleksia.

    Peran Mama dan Papa adalah mendukung anak tanpa menghakimi, jadinya akan membangun rasa percaya diri anak di tengah keterbatasannya, deh.

  11. 11. Gangguan identitas disosiatif

    Anak dengan kondisi kepribadian ganda
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Kepribadian ganda atau gangguan identitas disosiatif adalah kondisi saat anak memiliki dua atau lebih kepribadian berbeda.

    Hal ini disebabkan karena trauma batin mendalam akibat kekerasan atau situasi mencekam.

    Anak biasanya merasa asing dengan dirinya sendiri, seolah berada di luar tubuh, atau sering kehilangan ingatan, Ma.

    Tanda fisik dan psikisnya yang terlihat seperti kehilangan waktu, susah bergaul, hingga perilaku menyakiti diri.

    Untuk mengatasinya, diperlukannya terapi psikoterapi intensif dari profesional kesehatan mental.

    Hal ini bertujuan untuk menyatukan kembali kepribadian anak.

    Ma, kerjasama antara orangtua, keluarga, terapis, dan lingkungan anak dibutuhkan untuk mendukung kesembuhan total.

  12. 12. Psikopat

    Anak dengan kondisi psikopat
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Psikopat pada anak digambarkan melalui pola perilaku tanpa empati, tidak punya belas kasih, dan suka menipu.

    Gejala awal ini sebenarnya sudah bisa dideteksi sejak dini jika Mama dan Papa jeli mengamati interaksi sosial anak.

    Anak dengan kecenderungan ini jarang menunjukkan rasa penyesalan saat melakukan kesalahan atau menyakiti orang lain, Ma.

    Deteksi dan penanganan sedini mungkin memberikan peluang lebih besar untuk meluruskan karakter anti sosial tersebut.

    Jika dibiarkan tanpa bimbingan, anak berisiko tumbuh menjadi pribadi yang dingin dan berbahaya untuk sesama.

    Evaluasi psikologis menyeluruh sangat dianjurkan Ma, terlebih ketika anak menunjukkan gejala kekejaman tanpa sebab.

  13. 13. Adjustment Disorder

    Anak dengan kondisi adjustment disorder
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Gangguan penyesuaian atau adjustment disorder timbul ketika anak memberikan reaksi berlebihan terhadap peristiwa yang memicu stres atau trauma.

    Kondisi ini sangat sering dijumpai pada anak-anak serta remaja yang sedang menghadapi transisi besar dalam hidupnya.

    Gejala khasnya ditandai oleh rasa tertekan yang hebat, sering menangis, putus asa, serta kecemasan berlebihan.

    Deteksi dini sangat penting agar reaksi stres tersebut tidak berkembang menjadi depresi klinis yang parah, Ma.

    Hal yang dapat Mama dan Papa lakukan adalah memberikan ruang bagi anak untuk mencurahkan isi hatinya.

    Pendampingan psikolog anak juga dapat membantu merumuskan coping mechanism yang sehat bagi si Anak.

  14. 14. Retardasi mental

    Anak dengan kondisi retardasi mental
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Retardasi mental atau gangguan intelektual merupakan kondisi ketika tingkat kecerdasan anak berada di bawah rata-rata.

    Gangguan ini menyerang bagian perkembangan otak si Anak.

    Retardasi mental biasanya dipicu oleh berbagai faktor sejak masa dalam kandungan, lho.

    Gejala awal biasanya tampak dari keterlambatan bicara, sulit mengingat, serta lambat menguasai keterampilan dasar.

    Anak juga sering mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah sederhana secara logis serta mudah mengamuk, Ma.

    Untuk mengatasinya, Mama dapat memberikan si Anak program pendidikan khusus dan pelatihan keterampilan hidup agar membantu meningkatkan kemandirian mereka.

    Peran kasih sayang dan penerimaan dari keluarga dapat menjadi dorongan terbesar bagi anak dengan disabilitas intelektual!

  15. 15. Gangguan Somatoform

    Anak dengan gangguan Somatoform
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Gangguan somatoform biasanya membuat anak mengeluhkan sakit fisik secara terus-menerus tanpa adanya penyebab medis yang jelas.

    Keluhan yang sering dirasakan seperti sakit kepala berulang, nyeri dada, hingga kelelahan fisik yang ekstrem.

    Yang membingungkan, hasil pemeriksaan laboratorium atau dokter umumnya menunjukkan kondisi tubuh anak dalam batas normal, Ma.

    Kondisi ini disebabkan dengan kecemasan si Anak yang seringkali dipendam sehingga bermutasi menjadi keluhan fisik yang nyata.

    Jika anak mama mengalami hal ini, jangan dianggap mereka berbohong ya, melainkan mencari tahu awal mula kecemasannya.

    Untuk mengatasinya, segera konsultasikan dengan dokter anak dan psikolog.

  16. 16. Juvenile Delinquency

    Anak ketahuan mencuri oleh mamanya
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Kenakalan remaja sangat mengganggu dan meresahkan ya, Ma.

    Waspada, bisa jadi kenakalan remaja atau juvenile delinquency itu sudah ditahap tingkat lanjut, Ma.

    Perilaku ini mencakup pelanggaran norma hukum seperti mencuri, merusak fasilitas umum, berbohong, hingga tawuran.

    Gejala psikis ini biasanya mulai terlihat jelas ketika anak memasuki usia SMP menjelang fase remaja akhir, Ma.

    Tindakan melanggar hukum yang dilakukan secara berulang menandakan adanya kerusakan pada kontrol impuls si Anak.

    Peran pengasuhan orangtua serta pergaulan bebas di luar rumah harus segera dievaluasi secara ketat, ya.

    Pembinaan mental serta konseling hukum dan psikologi juga dapat dilakukan untuk meluruskan arah hidup anak.

  17. 17. Conduct Disorder

    Anak dengan kondisi Conduct Disorder
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Conduct disorder adalah kategori gangguan perilaku di mana anak secara konsisten melanggar norma sosial.

    Pola tindakan yang ditunjukkan mencakup agresivitas tinggi terhadap sesama, aksi pencurian, hingga vandalisme.

    Hak-hak orang lain sering kali diabaikan oleh si Anak demi kepuasan pribadi tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

    Deteksi dini terhadap pola asuh dan lingkungan sosial sangat menentukan keberhasilan pemulihan gangguan ini, Ma.

    Kerja sama antara sekolah, orangtua, dan psikolog klinis diperlukan untuk meredam sifat destruktif anak.

    Penanganan profesional juga dapat membantu mengarahkan energi anak ke dalam kegiatan yang lebih positif dan konstruktif.

    Menjaga kesehatan mental anak sama pentingnya dengan merawat kesehatan fisik mereka sehari-hari, Ma.

     Itu dia waspada 17 gangguan mental pada anak yang perlu diketahui Mama dan Papa!

    Kesadaran dini dari Mama dan Papa dalam mengenali 17 gangguan psikologis di atas dapat menyelamatkan si Anak. 

    Jangan ragu untuk segera membawa anak untuk berkonsultasi dengan profesional medis apabila menemukan perubahan perilaku yang tidak biasa.

    Ingatlah selalu bahwa setiap anak istimewa dan membutuhkan dukungan penuh Ma.

    Tentunya tanpa menghakimi ketika mereka menghadapi masa-masa sulit, ya.

    Dengan kasih sayang yang tulus serta penanganan yang tepat, si Anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, ceria, dan bermental sehat.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More