7 Tanda Balita Kurang Tidur

- Balita mudah tertidur saat di perjalanan, menandakan kelelahan tubuhnya.
- Perilaku hiperaktif menjelang tidur bisa menjadi tanda kelelahan yang terlalu lelah.
- Tantrum lebih parah dari biasanya, durasi tidur siang pendek, dan perilaku agresif dapat menjadi tanda balita kurang tidur.
Tidur bukan sekadar waktu istirahat bagi balita. Di usia emas pertumbuhan, tidur berperan besar dalam perkembangan emosi, perilaku, daya fokus, hingga kemampuan belajar anak.
Sayangnya, tanda balita kurang tidur sering kali tidak terlihat sebagai mengantuk seperti orang dewasa. Justru, banyak balita yang menunjukkan perilaku sebaliknya, semakin aktif, semakin rewel, atau semakin sulit diatur.
Berikut Popmama.com tunjukkan 7 tanda balita kurang tidur, apakah si Kecil berperilaku seperti ini?
1. Mudah tertidur saat di perjalanan

Jika anak Mama selalu tertidur cepat saat di mobil, stroller, atau motor yang bahkan hanya dalam perjalanan singkat? ini bisa menjadi sinyal tubuhnya sedang sangat lelah. Balita yang cukup tidur biasanya masih mampu bertahan terjaga, mengamati sekitar, atau mengajak bicara.
2. Semakin aktif menjelang waktu tidur

Banyak orangtua mengira anak yang berlarian, tertawa keras, dan sulit diam di malam hari berarti belum mengantuk. Padahal pada balita, kelelahan sering muncul sebagai perilaku hiperaktif.
Tubuh anak yang terlalu lelah akan melepaskan hormon stres untuk tetap “bertahan”, sehingga anak justru terlihat semakin aktif. Misalnya, menjelang tidur anak tiba-tiba memanjat sofa, melompat-lompat di kasur, atau terus tertawa tanpa sebab yang jelas. Nah, inilah tanda tubuhnya sudah terlalu lelah!
3. Tantrum lebih parah dari biasanya

Kurang tidur sangat memengaruhi kemampuan balita dalam mengelola emosi. Anak menjadi lebih mudah frustrasi, sulit menunggu, dan cepat menangis untuk hal-hal kecil.
Sebagai contoh, anak yang biasanya bisa menerima ketika mainannya disimpan, kini langsung menangis keras, melempar barang, atau berguling di lantai. Tantrum yang meningkat frekuensinya, terutama tanpa pemicu yang jelas, sering kali berkaitan dengan kualitas atau durasi tidur yang kurang.
4. Durasi tidur siang pendek

Tidur siang yang terlalu singkat sering kali tidak cukup untuk memulihkan energi balita. Anak mungkin bangun dari tidur siang hanya 20–30 menit, lalu terlihat lebih rewel dibanding sebelum tidur. Ini bisa menjadi tanda bahwa ia sebenarnya membutuhkan tidur yang lebih lama atau jadwal tidur siang yang lebih konsisten.
5. Terlihat sangat usil, konyol, dan sulit dikendalikan

Tingkah laku yang sangat “silly”, seperti tertawa berlebihan, mengulang-ulang kata tanpa henti, atau sengaja melakukan hal yang dilarang, bisa menjadi tanda kelelahan.
Balita yang cukup tidur biasanya masih mampu mengikuti arahan sederhana. Sebaliknya, anak yang kurang tidur sering kali kehilangan kemampuan mengendalikan impulsnya. Misalnya, ketika diminta duduk dan makan, ia justru melempar sendok sambil tertawa dan tidak merespons arahan orangtua.
6. Lebih agresif dari biasnaya

Kurang tidur dapat menurunkan toleransi anak terhadap rasa tidak nyaman. Akibatnya, anak bisa menjadi lebih agresif, baik secara verbal maupun fisik.
Contohnya, anak yang biasanya hanya merengek kini mulai memukul, menggigit, atau mendorong ketika keinginannya tidak terpenuhi. Perilaku agresif yang meningkat tanpa perubahan besar dalam lingkungan sering kali berkaitan dengan kelelahan kronis.
7. Lebih clingy dan pendiam

Anak mungkin terus ingin digendong, menolak bermain sendiri, atau terlihat lebih diam dari biasanya. Ini adalah cara anak mencari rasa aman saat tubuh dan emosinya sedang tidak seimbang akibat kurang tidur.
Balita yang mendapatkan tidur cukup cenderung lebih tenang, mudah diarahkan, dan lebih bahagia dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Mengenali sinyal kelelahan sejak dini membantu orangtua memenuhi kebutuhan dasar anak yang sering kali terlewat, yakni tidur yang berkualitas.


















-M4H7b1ZhTVkhBHuYLMD96ShifBhBZlhx.jpg)