Oatmeal dengan potongan buah dan taburan kacang
Telur rebus atau orak-arik dengan roti gandum dan sayuran
Smoothie dari buah, yogurt, dan susu
Nasi dengan lauk protein seperti ayam, ikan, atau tempe
Tidak Sarapan Membuat Kerja Otak Anak Menurun? Ini Faktanya!

- Sarapan sering terlewat saat pagi sibuk, padahal otak anak butuh energi untuk berfungsi optimal
- Tidak sarapan membuat kadar glukosa otak turun, produksi neurotransmitter terganggu, dan hormon stres meningkat yang akhirnya menurunkan kerja otak anak
- Sarapan sehat yang seimbang perlu jadi rutinitas agar otak anak siap belajar
Mama pasti pernah mengalami pagi yang sibuk? Anak rewel, seragam belum siap, jam sudah menunjukkan waktu berangkat sekolah. Di tengah kekacauan itu, sarapan sering kali jadi hal pertama yang dikorbankan.
Padahal, tubuh dan otak anak sangat membutuhkan asupan energi di pagi hari agar bisa berfungsi optimal. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh anak saat mereka tidak sarapan?
Berikut Popmama.com rangkum 7 hal yang terjadi saat anak tidak sarapan dan membuat kerja otak menurun. Simak sampai habis ya, Ma!
Table of Content
1. Kadar glukosa darah turun drastis

Saat anak tidur semalaman, tubuh mereka sudah "berpuasa" selama 8-10 jam. Begitu bangun, cadangan energi dalam darah sudah menipis. Nah, sarapan seharusnya menjadi momen untuk mengisi ulang bahan bakar ini, terutama glukosa.
Dalam jurnal "Breakfast skipping and cognitive and emotional engagement at school: a cross-sectional population-level study" oleh Hero Miller dijelaskan bahwa "Eating breakfast promotes glucose uptake in the brain. Glucose is the brain's main fuel source and provides energy to concentrate at school."
Tanpa sarapan, anak-anak tiba di sekolah dalam kondisi lapar, terdistraksi, dan tidak memiliki energi yang cukup. Akibatnya, mereka cenderung kurang terlibat secara emosional dan kognitif dalam proses belajar.
2. Cadangan glikogen habis tanpa pengganti

Glikogen adalah bentuk cadangan glukosa yang disimpan di hati dan otot. Saat tidur, tubuh anak tetap membakar glikogen untuk menjaga fungsi-fungsi vital. Begitu bangun, cadangan ini sudah hampir habis dan butuh segera diisi ulang.
Anak yang baru bangun tidur sebenarnya masih mengalami fase sleep inertia, kondisi di mana otak belum sepenuhnya "bangun" dan masih terasa grogi. Sleep Foundation menjelaskan bahwa "Sleep inertia generally lasts for 15 to 60 minutes, but may last for up to a few hours after waking."
Di fase kritis inilah otak anak sangat membutuhkan asupan energi dari sarapan agar bisa segera berfungsi optimal. Tanpa sarapan, sleep inertia bisa berkepanjangan, membuat anak terlihat lesu, lambat merespons, dan sulit fokus hingga jam-jam pertama sekolah berlalu.
3. Keterlibatan dalam proses belajar menurun

Hero Moller juga menambahkan bahwa "skipping breakfast was associated with lower cognitive and emotional engagement, which could be due to mechanisms such as short-term energy supply and long-term health impacts."
Artinya, anak yang tidak sarapan mengalami penurunan dalam dua aspek penting, yaitu keterlibatan kognitif dan keterlibatan emosional.
Keterlibatan kognitif membuat anak lebih mudah memahami konsep baru, mengikuti instruksi guru, dan menyelesaikan tugas dengan baik. Sementara keterlibatan emosional membuat mereka lebih termotivasi dan antusias belajar.
Tanpa sarapan, kedua aspek ini menurun drastis. Anak jadi pasif di kelas, malas bertanya, dan kurang responsif terhadap pelajaran.
4. Produksi neutrotransmitter terganggu

