- Membedong: Langkah pertama ini sangat penting untuk menenangkan bayi. Membedong bayi dengan erat akan membantunya merasa seperti masih berada di dalam rahim dan di "zona nyamannya".
- Posisi Miring atau tengkurap: Ini adalah posisi nyaman bayi. Tahukah Mama bahwa posisi ini mencegah bayi merasa seperti akan jatuh?
- Suara "desis": Suara keras ini membantu menenangkan bayi dengan meniru suara mendesis yang sangat familiar baginya di dalam rahim.
- Mengayun: Keheningan seringkali membuat bayi baru lahir gelisah, itulah mengapa mengayun sangat penting untuk membantu menenangkan bayi. Mengayun mungkin perlu dilakukan dengan kuat pada awalnya agar bayi berhenti menangis, tetapi dapat dikurangi menjadi gerakan yang lebih lembut untuk membantu menjaga bayi tetap tenang.
- Menyusui: Setelah bayi tenang dari langkah-langkah sebelumnya, saatnya untuk menyusui. Menyusu memicu refleks menenangkan bayi dan melepaskan zat kimia ke otak untuk memungkinkan relaksasi total.
Cara Mengatasi Bayi Rewel setelah Imunisasi DPT

- Menenangkan bayi setelah imunisasi dengan 5 S: Membedong, posisi miring, suara desis, mengayun, dan menyusui.
- Mengatasi demam setelah imunisasi DPT dengan kompres dingin atau hangat, gerakan kaki dan lengan, obat pereda nyeri non-aspirin, serta menjaga si kecil tetap terhidrasi.
- Menghubungi dokter jika bayi mengalami demam tinggi, tangisan berkepanjangan, kejang atau konvulsi, reaksi alergi, perubahan perilaku yang tidak normal bagi bayi.
Bayi dan anak-anak perlu mendapatkan imunisasi sesuai jadwalnya agar terhindar dari penyakit yang membahayakan jiwa. Salah satunya adalah imunisasi DPT.
Namun, bagi sebagian bayi, efek samping setelah imunisasi DPT mungkin akan membuatnya rewel dan merasa tidak nyaman. Sebagian bayi juga mengalami demam.
Meski efek samping itu normal, Mama tentu khawatir dan ingin meredakan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh si Kecil. Tapi apa yang harus Mama lakukan, ya?
Bagaimana cara mengatasi bayi rewel setelah imunisasi DPT? Bila si Kecil pun rewel setelah imunisasi, Mama bisa mencoba beberapa tips yang sudah dirangkum oleh Popmama.com pada ulasan berikut ini.
Kenapa Bayi Harus Mendapatkan Imunisasi DPT?

Bakteri penyebab penyakit difteri, pertusis, dan tetanus bisa masuk ke tubuh si Kecil dengan cara berbeda, misalnya melalui percikan air liur saat batuk atau bersin atau luka pada kulit.
Ketiga penyakit itu juga tergolong penyakit yang membahayakan kesehatan bayi. Oleh karena itu, pemerintah memasukkan imunisasi DPT sebagai salah satu imunisasi dasar lengkap yang wajib didapat oleh bayi.
Efek Samping yang Muncul setelah Imunisasi DPT

Ada beberapa efek samping yang bisa dirasakan si Kecil setelah imunisasi DPT, mulai dari demam, mudah rewel, nafsu makan berkurang, dan muncul ruam di area sekitar penyuntikan. Gejala-gejala tersebut masih dinilai wajar jika tidak terjadi dalam waktu lama.
Segera periksakan ke dokter apabila efek samping tersebut tidak kunjung reda atau semakin parah. Gejala yang perlu diwaspadai adalah bayi menangis tanpa henti selama tiga jam pasca imunisasi, demam tinggi lebih dari 40 derajat Celcius, dan kejang.
Cara Mengatasi Bayi Rewel setelah Imunisasi DPT

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics telah mengidentifikasi cara untuk membantu menenangkan bayi setelah menerima suntikan imunisasi, yang disebut 5 S:
Penelitian ini didasarkan pada buku Dr. Harvey Karp, The Happiest Baby on the Block, di mana ia mengajarkan orangtua untuk menggunakan 5 S untuk membantu memicu refleks menenangkan pada bayi yang mengalami kolik.
Apa yang Harus Dilakukan jika Bayi Demam setelah Imunisasi DPT?

Kompres dingin yang diaplikasikan setelah suntikan dapat membantu mengurangi rasa sakit atau pembengkakan, begitu pula dengan menggerakkan lengan atau kaki tempat suntikan diberikan. Jika ada kemerahan atau pembengkakan di tempat suntikan, Mama juga dapat meletakkan kompres hangat di area tersebut untuk meningkatkan aliran darah, yang dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan dan mempercepat penyembuhan.
Mama juga dapat menggerakkan kaki bayi seperti sedang mengayuh sepeda untuk membantu meredakan rasa sakit, atau mendorong balita untuk melakukan beberapa putaran gerakan kepala-bahu-lutut-jari kaki.
Obat pereda nyeri non-aspirin seperti asetaminofen (usia 3 bulan ke atas) atau ibuprofen (usia 6 bulan ke atas) dapat membantu mengatasi rasa sakit yang tersisa dan demam ringan, jadi tanyakan kepada dokter tentang hal itu sebelum Mama meninggalkan klinik, puskesmas, atau rumah sakit. Menjaga si kecil tetap terhidrasi dan mengenakan pakaian ringan juga dapat membantu.
Kapan Harus Menghubungi Dokter bila Efek Samping Vaksin Membuat Khawatir?

Meskipun efek samping vaksin yang parah jarang terjadi, Mama harus segera menghubungi dokter anak jika mengalami salah satu reaksi atau gejala berikut dalam 2 hari setelah mendapatkan suntikan:
- Demam tinggi (38 derajat Celsius atau lebih tinggi untuk bayi di bawah 3 bulan dan 38,6 derajat Celsius atau lebih tinggi untuk bayi 3 bulan ke atas)
- Menangis selama lebih dari 3 jam berturut-turut (jangan disamakan dengan kolik) atau tangisan bernada tinggi yang berlangsung lebih dari 1 jam
- Kejang atau konvulsi — yang mungkin terkait dengan demam yang sangat tinggi
- Kejang yang parah dan terus-menerus atau perubahan kesadaran yang signifikan
- Lesu, tidak responsif, atau sangat mengantuk
- Reaksi alergi seperti pembengkakan mulut, wajah, atau tenggorokan; kesulitan bernapas; atau ruam — yang memerlukan perhatian medis segera
- Perubahan perilaku — apa pun yang tidak normal bagi bayi memerlukan panggilan ke dokter anak untuk berjaga-jaga
Meskipun efek samping ini mungkin tidak terkait dengan vaksin dan bisa jadi merupakan tanda-tanda penyakit lain, segera hubungi dokter jika bayi mengalami gejala yang lebih serius ini (atau gejala lain yang tidak tercantum dalam daftar).
Itu beberapa tips tentang cara mengatasi bayi rewel setelah imunisasi DPT. Apa yang Mama lakukan untuk membuat bayi nyaman setelah imunisasi?


















