Ketahui Sejak Dini, Ini Perbedaan Trauma dengan Fobia

Meski sama-sama menimbulkan rasa takut yang berlebih, penanganan keduanya berbeda

9 Oktober 2019

Ketahui Sejak Dini, Ini Perbedaan Trauma Fobia
themagpieproject

Selama ini, masih banyak orang yang salah mengartikan istilah trauma dan fobia. Keduanya dianggap sama, yaitu sebagai situasi dimana seseorang mengalami ketakutan yang berlebihan.

Gejala trauma dan fobia memang mirip satu sama lain. Kemunculan keduanya juga dipicu oleh suatu peristiwa traumatis. Tapi ternyata, kedua kondisi ini berbeda lho, Ma. Trauma adalah bentuk respon emosional, sedangkan fobia adalah sebuah gangguan kecemasan.

Nah, dibandingkan trauma, anak-anak lebih sering mengalami fobia. Ketakutan yang berlebihan ini biasanya muncul saat mereka berusia balita. Bahkan, seorang anak bisa mengalami tiga fobia sekaligus.

Saat anak menunjukan ketakutan yang berlebihan, ada baiknya Mama mampu mengenali apakah anak mengalami trauma atau fobia. Pasalnya, keduanya membutuhkan penanganan yang berbeda.

Oleh karena itu, kenali perbedaan trauma dan fobia lebih dalam yuk.

1. Apa itu trauma?

1. Apa itu trauma
Freepik/jcomp

Trauma adalah sebuah respon emosional terhadap suatu peristiwa menakutkan yang dialami anak. Bisa jadi anak kehilangan anggota keluarga, mengalami kecelakaan, bencana alam, penculikan, dan lain-lain. Peristiwa tersebut membekas dan menciptakan kenangan yang menganggu.

Akibatnya, muncul reaksi jangka panjang. Emosi anak menjadi tidak bisa diprediksi dan anak terus terbayang-bayang peristiwa menakutkan yang dialaminya.  Bahkan tidak jarang, trauma menimbulkan gangguan pada fisik anak.

Yang perlu Mama tahu, trauma bisa timbul secara berbeda pada masing-masing anak. Suatu peristiwa tertentu bisa saja tidak memengaruhi seorang anak namun menimbulkan trauma ringan hingga parah pada anak lain. Hal ini karena setiap anak memiliki kekebalannya masing-masing.

Nah, trauma seringkali dikaitkan sebagai luka batin. Kondisi ini harus segera ditangani. Pasalnya, trauma berkepanjangan dapat menganggu kehidupan anak nantinya. Anak bisa saja kesulitan untuk kembali hidup normal.

2. Bagaimana gejala trauma?

2. Bagaimana gejala trauma
Freepik/Freepik

Ketika seorang anak mengalami peristiwa traumatis, ia akan terlihat terguncang dan seperti kehilangan arah. Mereka cemas sepanjang waktu hingga sulit untuk fokus. Gejala-gejala berikut juga bisa muncul:

  • Syok;
  • Insomnia atau sering bermimpi buruk;
  • Mudah kaget;
  • Denyut jantung meningkat;
  • Emosi anak tidak stabil. Ia mudah marah dan sensitif;
  • Anak menunjukan kecemasan dan ketakutan berlebihan
  • Anak merasa sedih dan putus asa

Selain itu, besar kemungkinan anak merasa bersalah, malu, dan menyalahkan diri sendiri sehingga ia menarik diri dari lingkungan sekitarnya.

3. Bagaimana penanganan trauma?

3. Bagaimana penanganan trauma
familynurture

Jika Mama melihat ciri-ciri trauma pada anak, cobalah untuk mengajaknya berbicara. Ajak anak untuk menceritakan ketakutan atau kecemasan yang ia rasakan. Berbagi akan mengurangi perasaan tertekan yang dialami anak.

Selain itu, Mama harus mendampingi anak hingga ia berhasil mengalahkan traumanya. Ajak anak untuk fokus pada kehidupannya saat ini. Ajak dia untuk makan teratur, berolahraga, dan melakukan aktivitas lain yang bisa mengalihkan perhatiannya.

Mama juga perlu memberikan dukungan emosional dan mendorong anak untuk berhenti menyalahkan dirinya sendiri.

Nah, tergantung tingkat keparahannya, trauma dapat menghilang sendiri hingga membutuhkan bantuan psikolog.

Jika trauma yang dialami anak cukup parah dan tidak menghilang setelah Mama melakukan hal-hal di atas, jangan ragu meminta bantuan profesional ya, Ma.

Editors' Picks

4. Apa itu fobia?

4. Apa itu fobia
Freepik/freephoto

Berbeda dengan trauma, fobia adalah sebuah gangguan kecemasan yang menimbulkan ketakutan berlebih terhadap suatu benda atau situasi tertentu, seperti pada ketinggian, ruang tertutup, ataupun suatu jenis hewan.

Umumnya, fobia muncul karena anak mengalami peristiwa traumatis terhadap situasi atau benda tertentu tersebut. Misalnya, anak pernah digigit kucing atau pernah terkunci di kamar mandi. Namun, fobia juga bisa timbul karena hal-hal berikut:

  • Faktor genetik;
  • Sebagai bagian dari insting anak;
  • Lingkungan sekitar yang terus-menerus menakuti anak;
  • Imajinasi anak;
  • Tertular fobia yang dimiliki orangtuanya.

5. Bagaimana gejala fobia?

5. Bagaimana gejala fobia
Freepik

Gejala fobia umumnya muncul ketika anak berinteraksi dengan benda atau situasi yang Ia takuti. Tergantung tingkat keparahannya, ada fobia yang hanya muncul ketika anak berinteraksi langsung, namun ada juga yang muncul bahkan ketika anak hanya membayangkannya.

Gejala fobia dapat dikenali sebagai berikut:

  • Pusing;
  • Mual;
  • Berkeringat;
  • Gemetar;
  • Denyut jantung meningkat;
  • Sesak napas;
  • Sakit perut atau mual.

6. Bagaimana penanganan fobia?

6. Bagaimana penanganan fobia
huffingtonpost

Fobia dapat ditangani dengan memberikan terapi pada anak. Anak dikenalkan dengan situasi atau benda yang ia takuti secara bertahap. Dengan hanya melihat gambarnya, lalu perlahan anak diajak menyentuh benda tersebut. Terapi ini didukung dengan mengubah mindset anak terhadap sumber ketakutannya.

Selain itu, ada juga obat-obatan yang mampu mengurangi gejala fobia dan mendorong produksi hormon agar suasana hati lebih terkendali. Namun, obat-obatan ini hanya boleh dikonsumsi sesuai resep dari profesional ya, Ma.

Supaya Mama lebih memahami penanganan fobia pada anak, baca juga Cara Mengatasi Fobia yang Dialami Anak ya. 

7. Trauma berkepanjangan bisa menjadi fobia

7. Trauma berkepanjangan bisa menjadi fobia
andreagurney
Ilustrasi

Trauma dan fobia memang berbeda satu sama lain, namun keduanya saling terkait. Jika tidak segera diatasi, trauma yang berkepanjangan bisa menjadi fobia, khususnya fobia sosial.

Oleh karena itu, segera lakukan penanganan jika Mama melihat gejala trauma pada anak ya, Ma. Pasalnya, kedua hal ini dapat mengganggu kehidupan anak dalam jangka panjang.

Itulah sedikit informasi tentang trauma dan fobia. Jangan disamakan lagi ya, Ma! Dengan mengenali perbedaan keduanya, Mama tentu bisa memberikan penanganan yang tepat ketika anak mengalaminya.

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!