Neurotransmitter adalah "kurir kimia" yang bertugas mengirim pesan antar sel-sel otak. Untuk memproduksi neurotransmitter, otak membutuhkan berbagai nutrisi seperti protein, vitamin B kompleks, dan karbohidrat. Nutrisi-nutrisi inilah yang nantinya diubah menjadi zat-zat penting seperti serotonin dan dopamin.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan bahwa sarapan memengaruhi kerja otak lewat dua mekanisme utama, yaitu meningkatkan efisiensi proses berpikir serta menyediakan zat gizi yang esensial bagi sistem saraf pusat.
Ketika anak tidak sarapan, produksi neurotransmitter seperti serotonin dan dopamin bisa terganggu. Akibatnya, komunikasi antar sel otak melambat, dan anak jadi susah berpikir jernih, mengingat pelajaran, atau bahkan merespons dengan cepat saat dipanggil guru.
5. Hormon stres meningkat

Ini yang sering tidak disadari banyak Mama. Tidak sarapan ternyata bisa memicu peningkatan hormon kortisol, atau hormon stres, yang berkepanjangan.
Menurut penelitian yang dipublikasikan di Physiology & Behavior, "When breakfast is consumed, cortisol steadily drops. In meal-trained rats, if the first meal is missed, corticosterone concentrations remain elevated hours after it would typically fall."
Intinya, kortisol yang tinggi membuat tubuh anak masuk ke "mode survival" alih-alih "mode learning". Alhasil, anak jadi lebih mudah stres, cemas, dan sulit menyerap informasi baru di sekolah. Peningkatan kortisol kronis akibat tidak sarapan dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme pada anak dalam jangka panjang.
6. Kemampuan menyelesaikan masalah lemah

American Academy of Pediatrics menyebutkan "Eating breakfast improves kids' performance on vocabulary tests, math problems and challenging mental tasks. It also helps them deal better with frustration."
Ini sangat krusial untuk anak usia sekolah yang setiap hari dihadapkan pada berbagai tantangan akademis. Anak yang sarapan memiliki stamina mental lebih baik untuk menghadapi soal-soal sulit atau tugas yang kompleks. Mereka juga lebih sabar dan tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan.
Sebaliknya, anak yang tidak sarapan cenderung cepat frustasi, mudah menyerah, dan bahkan bisa tantrum saat menghadapi PR atau tugas yang menantang. Fungsi otak, daya ingat, dan fokus mereka juga terbukti lebih rendah dibanding anak yang rutin sarapan.
7. Kehilangan kesempatan mendapat nutrisi penting

Sarapan bukan sekadar soal mengisi perut, tapi juga kesempatan emas untuk memasukkan nutrisi penting yang dibutuhkan otak anak.
British Nutrition Foundation memperingatkan bahwa melewatkan sarapan bergizi secara terus-menerus dapat mempersulit anak mendapatkan nutrisi seperti kalsium dan zat besi yang mereka butuhkan untuk kesehatan fisik, mental, dan proses belajar.
American Academy of Pediatrics juga menekankan, "Breakfast gives you the opportunity to bolster your child with some key nutrients they may miss out on the rest of the day, including fiber, calcium and vitamin D."
Intinya, tanpa sarapan, anak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan semua nutrisi yang diperlukan dan dampaknya bukan hanya ke otak, tapi juga kesehatan jangka panjang mereka.
8. Solusi sarapan sehat yang mudah disiapkan

Mama tidak perlu menyiapkan menu yang susah, yang penting seimbang dan mengandung karbohidrat kompleks, protein, serat, serta vitamin dan mineral. Beberapa pilihan sarapan sehat yang mudah disiapkan:
Jika pagi hari terlalu sibuk, Mama bisa siapkan sebagian bahan sarapan di malam sebelumnya. Misalnya, potong buah dan simpan di kulkas, atau siapkan overnight oats yang tinggal dikonsumsi pagi harinya.
Intinya Ma, buatlah sarapan jadi rutinitas yang menyenangkan, bukan kewajiban yang membebani. Ajak anak sarapan bersama dan ciptakan suasana yang positif. Dengan begitu, otak anak siap untuk belajar optimal sepanjang hari.
Menurut Mama, apakah selama ini anak sudah rutin sarapan sebelum berangkat sekolah? Atau masih sering terlewat karena kesibukan pagi? Yuk, mulai dari sekarang, jadikan sarapan sebagai prioritas untuk mendukung tumbuh kembang dan prestasi anak!


















